Oleh: Abdussalam Syukri

Seri Webinar Nasional yang bertajuk “Bersama Menciptakan Kampus yang Aman dari Kekerasan Seksual” diselenggarakan oleh The Body Shop yang berkolaborasi dengan Makassar International Writers Festival (MIWF). Seri Webinar Nasional kali ini diselenggarakan melalui media zoom mengingat bahwa kondisi dunia khususnya Indonesia yang saat ini masih berkutat pada situasi pandemi Covid-19. Seri Webinar Nasional ini disiarkan dari 8 kota berbeda di Indonesia selama 16 hari dalam rangka mengambil bagian dari Gerakan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang dimulai pada tanggal 25 November 2021. Jambi, Palembang, Banten, Bali, Makassar, Kupang, Ambon, dan Jayapura adalah 8 kota yang terpilih menyiarkan webinar ini.

Indonesia bebas dari kekerasan seksual menjadi tujuan yang digaungkan  dari Seri Webinar Nasional ini. Dalam setiap sesi opening sebelum masuk ke dalam sesi seminar, Hannah Al Rashid, seorang aktris dan aktivis perempuan, tampil menyampaikan pesan tentang betapa pentingnya menciptakan ruang yang aman bagi diri kita sendiri dari aksi kekerasan seksual yang sewaktu-waktu bisa mengintai siapa saja dan di mana saja. “Selama hukum masih lemah, dirimu adalah senjata terbaik. Ciptakan ruang aman untuk dirimu sendiri dengan NO! GO! TELL!”, ujar perempuan yang pernah membintangi film “Jailangkung” ini. 

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu venue disiarkannya Seri Webinar Nasional ini. Webinar Nasional ini diselengarakan pada tanggal 01 Desember 2021 yang disiarkan langsung dari Lobby Pascasarjana IAKN Kupang. Webinar Nasional ini dihadiri oleh beberapa Narasumber seperti Kalis Mardiasih, penulis buku ‘Muslimah yang Diperdebatkan’, Libby Sinalaloe, Direktur Rumah Perempuan, MKP Abdi Keraf, psikolog, dan juga Katarina Kewa Sabon Lamablawa, aktivis dan Mitra Muda UNICEF.

Pada awal acara, penonton disuguhi oleh pembacaan puisi yang diiringi oleh alunan Sasando, alat musik tradisional Nusa Tenggara Timur. Webinar berjalan lancar ditambah oleh penjelasan dari para Narasumber yang cukup jelas untuk dipahami.

Mbak Kalis, sapaan Kalis Mardiasih, mengangkat isu tentang mengapa kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi seperti kasus di Universitas Riau. “Kita tahu bahwa penyebab kekerasan seksual itu adalah timpangnya relasi kuasa antara pelaku dengan korbannya. Biasanya dilakukan oleh orang yang punya kuasa. Karena orang yang punya kuasa ini merasa bisa membuat korbannya tidak berdaya..” ujar Mbak Kalis menanggapi kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di perguruan tinggi akhir-akhir ini.

Selain itu, Katarina, sapaan dari Katarina Kewa Sabon Lamablawa, mengungkapkan salah satu stigma negatif yang ada di Kota Kupang. “Mahasiswi kalau naik bemo di kota Kupang, itu tidak bisa duduk di depan sama dengan supir” ujar Katarina. “Dalam tanda kutip kayak ‘Sorong Diri’ ke supir” lanjut Katarina. Katarina mengkritisi anggapan masyarakat yang masih banyak menganggap terjadinya kekerasan seksual akibat ‘pancingan’ dari perempuan itu sendiri.

Universitas Cendrawasih di Kota Jayapura, Papua, juga menjadi salah satu venue diselenggarakannya Webinar Nasional ini. “Torang Bisa Lawan Kekerasan Seksual di Kampus” menjadi tema dalam Webinar Nasional yang disiarkan dari Kota Jayapura.

Rostini Anwar, Dosen Komunikasi dan Peneliti Ilmu Sosial & Literasi FISIP Universitas Cendrawasih dan juga Fajrin Violita, Dosen dan Peneliti FKM Universitas Cendrawasih, adalah dua Narasumber yang memberi materi dalam Webinar Nasional ini.

Kak Ros, sapaan akrab Rostini Anwar, menutup pemaparan materinya dengan tegas. “Paradigma kampus harus diubah. Kampus yang baik, yang menjaga nama baiknya itu bukan kampus yang menutupi dan membiarkan predator seksual berkedok akademisi melancarkan aksi kekerasan seksualnya tetapi yang menanggapiya dengan serius dan mau menegakkan keadilan.” Tegas Kak Ros. “Penerapan Permendikbud No. 30. Tahun 2021 di Lingkungan Kampus di Papua, darurat untuk segera diimplementasikan.” Tutup Kak Ros.

Fajrin Violita, sebagai Narasumber kedua dalam Webinar Nasional ini mengajak semua orang untuk peduli agar semua terlindungi dari kekerasan seksual. “Ini betul sekali ya, ‘Semua Peduli, Semua Terlindungi’, kalau semuanya peduli kita bisa saling melindungi. Kalian harus menjadi agen of change untuk menciptakan kampus yang aman dari kekerasan seksual.”

***

STOP SEXUAL VIOLENCE WITH: NO! GO! TELL!

By: Abdussalam Syukri

The National Webinar Series entitled “Creating a Campus Safe from Sexual Violence Together” was organized by The Body Shop in collaboration with the Makassar International Writers Festival (MIWF). The National Webinar Series this time was held through the media zoom given that the world, especially Indonesia, is currently still struggling with the Covid-19 pandemic. This National Webinar series was broadcast from 8 different cities in Indonesia for 16 days in order to take part in the 16 Days of Anti-Violence Against Women Movement starting on November 25, 2021. Jambi, Palembang, Banten, Bali, Makassar, Kupang, Ambon, and Jayapura were the 8 cities selected to host these webinars.

An Indonesia free from sexual violence is the stated goal of this National Webinar Series. In each opening session before entering the seminar session, Hannah Al Rashid, an actress and women’s activist, appeared to convey a message about how important it is to create a safe space for ourselves from acts of sexual violence that can happen to anyone, anywhere and at any time. “As long as the law is weak, you are the best weapon. Create a safe space for yourself with the  “NO! GO! TELL!” mantra, said the woman who had starred in the film “Jailangkung”.

The State Christian Institute of Religion (IAKN) in Kupang City, East Nusa Tenggara (NTT) is one of the venues for the broadcast of this National Webinar Series. This National Webinar will be held on December 1, 2021, which was broadcast live from the IAKN Kupang Postgraduate Lobby. This National Webinar was attended by several panel members such as Kalis Mardiasih, author of the book ‘Muslimah in Dispute’, Libby Sinalaloe, Director of Rumah Perempuan (Women’s House), psychologist MKP Abdi Keraf, and also Katarina Kewa Sabon Lamablawa, activist and UNICEF Youth Partner.

At the start of the event, attendees were welcomed with a reading of poetry which was accompanied by the melody of Sasando, a traditional musical instrument from East Nusa Tenggara. The webinar ran smoothly, aided by explanations of the panel members which were easy to understand. Kalis Mardiasih raised the issue of why sexual violence occurs in universities such as the case at the University of Riau. “We know that the cause of sexual violence is the unequal power relationship between the perpetrator and the victim. Usually these acts are committed  by people who have power because people who have this power feel that they can make their victims helpless,” said Mbak Kalis, in response to cases of sexual violence that have been rife in universities recently.

In addition, Katarina Kewa Sabon Lamablawa, revealed one of the negative stigmas that exist in the City of Kupang. “Students, if they take a bemo in Kupang, they can’t sit in the front with the driver,” said Katarina. “Or, in inverted commas ‘Push themselves’ on the driver,” continued Katarina. Katarina criticizes the perception that many people still think that sexual violence is the result of women’s own ‘advances’.

Cendrawasih University in Jayapura City, Papua, was also one of the venues for this National Webinar. “People Can Fight Sexual Violence on Campus” became the theme of the National Webinar broadcast from Jayapura City.

Rostini Anwar, Lecturer of Communication and Researcher of Social Sciences & Literacy at Cendrawasih University and Fajrin Violita, Lecturer and Researcher of FKM at Cendrawasih University, were the two panel members for this National Webinar.

Kak Ros, Rostini Anwar’s nickname, closed his presentation firmly: “The campus paradigm must be changed. A good campus that maintains its good name is not one that covers up and allows sexual predators under the guise of academics to carry out sexual violence, but one that takes the issue seriously and wants to uphold justice.” Brother Ros said firmly. “The application of Education Ministry’s Regulation No. 30 on the Campus Environment in Papua, must be implemented immediately,” closed Kak Ros.

Fajrin Violita, as the second panel member in this National Webinar invited everyone to care so that all people are protected from sexual violence. “This is very true, ‘Everyone Cares, Everyone is Protected’, if everyone cares we can protect each other. You have to be agents of change to create a campus that is safe from sexual violence.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.