Oleh: Tri Sandi Setiawan Nteya

Gorontalo adalah wilayah pemekaran dari Sulawesi Utara yang memisahkan diri pada tahun 2000. Gorontalo sendiri memiliki budaya yang sangat kuat sama halnya dengan daerah – daerah lainnya di Indonesia. Berkambangnya zaman sama sekali tidak melunturkan kekuatan dari budaya ini, akan tetapi, dengan berkembangnya zaman, budaya mulai diaplikasikan dengan berbagai macam bentuk baru, contohnya dalam bidang seni, Gorontalo di zaman sekarang, sudah erat dengan yang namanya seni Film. Bukan hanya sekedar menikmatinya sebagai hiburan, akan tetapi beberapa anak muda, mulai bergerak untuk membuatnya juga. Gerakan – gerakan anak muda inilah yang membentuk komunitas – komunitas Filmmaking di Gorontalo. Ada beberapa komunitas Filmmaking yang bisa saya jabarkan dalam tulisan ini. Seperti Dwisetyo Production, dengan filmnya yang berjudul OtaJin, dan Wanalathi, yang sudah berhasil masuk ke bioskop daerah, dengan ini saya bisa menilai bahwa Dwisetyo Production adalah satu – satunya Rumah Produksi di Gorontalo yang sudah memproduksi film dengan skala besar. Akan tetapi, masih banyak komunitas – komunitas kecil yang memiliki nilai seni yang tinggi, atau bisa saya katakan skill yang tidak diragukan lagi, hanya saja mereka belum bisa memproduksi film dengan skala besar karena kekurangan alat, tenaga, ataupun budget, tetapi jika berbicara soal skill dan nilai seni, mereka saya tidak ragukan lagi. saya kasih contoh Film Nasehat Senja karya pelajar SMA Negeri 2 Limboto, film ini berhasil memenangkan kategori film pendek di Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) pada tahun 2019 yang dilaksanakan di lampung. Dan tentu saja masih banyak komunitas – komunitas kecil yang memiliki bakat di atas rata – rata. Beberapa yang saya ketahui seperti JPR Production, dengan Film Lampau yang berhasil memenangkan Festival Film Pendek Hut Provinsi pada tahun 2019, Godswill dengan Film A-ra yang berhasil memenangkan Festival Film Pendek Gorontalo (FFG) 2019, Hybridd Production dengan Web Youtube Series mereka Analogi Rasa yang masih hangat dibicarakn penikmat Film di Gorontalo. Ngomong – ngomong soal komunitas filmmaking di Gorontalo, bukan hanya di setiap Universitas, bahkan di setiap sekolah SMA/SMK sudah memiliki gerakan komunitas Filmmaking ini. Dan tentu saja saya ulangi kembali lagi, yang menjadi masalah Komunitas Filmmaking ini adalah sumber pendanaan, dan alat tetapi jika berbicara soal skill tentu saja tidak ada lagi yang saya ragukan.

            Demikian Tulisan ini saya buat, dengan maksud agar dapat dibaca oleh pemerhati Film di Indonesia, atau Pemerintah untuk mendukung minat dan bakat anak – anak muda di Gorontalo. Sekian.

__

Art Movement at Gorontalo City

By: Tri Sandi Setiawan Nteya

There are several Filmmaking communities that I can describe in this article. Like Dwisetyo Production, with its films, OtaJin and Wanalathi, which has made it into regional cinemas, I can therefore say that Dwisetyo Production is the only Production House in Gorontalo that has produced films on a large scale. However, there are still many small communities that have high artistic value, or definitely have skills, it’s just that they have not been able to produce films on a large scale due to lack of tools, manpower, or budget. But when it comes to skills and artistic value, I do not doubt them anymore. I can give an example of the film Advice Senja by SMA Negeri 2 Limboto students, this film won the short film category at the 2019 National Student Art Competition Festival (FLS2N) which was held in Lampung. And of course there are still many small communities that have above average talent. Some that I know are JPR Production, with Film, Past, which won the Provincial Hut Short Film Festival in 2019, Godswill with film, A-ra, which won the 2019 Gorontalo Short Film Festival (FFG), Hybridd Production with their Web Youtube Series Analogy, Rasa, which is still hotly discussed by film connoisseurs in Gorontalo. By the way, about the filmmaking community in Gorontalo, it not only exists in every university, even in every high school/vocational school, these Filmmaking community movements are present. And of course I repeat again, the problem for this Filmmaking Community is the source of funding, and tools, but when it comes to skills, of course, I have no doubts.

Thus, I wrote this paper, with the intention that it can be read by film observers in Indonesia, or the government, so they can support the interests and talents of young people in Gorontalo. That’s all for now.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.