Film pendek ‘Jamal’ ditayangkan di 52th Tampere Film Festival

Oleh Muhammad Heri Fadli, sutradara film ‘Jamal’

Sebagai sebuah film pendek yang diproduksi bersama keluarga yang belum pernah terlibat dalam pembuatan film sebelumnya atau bahkan belum pernah sama sekali menonton di bioskop dan tinggal di sebuah pelosok yang terletak jauh dari kota besar, rasanya begitu menggembirakan Ketika pertama kali mendapatkan kabar bahwa film sederhana yang bermodalkan semangat ini bisa sampai ke layar di festival-festival film dunia. 52nd Tampere Film Festival adalah festival yang ke 8 bagi film Jamal dan merupakan salah satu dari 3 festival film pendek yang paling diagungkan di eropa Bersama dengan Clermont-ferrand, dan Oberhausen. Film jamal sebenarnya sudah melakukan world premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada tahun 2020, akan tetapi pada saat pemutaran dalam acara Opening Screening Tampere Film Festival merupakan kali pertama bagi saya untuk berkesempatan melihat film Jamal di layar yang besar dan sekali lagi rasanya Kembali seperti World Premiere.

Film Jamal merupakan salah satu dari 10 film pendek Indonesia yang masuk dalam sesi Indonesia 1 dan Indonesia 2, masing-masing film mendapatkan kesempatan 2 kali pemutaran pada program tersebut dan 2 film lainnya mendapatkan kesempatan di program lainnya, Film Lika Liku Laki karya teman saya Khozy Rizal juga masuk dalam sesi kompetisi , sedangkan Film Jamal mendapatkan kehormatan sebagai salah satu dari lima film pendek yang terpilih untuk diputar pada saat grand opening festival. Secara pribadi saya merasa sangat bersyukur karena film karya salah satu legenda film dunia Jonas Mekas juga menjadi salah satu film pembuka, tentunya berbagi layar dengan seorang maestro menjadi kebanggan tersendiri bagi film Jamal, selain itu Film Jamal juga tergabung dalam Program Indonesia 2 yang mendapatkan 2 kali pemutaran di Cine Atlas 1 & 3 di Koskikeskus, Tampere.

Seperti biasa, setiap tahunnya TFF selalu menyediakan banyak sekali program selama 5 hari penyelenggaraan Festival, mulai dari Screening, Masterclass, Discussion, Reception, dan beberapa acara lainnya. Saya menyempatkan untuk menonton sebanyak mungkin film yang bisa saya tonton, total selama 5 hari kurang lebih saya menonton 50-an film pendek dari berbagai program yang ditawarkan dengan free access untuk menonton tiga program per harinya bagi tamu undangan. Saya meyakini bahwa untuk menjadi pembuat film yang baik kita juga harus menjadi penonton yang baik, dan benar saja setelah menonton sekian banyak film yang sangat bervariasi merangsang otak untuk menemukan ide-ide baru yang bisa dikembangkan kedepannya.

Pada kesempatan lain, saya juga menyempatkan untuk menghadiri minimal 1 masterclass dalam sehari, para pemateri yang mengisi masterclass mengajarkan saya satu hal yang mungkin sangat sederhana “Setiap dari mereka pernah dalam posisi kita saat ini, sebelum menjadi dirinya saat ini”. Salah satu masterclass yang menurut saya sangat menarik adalah “Building a career as a cinematographer” yang diisi oleh Christopher Blauvelt, Peter Flinckenberg dan Sari Aaltonen. Ketertarikan saya pada cara bertutur visual membuat saya harus hadir dalam kegiatan masterclass ini, semua pemateri menceritakan bagaimana mereka memulai karir sebagai seorang penata gambar, ketiganya memulai karir sebagai Cinematographer dengan cara yang berbeda-beda, namun ada satu persamaan yaitu mereka pernah bekerja tanpa bayaran demi mendapatkan pengalaman dan ilmu dari orang-orang yang sudah berpengalaman.

Di sela-sela waktu kosong kegiatan selama acara berlangsung adalah bertemu dan berdiskusi dari filmmaker dan delegasi-delegasi dari berbagai festival di belahan dunia lain. Kota Tampere memberikan pengalaman yang sangat luar biasa, ini seperti mendatangi kota film karena terdapat banyak sekali ruang sinema dan teater yang berada berdekatan di sekeliling kota, sambutan warga juga sangat hangat dan antusias meskipun suhu sangat dingin karena bersalju. Menurut saya ini yang sangat mahal dari menghadiri festival secara fisik, kita bisa bertemu berkenalan lalu memperluas exposure film kita, menemukan partner lintas negara, bertukar cerita proses produksi dan banyak hal lainnya. Tentunya kita juga bisa mendapatkan pengalaman tersebut melalui festival virtual, akan tetapi bertemu secara tatap muka selalu berhasil membuat kita masuk ke dalam pengalaman yang tak terlupakan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.