Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara

1
2
3
1

Kartika Jahja

2

Rahmadiyah Tria G

3

Lily Yulianti Farid

Dari tahun ke tahun, angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Sementara, Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) hingga kini tak juga disahkan. Semua sektor, termasuk seni, belum menjadi ruang aman bagi perempuan. Di tengah kondisi mendesak ini, sejumlah perempuan anggota Koalisi Seni bergerak mengupayakan kesetaraan bagi perempuan melalui musik, sastra, dan kolektif seni. Tiga di antaranya adalah Kartika Jahja (Jakarta), Lily Yulianti Farid (Makassar), dan Rahmadiyah Tria Gayathri (Palu).

“Memang tidak semua ya, tapi ini kerap saya alami. Padahal mestinya sebagai penulis dan seniman, mereka ini yang harus menunjukkan sikap tidak seksis,” ucap Lily.

Menurut mantan jurnalis yang mengambil studi master bidang Gender and Development ini, masih banyak pekerjaan rumah pegiat sastra untuk menciptakan eksosistem yang setara. Masih minimnya pelatihan penulisan dan penerjemahan karya perempuan, menurut Lily, adalah beberapa penyebab yang membuat kapasitas dan kesempatan perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki penulis. Selain itu, belum memadainya pendataan gender dalam penerbitan dan acara sastra membuat ketimpangan ini seringkali tak terlihat dan teratasi.

Identifikasi atas ketimpangan gender yang ia amati mendorong Lily menerapkan prinsip keberagaman gender dalam MIWF. Dengan itu, gagasan sastra yang muncul menjadi lebih beragam dan mewakili aneka sudut pandang. Bahkan dalam program Lintas Laut, Lily mengupayakan residensi khusus untuk perempuan penulis asal Indonesia Timur dan Australia Barat, bekerja sama dengan Centre for Stories, Perth.

“Kesadaran akan kesetaraan dan keterwakilan perempuan menjadi prinsip kerja kami. Relawan MIWF pun 80 persen perempuan. Ini pemihakan yang jelas,” tuturnya.