Oleh: Relawan Nirsampah

Pernahkah kamu membayangkan ada plastik berukuran sekitar 4,8 milimeter, mengalir di darah dalam tubuhmu? Banyak studi menyatakan plastik yang tak kasat mata ini terdapat di udara, air dan juga tubuh manusia. Plastik ini mengandung bahan kimia berbahaya yang tidak hanya merugikan bagi tubuh manusia tapi juga hewan, serta tumbuhan. Lalu, dari mana mikroplastik ini sesungguhnya berasal?

Pencemaran mikroplastik ini secara tidak sadar dapat bersumber dari serat pakaian, debu kendaraan yang bergesekan dengan aspal, microbeads dari limbah kosmetik, hingga segala jenis sampah plastik. 

Pagi hari pada tanggal 1 Oktober 2022 lalu, Tim Ekspedisi Sungai Nusantara bersama Tim Nirsampah dan Rendah Karbon MIWF melakukan pengamatan kualitas air sungai Jeneberang. Pada malam di hari yang sama, kedua tim menyelenggarakan kegiatan yang terbuka untuk umum di Galeri Rumata’ ArtSpace. Kegiatan itu bertujuan untuk mempresentasikan hasil pengamatan dan nonton bersama film dokumenter berjudul Revolusi Popok, yang diproduksi oleh Watchdoc Image bekerjasama dengan Ecoton.

Pada pemaparan hasil presentasi, Tim Ekspedisi Sungai Nusantara bersama Tim Nirsampah dan Rendah Karbon MIWF menyatakan bahwa sungai Jeneberang terkontaminasi oleh mikroplastik. “Sungai Jeneberang terlihat kotor dan dipenuhi sampah dan plastik, malah kami menemukan ada wc umum salurannya langsung dibuang ke sungai tanpa diolah, sampah plastik banyak ditemukan di tepi sungai, sedih melihat sungai yang digunakan sebagai bahan baku air minum dijadikan tempat sampah dan buangan limbah” ungkap Ahmad Miftah, salah satu relawan Nirsampah dan Rendah Karbon MIWF yang terlibat dalam pengambilan sampel air di sungai Jeneberang.

Hasil ini sungguh ironis, mengingat Sungai Jeneberang adalah salah satu sungai yang diperuntukkan sebagai pemasok air ke Perusahaan Daerah Air Minum Kota Makassar. 

Secara umum Tim ESN melihat ada tiga faktor penyebab pencemaran mikroplastik di Sungai Jeneberang

1.     Minimnya layanan pengangkutan sampah dari rumah-rumah penduduk ke Tempat Pengumpulan sampah sementara. Secara umum kota/kabupaten di Indonesia hanya mampu melayani kurang dari 40% penduduk, sehingga 60% penduduk Indonesia tidak terlayani pengangkutan sampah, mereka umumnya membakar sampah, menimbun dan membuangnya ke sungai, tiap tahun Indonesia membuang 3 juta ton sampah plastik ke laut melalui sungai dan menjadikan Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China. 

2.     Minimnya kesadaran memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya, Indeks kepedulian lingkungan penduduk Indonesia masih rendah yaitu 0,56 dari skala 0-1, rendahnya kepedulian inilah yang menyebabkan penduduk Indonesia membuang sampah seenaknya, termasuk membuang sampah ke sungai, termasuk di Makassar dan Gowa.

3.     Masifnya penggunaan Plastik sekali pakai, plastik sekali pakai seperti tas kresek, sedotan, Styrofoam, popok dan botol plastik masih massif digunakan di Kota Makassar dan Gowa sehingga perlu pengendalian penggunaan plastik sekali pakai.. 

Kegiatan yang dihadiri oleh 15 orang ini juga mengajak para peserta yang hadir untuk mencoba mengoperasikan digital mikroskop. Pengamatan melalui digital mikroskop memungkinkan para peserta mengetahui bentuk dari mikroplastik yang terkandung di dalam air.

Tim Ekspedisi Sungai Nusantara dan Nirsampah dan Rendah Karbon MIWF berharap dengan adanya kegiatan pengamatan dan presentasi ini pemerintah, para stakeholders terkait, para pelaku usaha, dan juga masyarakat akan lebih sadar tentang pentingnya peran sungai dalam kehidupan sehari-hari dan mengambil tindakan menyembuhkan sungai dengan cara, meningkatkan layanan pengelolaan sampah terpadu di setiap unit wilayah, meminta para pelaku usaha untuk meningkatkan komitmen dalam mengelola limbah pabrik mereka, sedangkan untuk skala rumah tangga, masyarakat dapat mengelola sampah yang dihasilkan atau mengurangi penggunaan plastik.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *