oleh Ilda Karwayu

April menjadi bulan sibuk bagi Rumah Baca Nusa (RBN) yang mengusung project proposal Usaha Kue Kering Khas Lombok untuk Kelancaran Belajar Sastra Anak-anak; pun bagi Penerbit Akasia yang menggarap Penerbitan Buku #MeneropongManusiaSulawesi karya Eko Rusdianto dan Pelatihan Menulis. Di lain situasi, Komunitas Babasal Mombasa—yang menyusun Penerbitan Buku Akademi Sastra Banggai (ASB)—sedang mempersiapkan teknis Festival Sastra Banggai 2022 sebelum nantinya di awal Juli menerima dana bergulir.

Kegetolan RBN dalam menjalankan program #BakuBantu, tampaknya, telah menerangkan satu wacana yang selama ini tak begitu diperhitungkan oleh kalangan di luar pegiat buku: pasar sastra. Minggu, 27 Maret 2022 lalu RBN telah meluncurkan produk kue kering TAKASI—yang merupakan singkatan dari tiga nama kue kering  khas Lombok, yakni tarēq, kaliadem, serta keciput.

Peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah komunitas masyarakat seputaran Lombok Tengah dan Kota Mataram, di antaranya Ikatan Mahasiswa Ganti (IMAGA), Komunitas Saras Alus, Eco School Nusantara (ESN), Komunitas Akarpohon Mataram, dan Perpustakaan Jalanan Mataram. Para undangan yang hadir dapat mencicipi secara perdana ketiga produk TAKASI. Produk yang dikemas dengan ukuran 100gr ini memanglah masih menggunakan kemasan plastik, tapi teman-teman RBN tak kehabisan akal. Pada peluncurannya, mereka menyampaikan bahwa kemasan plastik ini dapat digunakan kembali sebagai wadah bibit tanaman; mengingat euforia bercocok tanam di rumah sedang menjadi tren di sana.

Selain itu, di bagian belakang kemasan terdapat tempelan bertuliskan satu puisi, yang di mana memang itulah tujuan utama dari project RBN ini: mengenalkan karya sastra kepada anak-anak. Adalah puisi karya Kiki Sulistyo berjudul Ranjang Padi yang menjadi pilihan di edisi perdana produk TAKASI. RBN berencana memunculkan puisi berbeda di setiap kloter produksi. Meski demikian, tak menutup kemungkinan rencana tersebut diubah seiring masuknya sejumlah saran dan kritik dari para pelanggan produk TAKASI.

Dari laporan tim RBN, sejauh ini pelanggan produk TAKASI didominasi oleh mereka yang—bisa dikatakan—belum akrab dengan puisi, tapi tertarik untuk membaca karena melihat adanya puisi di badan kemasan. Dari sini, dapatlah kita bayangkan bahwa sastra seyogianya mampu disilangkan dengan hal lain di luar dirinya, dan hal tersebut tidaklah menurunkan nilai dari karya sastra itu sendiri; alih-alih memudahkan distribusi karya sastra untuk diapresiasi masyarakat luas. Bukankah ini dapat dijadikan satu peluang pasar sastra yang baru—di Lombok?

Lain RBN, lain pula Penerbit Akasia. Kelas Menulis yang diadakan oleh Penerbit Akasia akhirnya terlaksana secara daring (online) melalui Zoom Meeting di tanggal 2, 4, dan 6 April pukul 19.30 Wita. Eko Rusdianto, Penulis Meneropong Manusia Sulawesi dan Penerima Penghargaan Oktovianus Pogau,  mengampu kelas dengan sangat kooperatif dan informatif. Kelas berbayar yang menggaet toko buku Dialektika sebagai tim kerja sama ini diikuti oleh tujuh orang peserta—yang keseluruhannya menulis esai.

Satu tantangan yang dilalui oleh mereka adalah konsistensi selama tiga hari mengikuti kelas; jumlah peserta tak selalu tujuh peserta. Namun, hal tersebut tak dapat dipungkiri sebab, bisa jadi, kegiatan di luar kelas telah menjadi prioritas di awal—sebelum jadwal kelas ditentukan. Disebut hal ini tantangan karena, mengutip Eko Rusdianto, “Menulis itu perkara disiplin menyalurkan ide. Jadi, melatih konsistensi diri juga perlu dilakukan.”

Akhir tulisan, tapi bukan akhir dari ulasan, salah satu aktivitas praterima dana bergulir yang sedang dijalankan ASB adalah pengumpulan naskah tulisan dengan tenggat waktu Mei 2022. Nantinya, antologi atas tulisan yang terkumpul akan diluncurkan di Festival Sastra Banggai 2022—yang rencananya akan dilaksanakan pada 7 s.d. 10 September 2022.

Demikian perkembangan tiga projects dari Program #BakuBantu selama bulan April. Nantikan informasi perkembangan selanjutnya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.