(English Version Below)

Kerangka Kuratorial

Jauh sebelum Mario F Lawi, Felix K Nesi, atau nama-nama-nama lain dikenal sebagai sastrawan Indonesia dari NTT, Flores-NTT telah dikenal memiliki sastrawan, kritikus sastra, ahli tata bahasa, dan peneliti sosial-politik seperti Dami N Toda, Ignas Kleden, Gerson Poyk, Gorys Keraf, Daniel Dhakidae, Jos Daniel Parera, John Dami Mukese, dan Maria Mathildis Banda.

Namun, jauhnya jarak antara generasi tersebut, di antara pelbagai faktor lainnya, posisi Flores-NTT dalam peta sastra Indonesia seperti samar. Daerah ini sering luput dari percakapan sebagai daerah yang juga memproduksi karya sastra Indonesia – dengan dinamika dan sejarahnya sendiri.

Hampir seabad lalu, 21 Juni 1926, Sende Au yang berarti ‘utuslah’, sebuah buku doa berbahasa melayu pertama dicetak oleh percetakan Arnoldus yang dimiliki Serikat Sabda Allah (SVD) di Ende. Peristiwa ini adalah salah satu tonggak penting dalam perkembangan literasi tulis di NTT. Dengan mesin yang didatangkan dari Jerman, pulau ini akhirnya bisa mencetak buku-bukunya sendiri. Di kemudian hari, tahun 1970, percetakan Arnoldus melahirkan Penerbit Nusa Indah, salah satu penerbit yang pernah kondang di Indonesia. Tidak berhenti di situ, tahun 1973, di tahun yang sama berdirinya majalah Bobo, majalah bulanan anak-anak, Kunang-Kunang didirikan.

Dari penerbit Nusa Indah lahir buku-buku seperti Novel dan Film (1992) karya Pamusuk Erneste, Jejak Langkah Sastra Indonesia (1984) dan Aliran Jenis Cerita Pendek (1995) karya Korrie Rayun Lampan, kumpulan cerpen Pengalaman Pertama Seorang Guru (1984) karya Jiwa Atmaja, Cerita Rekaan dan Seluk-Beluknya (1994) karya Frans Mido, dan banyak buku sastra lainnya.

Surutnya produksi dan pamor penerbit Nusa Indah di dunia perbukuan dan sastra Indonesia di masa kini berbanding terbalik dengan munculnya para penulis dari NTT. Saat ini, ada cukup banyak generasi baru pengarang dari NTT. Karya-karya mereka diterima dan dibaca publik sastra Indonesia.

Pemilihan tema Ludung Wa Mai Tanan ‘Bertunas dari Bawah Tanahnya’ adalah alegori perkembangan sastra di NTT. Tanah dapat dibaca dalam arti jamak: sebagai identitas, sumber, konteks, dan, bila perlu, menjadi hal yang diproblematisasikan dalam kerja kreatif sebagaimana tampak dalam karya-karya pengarang dari NTT belakangan ini.

Sebagai misal, dominannya citraan penglihatan dalam karya Mario F Lawi, dalam resepsi umum, barangkali dipandang terbatas sebagai gejala wajar dalam puisi Indonesia. Namun, jika dibaca dengan mengaitkannya sejarah dan tradisi gereja, citraan penglihatan itu berakar pada konsep “kesaksian” tradisi Kristiani. “Kesaksian” adalah wajah lain dari Alkitab. Karena, perhitungan mutu kerja kreatif citraan Mario F Lawi itu perlu dinilai dari segi pragmatik (efek kepada audiens), yaitu sejauh mana citraan itu memunculkan gambar baru atas hal yang sudah familiar dalam benak pembaca Alkitab – sesuatu yang mungkin susah dalam konteks (sastra) Indonesia.

Contoh lain perlunya melihat pengaruh “tanah” (sebagai asal) dalam kerja kreatif juga bisa dilihat dalam Orang-orang Oetimu karya Felix K Nesi. Penyajian cerita yang cepat, 10 kejadian tidak biasa dalam satu bab novel, barangkali hal segar dalam tata bentuk novel Indonesia, tetapi hal biasa dalam tuturan atau kebiasaan orang NTT umumnya bercerita secara lisan.

Artinya, pengaruh lokalitas dalam karya yang dihasilkan karya sastra pengarang dari NTT juga berkontribusi pada sastra Indonesia bukan hanya pada level kosakata, tetapi pada pendayagunaan sarana sastra (literary device) lainnya, dengan cara yang tidak persis sama dengan tempat-tempat lain di Indonesia.

Flores Writers Festival diharapkan menjadi ruang bagi penulis-penulis NTT untuk membicarakan perkembangan sastra di NTT beserta siasat kreatif mereka berhadapan dengan soal “tanah” dan apa yang sudah, sedang, dan akan bertunas dari dalamnya.

Ludung Wa Mai Tanan

Diselenggarakan oleh Klub Buku Petra dengan dukungan Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo, Flores, Flores Writers Festival akan digelar di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tema Ludung Wa Mai Tanan, dipilih karena juga memiliki kaitan yang erat dengan 𝒈𝒐’𝒆𝒕 atau pepatah orang Manggarai, 𝑹𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏𝒈 𝑾𝒂 𝑴𝒂𝒊 𝑻𝒂𝒏𝒂𝒏, 𝑳𝒖𝒅𝒖𝒏𝒈 𝑾𝒂 𝑴𝒂𝒊 𝑷𝒖’𝒖𝒏. Ibarat sebuah pohon, untuk dapat hidup kita harus terus bertunas dan berakar dari dalam tanah dan tumbuh di atas tanah. Pepatah ini menggambarkan pentingnya hidup selaras dan serasi dengan alam. Melalui aktivitas-aktivitas kesusastraan dan literasi, kesenian, serta kebudayaan, festival yang rencananya akan digelar pada bulan Agustus mendatang, diharapkan mampu menjadi ruang untuk berdialog, berbagi, dan berefleksi demi meningkatkan kecintaan serta kreativitas dalam kerja-kerja pemajuan literasi budaya, terutama membaca, menulis, berdiskusi, menerbitkan karya-karya, dan penciptaan kesenian.

Flores Writers Festival akan berlangsung selama tiga hari di Kota Ruteng, pada bulan Agustus 2021, menghadirkan Para Penulis, Pembaca, dan Seniman, baik dari Nusa Tenggara Timur, maupun dari luar NTT. Festival ini akan diisi dengan berbagai program menarik, antara lain; Sayembara Pembaca NTT, Residensi Seniman, Seminar dan Bincang Tematik, serta berbagai Pertunjukan.(*)

___

Curatorial Framework

Long before Mario F Lawi, Felix K Nesi, or other names were known as Indonesian writers from NTT, Flores-NTT was known to have writers, literary critics, grammar experts, and socio-political researchers such as Dami N Toda, Ignas Kleden, Gerson Poyk, Gorys Keraf, Daniel Dhakidae, Jos Daniel Parera, John Dami Mukese, and Maria Mathildis Banda.

However, given the great distance between these generations, among other factors, the position of Flores-NTT on the map of Indonesian literature appears more indistinct. This area is often overlooked as an area that also produces Indonesian literary works – with its own dynamics and history.

Almost a century ago, June 21, 1926, Sende Au which means ‘messenger’, became the first Malay language prayer book printed by the Arnoldus printery owned by the United Word of God (SVD) in Ende. This event is one of the important milestones in the development of written literacy in NTT. With machines imported from Germany, the island was finally able to print its own books. Later, in 1970, Arnoldus printing house gave birth to Nusa Indah Publisher, one of the most famous publishers in Indonesia. It didn’t stop there, in 1973, the same year Bobo magazine was founded, a children’s monthly magazine, Kunang-Kunang was founded.

From the publisher Nusa Indah, were born books such as Novels and Films (1992) by Pamusuk Erneste, Steps in Indonesian Literature (1984) and Streams of Short Stories (1995) by Korrie Rayun Lampan, a collection of short stories The First Experience of a Guru (1984) by Jiwa Atmaja, Fiction Stories and Their Intricacies (1994) by Frans Mido, and many other literary books.

The decline in the production and prestige of the publisher Nusa Indah in the world of books and Indonesian literature today is inversely proportional to the emergence of writers from NTT. Currently, there are quite a few new generations of writers from NTT. Their works are accepted and read by the Indonesian literary public.

The choice of Ludung Wa Mai Tanan’s theme ‘Sprouting from the Underground’ is an allegory of literary developments in NTT. Land can be understood in a plural sense: as an identity, a source, a context, and, if necessary, a problem in creative work, as seen in the recent works of writers from NTT.

For example, the dominance of visual images in Mario F Lawi’s works, may be seen as limited as a natural phenomenon in Indonesian poetry. However, if you read it by relating it to history and church tradition, the visionary image is rooted in the concept of “witnessing” the Christian tradition. “Testimony” is another face of the Bible. Because, calculating the quality of the creative work of a writer like Mario F Lawi and his imagery needs to be assessed in terms of pragmatics (effect to the audience), namely the extent to which the imagery creates new images of things that are already familiar in the minds of Bible readers – something that may be difficult in the Indonesian (literary) context .

Another example of the need to look at the influence of “land” (as origin) in creative work can also be seen in Felix K Nesi’s The People of Oetimu. The rapid presentation of the story, 10 unusual events in one novel chapter, may be fresh things in Indonesian novels, but common things in the speech or habits of NTT people, who generally tell stories orally.

That is, the influence of locality in the works produced by literary works by writers from NTT also contributes to Indonesian literature not only at the vocabulary level, but to the utilization of other literary devices, in a way that is not exactly the same as in other places in Indonesia.

The Flores Writers Festival is expected to be a space for NTT writers to discuss the development of literature in NTT and their creative tactics in dealing with the issue of “land” and what has been, is, and will sprout from it.

Ludung Wa Mai Tanan

Organized by the Petra Book Club with the support of the Tourism Authority of Labuan Bajo, Flores, the Flores Writers Festival will be held in Ruteng, Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province. The theme of Ludung Wa Mai Tanan was chosen because it also has a close relationship with 𝒈𝒐’et or the proverb of the Manggarai people, 𝑴𝒂𝒊 , 𝑴𝒂𝒊 ‘𝑷𝒖. This roughly means, like a tree, to be able to live, we must continue to sprout and take root from the ground and grow above the ground. This proverb illustrates the importance of living in harmony with nature. Through literary and literacy activities, arts, and culture, the festival, which is planned to be held in August, is expected to be a space for dialogue, sharing, and reflection in order to increase love and creativity in works to promote cultural literacy, especially reading, writing, discussing, publishing works, and creating art.

The Flores Writers Festival will take place for three days in Ruteng City, in August 2021, presenting Writers, Readers, and Artists, both from East Nusa Tenggara, and from outside NTT. This festival will be filled with various interesting programs, including; NTT Readers Competition, Artists Residency, Thematic Seminars and Talks, as well as various Performances.(*)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *