Oleh: Ais Nurbiyah Al-Jumah

Jangan mi ke mana-mana kalau tidak ada urusan yang penting.” Begitu ungkapan orang tua yang sering didengarkan kepada anak, khususnya untuk anak perempuan. Tatkala, ibu mengatakan hal serupa, saya terdiam. Saya tidak pernah membayangkan bahwa “ke mana-mana” atau melakukan perjalanan merupakan urusan yang tidak penting. Perjalanan adalah tentang membawa tubuh bertemu dengan tubuh yang lain. Interaksi antar-manusia itu tentu tidak dapat disebut sebagai peristiwa yang tidak cukup penting. Ketika pertemuan antar-tubuh diisi dialog-dialog pemikiran, maka kemudian, perjalanan itu disebut berpengaruh. Ketika, dialog-dialog pemikiran beralih pada ikatan perasaan, maka sebenarnya kita telah melakukan perjalanan menemukan “rumah”. 

Saya mengingat, dalam sebuah kuliah, dosen saya, Ibu Christina T. Suprihatin, pernah menjelaskan konsep rumah menurut Benzi Zhang. Menurutnya, rumah bukanlah sekadar bangunan fisik, tapi juga konstruksi yang berhubungan dengan jiwa dan perasaan. Lebih rinci, Benzi Zhang menyebut rumah sebagai identitas, dan sebagaimana identitas itu sendiri, tak pernah statis- selalu bergerak dan bertransformasi.

  YB Mangunwijaya dalam ulasannya tentang rumah, menjelaskan “Bangunan, biar benda mati tidak berarti tak ‘berjiwa’. Rumah yang kita bangun ialah rumah manusia. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang sebenarnya selalu dinapasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh napsu dan cita-citanya. Rumah selalu citra sang manusia pembangunnya…. rumah membahasakan kita.” Hasrat ber-rumah yang dipikirkan YB Mangunwijaya mengingatkan saya pada cerita ber-rumah masyarakat adat To Wana, yang tinggal di tengah hutan Sulawesi Tengah, tepatnya di Uetea. 

Pada 17 Februari, saya, Citra dan tim relawan Pelajar Pemberdaya memasuki kawasan adat To Wana. Selama sebulan lebih, relawan mengajar dan membangun rumah belajar untuk anak-anak Uetea yang belum diberi akses dan fasilitas pendidikan oleh pemerintah. Masyarakat adat To Wana memiliki kepercayaan Khalaik dan berbahasa Taa. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya baru belajar hidup secara menetap. Itulah kenapa, bangunan-bangunan rumah mereka terlihat masih “mencari bentuk”. 

Pada mulanya, orang-orang To Wana membuat rumah di pohon, lalu memutuskan pindah- mendirikan rumah di atas tanah. Saat ber-rumah di pohon, orang-orang To Wana sedang membaca dan memantau dari atas kondisi dan keadaan suatu tempat. Mereka  perlu menentukan strategi dan sikap jika ada orang-orang yang tiba-tiba masuk dan meruntuhkan pohon untuk membangun perkebunan dan pertambangan seperti yang selalu kita lihat di daerah lain. Setelah merasa aman, mereka lalu berpindah, dan barangkali dibarengi dengan pikiran dan niat untuk beradaptasi dengan kelompok atau komunitas yang lain.  Sebagai kelompok yang baru berpindah dari masyarakat nomaden menjadi masyarakat yang hidup menetap, adalah hal yang menarik melihat perjalanan mereka belajar mengenal dan membangun rumah. 

Masyarakat adat To Wana yang mulai memikirkan untuk tinggal menetap membangun rumah yang lebih lebih besar dan kuat, meskipun rumah yang terbangun belum memiliki dinding dan hanya memiliki satu ruangan. Arsitektur rumah sangat rendah hati dan to the point, sehingga tentu saja tidak akan ditemukan ruang privasi dalam rumah. Ketiadaan ruang privasi dalam rumah, menginisiasi dibangunnya tenda dalam rumah oleh tim relawan yang datang dari kelompok masyarakat yang selalu membutuhkan ruang privasi dalam rumah. Keterbukaan rumah masyarakat adat To Wana terlihat dari tidak adanya dinding-dinding pembatas. Satu ruangan melebur menjadi tempat makan, memasak, tidur, menonton, belajar, dan menerima tamu. 

Bangunan rumah yang sangat terbuka, sebagaimana kata YB Mangunwijaya bahwa rumah membahasakan pemiliknya menunjukkan karakter dan sikap yang mudah terbuka dan menerima sesuatu yang berada di luar lingkup kebudayaannya. Ketika kami datang memasuki tempatnya, orang-orang To Wana sangat menerima kami. Mereka seperti membuka seluruh pintu dalam dirinya untuk dimasuki.

Hidup bersama orang-orang To wana tidaklah sulit. Mereka memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dalam membantu kami beradaptasi dengan tempat baru. Selain meminjamkan hunian, membantu mencari kayu bakar dan bahan olahan makanan, orang-orang To wana tidak sungkan berbagi obrolan dan cerita. Mereka rela berbagi kisah tentang asal usul dan kehidupan mereka sebagai masyarakat adat serta mengajarkan kami berbahasa Taa. Keterbukaan itu juga terkenang ketika mengingat antusiasme dan kegigihan mereka menerima pelajaran membaca dan menulis dari para relawan. 

Capt: Anak-anak Uetea dan Relawan Pengajar Pemberdaya Bermain Bersama di Sore Hari. 

Selain arsitektur rumah yang sangat sederhana, pekarangan /halaman juga bagian yang menarik untuk diperhatikan. Halaman rumah bagi To Wana adalah pegunungan yang terhampar berjuta-juta hektar. Di belakang rumahnya, ada kebun yang menyatu dengan pegunungan dan sungai. Di depan rumahnya ada jalan setapak yang juga menyatu dengan pegunungan. Namun, ketika mereka mulai hidup menetap, orang-orang To Wana mulai memikirkan untuk menambah variasi tanaman yang bisa dikonsumsi. Tanaman-tanaman tersebut biasanya ditanam di pekarangan rumah. 

Di suatu sore, saya ke rumah Mama Rania. Setiap pagi dan sore, Mama Rania selalu masak. Hari itu, ia memasak nasi (atau dalam bahasa Taa disebut baku) dan daun ubi rebus. Rania dan Randi dengan lahap menghabiskan nasi dengan kuah rebusan ubi. Di hari yang lain, saya menemukan Mama Rania sedang memarut ubi, yang katanya mau dijadikan sagu. Selain itu, Mama Rania juga merebus kacang merah. Sagu dengan kuah kacang merah rebus adalah perpaduan yang sempurna. 

Ketika bertemu Papa Vinish di acara adat kematian Bapak Kepala Suku, ia mengatakan jika berbagai tanaman dari luar mulai ditanam, seperti pepaya, mangga, kelapa, semangka, terong, cabai, dan lain-lain. “Dulu susah kami bertanam kelapa, sebab baru tumbuh satu, kami su pindah lagi.” 

Pemukiman yang terbangun masih sangat ekologis. Keselarasan antara manusia dan alam bertumbuh di antara rumah- rumah yang masih belasan. Orang-orang bebas masuk ke dalam rumah tanpa kesungkanan mengganggu privasi. Anak-anak riang bermain, memetik bunga di pekarangan. Ketika lelah dan kotor, mereka akan berlari ke sungai, menyelupkan diri, dan kembali ke rumah dengan baju yang sama. 

Saya takjub pada keriangan mereka mengenal rumah, tapi juga sadar, jika hutan sumber daya alam yang rentan digadaikan oleh mereka yang tak pernah puas mengisi perutnya dengan pohon, emas, dan nikel. 

__

Penulis: 

Ais Nurbiyah Al-Jumah, bekerja sebagai penulis komersial dan non-komersial.
Senang memotret dan merekam cerita. Tertarik pada isu budaya, lokalitas, dan perempuan.
Hidup di kampung bersama nenek serta mengasuh kanal Youtube: Ais Aljumah.

__

Recording the Journey of Indigenous Peoples To Wana: Getting to Know “Home”

By: : Ais Nurbiyah Al-Jumah

“Don’t go anywhere unless you have important business.” That’s the expression parents often told to their children, especially to girls. When my mother said the same thing, I fell silent. I never imagined that “going anywhere” or going on a trip was such an insignificant affair. Travel is about one’s body to meet another body. The interaction between humans certainly cannot be called an unimportant event. When the meeting between bodies is filled with dialogues of thought, then later, the journey is called influential. When the dialogues of thought turn to the bond of feelings, then we have actually gone on a journey to find “home”.

I remember, in a lecture, my lecturer, Mrs. Christina T. Suprihatin, once explained the concept of a house according to Benzi Zhang. According to him, the house is not just a physical building, but also a construction related to the soul and feelings. More specifically, Benzi Zhang calls home an identity, and like identity itself, it is never static- always moving and transforming.

 YB Mangunwijaya, in his review of houses, explained “Buildings, just because inanimate objects do not mean they are not ‘spirited’. The house we build is a human house. Therefore it is something that human life always breathes, by its dispositions and tendencies, by its passions and aspirations. The house is always the image of the man who built it…. the house tells a story about us.” YB Mangunwijaya’s desire to have a home reminds me of the story of the To Wana indigenous people, who live in the forest of Central Sulawesi, to be precise in Uetea.

On February 17th, Citra and a team of ‘Student empowerment volunteers entered the To Wana traditional area. For more than a month, volunteers have been teaching and building learning houses for Uetea children who have not been given access and educational facilities by the government. The indigenous people of To Wana have Khalaik beliefs and speak Taa. They are people who are actually just learning to live a more sedentary life. That’s why, the buildings of their houses are still “looking for shape”.

At first, the To Wana people built houses in trees, then decided to move around and build houses on the ground. While living in trees, the To Wana people are reading and monitoring from above the conditions of a place. They need to determine strategies and attitudes if there are people who suddenly enter and tear down trees to build plantations and mining as we always see in other areas. After feeling safe, they then move with the possibility of adapting to other groups or communities. As a group that has just moved from a nomadic society to a settled society, it is interesting to see their journey to learning about and then building houses.

The indigenous people of To Wana, who began to think about permanent settlement, built bigger and stronger houses, though the houses that they built had no walls and only one room. The architecture of the house is very humble and to the point, therefore there is no private space in the house. The absence of private space in the house led to the construction of a tent in the house by a team of volunteers who came from community groups who always needed privacy in the house. The openness of the To Wana indigenous people’s houses can be seen from the absence of dividing walls. One room merges into a place to eat, cook, sleep, watch, study, and receive guests

The construction of the houses is very open, as YB Mangunwijaya said, the houses reflect their owners, showing their open character and attitude and willingness to receive things from outside their own culture. When we arrived in their place, the To Wana people really welcomed us. It was like they opened all the doors to their inner selves so that we could come in.

Living together with the To Wana people is not difficult. They have a high level of sensitivity in helping us to adapt to our new surroundings. Apart from lending us a home, helping us to find firewood and food, the To Wana people are not reluctant to chat and tell stories. They are willing to share stories about their origins and lives as an indigenous community as well as teach us to speak their Taa language. Their openness is also prominent when we remember their enthusiasm and their determination when receiving lessons on reading and writing from volunteers.

Caption: Uetea children and Student Empowerment Volunteers play together in the late afternoon.

Apart from the architecture of the house, which is very simple, their yards are also an interesting aspect to consider. For the To Wana people, the yard is a mountainous region which spreads out over millions of hectares. At the back of the house, there is a garden which unites with the mountain area and rivers. In front of the house, there is a walking trail which also leads to the mountains. However, when they started to settle permanently, the To Wana people thought about adding a variety of plants which they could consume. These plants are usually in the house’s garden.

On one late afternoon, I went to Mama Rania’s house. Each morning and late afternoon, Mama Rania is always cooking. On that day, she was cooking rice (baku in Taa language) and boiled sweet potato leaves. Rania and Randia devoured the rice and boiled sweet potato broth. On another day, I discovered Mama Rania grating sweet potatoes, which she said she wanted to cook like sago. Apart from that, Mama Rania also boiled legumes. The sago and legume broth proved a perfect accompaniment.

When meeting Papa Vinish at a cultural event commemorating the death of an indigenous elder, he says that various plants like papaya, mango, coconut, watermelon, eggplant and chillies are being planted. “Previously, we struggled to plant coconuts, because as soon as one grew, we were on the move again.”

The settlement which has been built remains very much in harmony which the local environment. The harmony between humans and nature grows between the dozen or so houses.

People are free to enter into houses without any reluctance to disturb privacy. Children play happily and pick flowers in the yard. Once they were tired and dirty from playing around, they would run to the river, take a dip and return home in the same clothes. I was surprised with their merriment at living in a house, but also aware that the forest is a vulnerable resource which is being sold off for its trees, gold and nickel.

Writer:

Ais Nurbiyah Al Jumah, works as a commercial and non-commercial writer. She enjoys taking photos and recording stories. She’s interested in issues relevant to culture, localities and women. She lives in a village together with her grandmother as well as looking after her YouTube channel.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.