Tidore adalah satu dari sekian banyak kota kecil di Indonesia yang pernah atau masih menerapkan seksisme dalam budaya leluhurnya. Tidore tidak akan pernah lepas dari salai jin, boso kene, dan ritual obor di hari ulang tahunnya setiap tanggal 12 April. Kegiatan ini terus menerus dilakukan sebagai simbol menghormati para leluhur dan menjaga anak-cucu ketika harus merantau ke kota seberang.

Adat dan budaya yang diwariskan dari zaman Sultan Nuku hingga saat ini berhasil dijaga keasliannya, meski bila ditelaah lagi ada beberapa budaya atau kebiasaan yang justru menyudutkan peran dan kehadiran wanita. Salah satunya adalah ritual gata-gata, yang semoga saja sudah berhenti dilakukan puluhan tahun lalu.

Gata-gata dalam Bahasa Indonesia adalah sepit. Sebuah alat yang digunakan untuk menjepit, dapat direnggangkan dan dijepitkan. Gata-gata di Tidore selalu terbuat dari bambu muda yang bagian ujungnya dibuat meruncing. Zaman dulu, setiap rumah di Tidore selalu memiliki tungku kayu bakar di bagian belakang dapur. Biasanya gata-gata akan digantungkan di dekat tungku, semakin gelap warna gata-gata, semakin tua pula umurnya berada di dapur.

Ritual gata-gata biasanya dimulai ketika seorang perempuan mengalami haid pertama kali. Alasan para ibu zaman dulu ketika mengambil keputusan menjalankan ritual gata-gata pada anak perempuan mereka adalah agar laki-laki tidak tergoda. Caranya sederhana. Gata-gata bambu akan dipanaskan di sekitar api tungku lalu ditekan ke payudara anak perempuan selama beberapa menit. Meski terdengar cepat dan ringkas, proses ini begitu menyakitkan. Payudara yang belum tumbuh belum memiliki bantalan lemak yang cukup tebal untuk melindungi saraf dan otot di baliknya. Dan ini adalah tujuan utama ritual gata-gata. Menghambat pertumbuhan payudara agar laki-laki tidak tergoda.

Tidak ada yang menyangkal atau bahkan protes terhadap ritual ini. Karena terima atau tidak terima, ritual ini secara tidak langsung menyelamatkan para gadis zaman dulu dari gerayangan laki-laki. Meski begitu, tetap saja ini bentuk pencegahan satu arah yang belum disadari hingga ini. Berapa banyak anak perempuan yang harus tersiksa melewati proses ritual gata-gata agar laki-laki bisa diselamatkan dari kemaluannya?

_

Wika lahir di Tidore tiga tahun sebelum Kerusuhan Agama menjalar dari Ambon. Tahun 2011 dia pindah ke Sorong, Papua Barat, untuk menyelesaikan Pendidikan SMA selama tiga tahun. Selain hobi bercerita, Wika juga memulai hobinya di bidang menulis cerpen sejak lulus SMP hingga saat ini. Beberapa cerpennya pernah tayang di media cetak daring dan luring. Kumpulan cerpen pertamanya yang berjudul “Untuk Wanita yang Kepadanya Rembulan Mengiba” telah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo tahun 2019. Saat ini Wika menetap sementara di Yogyakarta sambil menunggu keberangkatannya keluar negeri untuk melanjutkan studi. Wika dapat dikontak melalui wikagwulandari@gmail.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *