Film dan pengalaman sinema terbentang dari kesenangan menonton film. Para pembuat film yang berasal dari komunitas tumbuh bersama kecintaannya terhadap film. Bagi kawan-kawan komunitas film, memproduksi film ialah menciptakan narasi-narasi alternatif tentang apa yang sesungguhnya mereka rasakan selama ini, tentu dengan segala keterbatasannya.

Percakapan pertama, berlangsung dengan IAM Murda dari Indonesia Art Movement, “Kami memang punya banyak keterbatasan, selain SDM, misalnya artspace itu belum ada. Bioskop ada, Cuma ruang-ruang alternatif kami sedang  mengupayakan dari Indonesia Art Movement”. Ia juga menjadikan film sebagai cara untuk bercerita kepada lingkungan sekitarnya,

“Kalau di pelosok (Jayapura), kita cerita di Jakarta macet, mereka tidak faham. Melalui film, kita bisa menunjukkan bahwa macet itu seperti apa.” Harapannya ialah “Film di Papua bisa memanusiakan manusia lagi”.

Percakapan kedua, bersama Manuel Alberto Maia dari Komunitas Film Kupang. Abe menyatakan, ““Dalam lingkup NTT, kita belum sampai pada tahap bahwa mendistribusikan yang biasa kita  lakukan misalnya lewat platform online. Karena memang akses kita terhadap itu juga masih terbatas, jadi kita masih mikir untuk bikin layar tancap, bikin festival, ataupun tukar-tukaran film dengan teman-teman di daerah lain, selain festival. Masih dengan pendekatan itu“

Berbagai upaya dilakukan oleh teman-teman komunitas untuk menjaga nafas produksinya, biasanya untuk menyambung nafas para pembuat film ialah dengan mengerjakan dokumentasi pernikahan. “karena salah satu pendekatan supaya komunitas ini tetap hidup adalah kita memang cari kerjaan baik secara komunitas, trus berapa persen dari kerjaan itu kasi komunitas , trus nanti akan mutar lagi untuk bikin workshop dll, jadi memang itu jalan sepi untuk saat ini”

Percakapan ketiga bersama Yulika Anastasia, yang sangat antusias bicara tentang Papua dari tidak dari perspektif media, padahal… “ada wajah-wajah lain yang patut mendapatkan publikasi karena dari pengalaman saya ketika berbicara Papua ke teman-teman yang ada di luar mungkin akan sangat sulit membayangkan geografis Papua itu seperti apa, terus apa saja yang ada di Papua, situasi yang misalnya ada di kampung-kampung, budayanya, kearifan lokalnya, atau misalnya keindahan alamnya. Bagian-bagian ini yang kami di IMAJI PAPUA ingin berkontribusi untuk membangun narasi Papua setidaknya bukan dari yang digambarkan oleh media-media mainstream selama ini, karena itu kami cukup banyak melakukan riset atau justru masuk ke kampung-kampung untuk membuat catatan-catatan, atau membangun interaksi, mencari/belajar lebih banyak karena di sini sangat kaya sekali. Ada 200 bahasa tentu dengan keunikannya masing-masing-masing.”.

Hal positif yang mereka dapatkan dari pandemi adalah banyaknya peluang belajar tentang film yang dilakukan secara daring, namun tentu saja mereka mengharapkan interaksi secara langsung dikarenakan faktor internet di Jayapura bisa dibilang masih kurang stabil.

Percakapan ke-empat bersama Theo Rumansara, menyatakan bahwa program-program sayembara dan pemberian grant menjadi salah satu yang diminati para komunitas. Mereka terlibat untuk memperluas jejaring sesama filmmaker, dan mendapatkan dana produksi atas cerita-cerita yang sementara dalam proses pengembangan. Workshop di daerah yang mengundang para mentor dari luar daerah memungkin para komunitas untuk berkolaborasi dan diproduksi oleh rumah produksi yang berbasis di Yogyakarta, seperti model kerja sama Matta Cinema – Jendela Papua – Theo Rumansara

Selain dari workshop, para anggota komunitas juga seringkali belajar dari keikutsertaan mereka untuk magang dalam produksi-produksi besar yang dikerjakan di daerahnya.

Percakapan ke-lima bersama Sarah Adilah dan Yuli Andari, bicara tentang pentingnya pulang ke daerah masing-masing sebagai bakti kepada lingkungan untuk bisa tumbuh bottom-up. Mereka merasa punya privilege melanjutkan sekolah di luar daerah masing-masing yakni Palu dan Sumbawa, tetapi mereka memilih pulang dan membangun komunitas bersama teman-temannya. Tantangan yang dihadapi oleh kawan-kawan di Palu dan Sumbawa adalah sumberdaya dan siasat-siasat yang dapat dilakukan untuk membiayai film mereka secara independen.

Percakapan ke-enam bersama Khozy Rizal yang menceritakan bagaimana mulanya ia menjadi filmmaker serta perspektifnya melihat ekosistem perfilman saat ini di Makassar. Menurutnya, potensi film di Makassar sangat besar untuk berkembang. Minimnya produser menjadi salah satu pemicu alasan pertumbuhan ekosistem di Makassar yang tidak terlalu signifikan. Film-film pendek beragam genre yang diproduksi di Makassar, juga sangat memperkaya pengalaman visual baik bagi para pembuat film maupun para penontonnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah berkolaborasi dengan para filmmaker di luar daerah untuk saling bahu-membahu, berkolaborasi untuk memproduksi film bersama. Upaya itu menjadi siasat untuk terus bertahan secara independen membuat film.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *