Oleh Aziz Albar

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa Universitas Muhammadiyah Makassar bersama BASAsulsel Wiki melaksanakan diskusi santai mengenai bahasa daerah, bertajuk ‘’Eksistensinya di Tengah Arus Modernisasi”. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumata’ Art Space pada Selasa, 12 April 2022. Adapun narasumbernya yaitu, Azis Nojeng, dari Himpunan Pelestarian Bahasa Daerah, serta Yani Paryono, Kepala Balai Bahasa Sulawesi Selatan. Kegiatan ini sebagai wujud pelestarian bahasa daerah bagi generasi milenial di tengah arus modernisasi. 

Diskusi ini membahas mengenai pelestarian bahasa daerah yang ditakutkan kedepannya kehilangan penuturnya. Bahasa daerah tidak banyak lagi digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. sebagaimana ditegaskan oleh Azis Nojeng pada diskusi, bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa penghubung adalah salah satu penyebabnya. Apalagi jika di dalam satu keluarga ada perbedaan budaya atau suku. Hadirnya diskusi seperti ini merupakan upaya untuk menarik partisipasi publik terutama di kalangan milenial agar tetap melestarikan bahasa ibunya. 

Di tengah-tengah diskusi Yani Paryono mengungkapkan, bahwa di Balai Bahasa Sulsel saat ini sedang melakukan revitalisasi bahasa daerah yaitu, Bugis, Toraja, Makassar, serta bahasa Mandar. Revitalisasi bahasa merupakan upaya pemerintah untuk menciptakan bentuk dan fungsi baru terhadap suatu bahasa yang terancam punah

Harapan peserta yang hadir pada diskusi yaitu, bagaimana pemerintah merespons tantangan dalam pelestarian bahasa daerah, salah satunya membuatkan kurikulum dalam hal ini dibuatkan peraturan daerah (perda). Agar bahasa daerah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Harapan ini sebagai wujud pelestarian Bahasa daerah di kalangan milenial.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.