oleh Ilda Karwayu

Bulan Mei merupakan tenggat pengerjaan program #BakuBantu oleh Rumah Baca Nusa (RBN) dan Penerbit Akasia. Bertolak belakang dengan keduanya, Komunitas Babasal Mombasa justru semakin mendekati bulan penerimaan dana, dan pengerjaan pogramnya, yakni awal Juli.

Project Usaha Kue Kering Khas Lombok yang dikerjakan oleh RBN makin berkembang dari segi kemasan dan distribusi. Saran dan kritik dari para pelanggan perihal kemasan kue kering membuat para anggota mengkaji ulang kembali kemasan produk kue kering TAKASI—singkatan dari tiga nama kue kering  khas Lombok, yakni tarēq, kaliadem, serta keciput. Seperti yang pernah dibahas di edisi sebelumnya, adalah tren bercocok tanam di rumah yang menjadi motivasi utama penggunaan kemasan bungkus plastik untuk produk mereka.

Kini, motivasi tersebut ternyata mesti berubah seiring berakhirnya tren tersebut. Di Ramadan 1443 Hijriyah lalu, tren yang berkaitan dengan kue kering ialah penggunaan ragam toples. Memanglah juga, toples lebih tahan lama dan lebih beragam fungsinya bila digunakan kembali setelah kue kering habis. Pun, para pelanggan yang memesan kemasan besar tak perlu lagi mencari wadah lain selain kemasan asli. Selain itu, para anggota RBN pun sepakat bahwa wadah toples lebih memudahkan mereka menyematkan kreasi puisi pada kemasan. Maka dari itu, dipilihlah toples sebagai pengganti kemasan bungkus plastik.

Sejalan dengan itu, bagai gayung bersambut atas perubahan kemasan, datanglah sejumlah pesanan hampers lebaran dari luar Lombok; salah satunya dari Solo, Jawa Tengah. Lewat introspeksi tersebutlah, tujuan utama project ini, yakni untuk Kelancaran Belajar Sastra Anak-anak, perlahan dapat terlaksana.

Menuju seberang utara Lombok, ada Penerbit Akasia di Sulawesi Selatan yang sedang fokus kepada penjualan buku Meneropong Manusia Sulawesi karya Eko Rusdianto. Buku nonfiksi tersebut terjual lancar; bahkan menjadi salah satu buku favorit sepanjang Apri 2022 di Dialektika Bookshop—toko buku yang telah menjadi rekan kerja sama Penerbit Akasia sejak awal pengerjaan project Penerbitan Buku #MeneropongManusiaSulawesi karya Eko Rusdianto dan Pelatihan Menulis.

Sembari itu, rencana mengadakan kelas menulis lagi rupanya sedang dipertimbangkan. Mengingat pelatihan sebelumnya yang cukup intensif dan kontekstual—sesuai kebutuhan peserta, agaknya rencana tersebut mestilah diwujudkan!

Bayangkanlah: betapa asyiknya menyaksikan para penulis yang antusias belajar supaya karyanya semakin bernas dan segar. Tak hanya itu, mendapati mereka yang tertarik pada dunia tulis-menulis (meski belum mencoba  menulis) terlibat aktif dalam diskusi pun merupakan sebuah kebahagiaan. Situasi yang demikian adalah segelintir tanda bahwa ekosistem dunia tulis-menulis semakin lestari karena edukasi yang sirkulatif terjadi ajek.

9 Mei 2022: rapat soal deadline pengumpulan naskah dan kurasinya untuk buku Akademi Sastra Banggai (ASB) oleh Babasal Mombasa.

Serupa tapi tak sama persis, itu pulalah yang sedang dilakukan oleh Komunitas Babasal Mombasa dalam projectnya: Penerbitan Buku Akademi Sastra Banggai (ASB). Para anggota masih fokus pada interaksi pengumpulan karya untuk antologi, seraya mematangkan teknis Festival Sastra Banggai 2022 sebelum—sekali lagi—nantinya di awal Juli menerima dana bergulir.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.