Kamis, 21 Juli 2022, Institut Demokrasi, Hukum dan HAM – Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Insersium FH-UH) bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melaksanakan Diskusi Publik dan Peluncuran Perdana Buku “Dua Dasawarsa Nirpidana: Kelemahan UU Pengadilan HAM dan Kegagalan Negara Menegakkan Keadilan”. Peluncuran Buku tersebut difasilitasi oleh ruang kesenian ternama di Kota Makassar: Rumata’ Art Space. Agenda diskusi pun diisi oleh beberapa pembicara, yaitu Abdul Munif Ashri (Penulis Buku dari Insersium FH-UH), Fatia Maulidiyanti (Koordinator KontraS), Jane Rosalina (Divisi Pemantauan Impunitas KontraS), Dr. Iin Karita Sakharina S.H., M.A. (Akademisi Hukum HAM Internasional FH-UH), dan Muhammad Khaidir, S.H. (Direktur LBH Makassar).

Buku tersebut merupakan karya akademis yang disusun oleh Tim Riset dari Insersium FH-UH, dengan berkolaborasi bersama KontraS dalam hal peninjauan, penyuntingan, sampai dengan penerbitan. Garis besarnya, buku yang diluncurkan dan didiskusikan itu mengupas tentang berbagai masalah seputar dasar hukum Pengadilan HAM, yaitu UU No. 26 Tahun 2000, juga dengan problematika mangkraknya penyelesaian kasus-kasus Pelanggaran HAM yang Berat.

Di pertengahan diskusi, Abdul Munif Ashri menyatakan bahwa impunitas atau ‘kenirpidanaan’ di Indonesia terhadap setiap kasus Pelanggaran HAM yang Berat dapat tetap langgeng dikarenakan kelemahan substansial dari UU No. 26 Tahun 2000, kultur politik aparat penegak hukum Kejaksaan Agung, juga dengan impotennya kehendak politik dari Pemerintah. Fatia Maulidiyanti pun menegaskan, impunitas yang tak dapat diretas itu disebabkan karena aktor-aktor terduga pelaku yang masih menduduki jabatan strategis di dalam pemerintahan. Sedangkan Jane Rosalina berbicara sedikit banyak terkait prospek penyelesaian kasus Pelanggaran HAM yang Berat Paniai (2014), yang dalam waktu dekat akan disidangkan di Pengadilan HAM Makassar.

Selaku penanggap, Dr. Iin Karita Sakharina S.H., M.A. dan Muhammad Khaidir, S.H. mengapresiasi terbitnya buku yang disusun oleh Insersium FH-UH dan KontraS ini. Kedua mengutarakan bahwa karya ini memiliki kekhususan tersendiri karena ditulis oleh sehimpun mahasiswa atau pemuda yang hendak mempersoalkan secara kritis problematika HAM di Indonesia.

Besar harapan Insersium FH-UH dan KontraS agar buku ini dapat dijadikan salah satu rujukan untuk membahas permasalahan penuntasan kasus Pelanggaran HAM yang Berat dan Keadilan Transisi di Indonesia.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *