Kurang Kreatif merupakan sebuah wadah kolektif anak muda yang didirikan pada medio 2019 dan mengerjakan seluruh aktivitasnya dari jantung pulau Sulawesi, sebuah kota kecil yang lekat dengan ingatan tentang konflik masa lalu: Kota Poso.

Sejak 2012 sebagian besar yang menginisiasi kolektif ini sebetulnya sudah lebih dulu terlibat langsung dalam skena musik independen Poso Noise Territory. Perjalanan tujuh tahun di skena dengan segala dinamikanya itu memaksa kami terus melakukan evaluasi untuk kemudian menyadari banyak kondisi yang perlahan berubah dan membutuhkan perhatian serius.

Sebuah persoalan yang cukup memprihatinkan di antaranya semakin kurangnya aktivitas ‘kreatif’ di kota kecil kami. Belum lagi persoalan ekosistem, regenerasi pelaku dan minimnya ruang untuk membangun gagasan bersama. Aktivitas-aktivitas yang dulunya hidup dan dimotori beragam komunitas anak muda di Poso, pelan tapi pasti mulai mengalami keadaan yang mencemaskan.

Kurang Kreatif lahir dan tumbuh dari keresahan-keresahan tersebut. Dengan niatan kecil untuk menyediakan ruang apresiasi bagi para pelaku kreatif dan menumbuhkan kembali semangat untuk berkumpul, berjejaring, membangun gagasan bersama dan mendorong kerja kolektif. Di tengah hiruk pikuk anak muda dan kota kecil dengan jumlah penduduk yang tidak begitu banyak.

Fokus kerja Kurang Kreatif sendiri adalah pengembangan ekosistem kesenian dan aktivitas/industri kreatif yang menarget anak muda di Poso sebagai subjek utama.

Sejauh ini Kurang Kreatif telah menjalankan berbagai program yaitu Kreasi Akhir Pekan, #Berkabar, Kritik Asik, KK Show, dan Bunyi Daring. Selain itu Kurang Kreatif juga memiliki kegiatan tahunan Baku Dapa. Diangkat dari bahasa lokal yang berarti “bertemu”. Sebuah mini festival yang memiliki misi menyediakan ruang berkumpul, berjejaring dan membangun gagasan bersama bagi seluruh pelaku, penikmat dan komunitas kreatif yang ada di Kota Poso.

Profile Penulis:

Zuldhan Aidil, lahir di Desa Malei, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Masih menduduki bangku kelas 11 SMA dan menjadi salah satu tim divisi media di Kurang Kreatif. Aktif menulis di platform media sosial instagram yaitu: @bergumam.media, @ren.ja.namu, dan juga di @tana_poso. Dibantu oleh Ardianto Englen, kelahiran Gorontalo, sejak berusia 2 tahun sudah tinggal dan menetap di Kota Poso. Turut terlibat dalam berbagai kerja sosial dengan fokus isu lingkungan, pendidikan dan HAM.

__

Less Creative: Art Collective in Poso City

By Zuldhan Aidil

Less Creative is a collective forum for young people that was founded in mid 2019 and carries out all of its activities from the heart of the island of Sulawesi, a small town that is closely related to memories of past conflicts: Poso City.

Since 2012, most of those who initiated this collective have actually been directly involved in the Poso Noise Territory independent music scene. The journey of seven years in this music scene with all its dynamics forced us to continue to evaluate and then realize that many conditions were slowly changing and required serious attention.

One problem that is quite concerning is the lack of ‘creative’ activities in our small town. Not to mention the problem of ecosystems, regeneration of creative actors and the lack of space to build shared ideas. The activities that used to live and be driven by various youth communities in Poso, slowly but surely began to experience anxiety.

Less Creative was born from and grew out of these anxieties. With a small intention to provide a space of appreciation for creative actors and regenerate the spirit to gather, network, build shared ideas and encourage collective artistic work. In the midst of the bustle of young people in a small town with a population that is not so high.

The focus of the work of Less Creative itself is the development of the arts ecosystem and creative activities/industry, targeting young people in Poso as the main subjects.

So far, Less Creative has run various programs, namely Creative Weekend , #Berkabar, Asik Criticism, KK Show, and Online Sound. In addition, Less Creative also has an annual Baku Dapa Meeting activity, taken from the local language, Baku Dapa means “to meet”. It’s a mini festival whose mission is to provide a gathering space, network and to build shared ideas for all actors, connoisseurs and creative communities in Poso City.

About the writer:

Zuldhan Aidil was born in Malei Village, Poso Regency, Central Sulawesi. Still in the 11th grade of high school, he is a member of the media team at Less Creative. He actively writes on Instagram’s, namely through @bergumam.media, @ren.ja.namu, and also @tana_poso. The

article was assisted by Ardianto Englen, born in Gorontalo. Since he was 2 years old, he has lived in Poso City. Also involved in various social work initiatives with a focus on environmental issues, education and human rights.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *