Oleh: Wahyu Al Mardhani & Afifah Tasya

Dogmilk Films sebagai kolektif independen filmmaking berbasis di Melbourne dan Makassar berkunjung kembali ke Rumata’ ArtSpace. Setelah kunjungan pertama di tahun 2019 silam, Dogmilk Films kali ini membawa spirit yang masih sama, yaitu berjejaring dengan kolektif dan komunitas filmmaker Kota Makassar dalam event ‘Dogmilk Presents Sipakatuo’. Event yang berlangsung di Tanggal 24 Oktober 2022 ini, Dogmilk menyelenggarakan 3 segmen, yaitu Film Screening, Residency Discussion dan Spatial Sound Performance.

Produser dan member Dogmilk Films, Sam Hewison, menjelaskan bahwa event ini tentunya hasil dari hubungan yang telah lama dijalin dengan Rumata’ ArtSpace, sebagai salah satu titik kumpul para seniman, kolektif dan komunitas di Kota Makassar. Melalui event ini, Dogmilk ingin berinteraksi secara langsung sekaligus memperkenalkan karya-karya Dogmilk yang diharap bisa memberi impresi yang baik dan pengalaman yang baru, baik bagi Dogmilk sendiri maupun partisipan yang hadir.

Pada segmen Film Screening, Dogmilk menayangkan 6 karya audio visual yang dibuat dengan berbagai teknik, baik secara estetika maupun konseptual. Dari keenam karya tersebut, Dogmilk menunjukkan visi eksperimental dan ambisi yang dimiliki setiap filmmaker Dogmilk. Karya-karya yang disajikan diantaranya 3 musik video dan 3 film pendek, yaitu; Dokumenter eksperimental berjudul Fugue yang disutradarai oleh Sofie McClure dan Rebecca Bracewell, Transmissions yang direkam dengan rol film 16mm disutradarai oleh John Hewison, film pendek animasi berjudul Oliver disutradarai oleh Alexandra Walton, musik video yang direkam dengan rol film 16mm berjudul Sofj dari Dregs disutradarai oleh Chris Cochrane-Friedrich dan Lola Hewison, Double Lines dari The Green Child disutradarai oleh Lola Hewison dan direkam dengan rol film 8mm, serta Silver Drop dari Gregor yang direkam dengan rol film 16mm disutradarai oleh Chris Cochrane-Friedrich.

Puncak acara dari event ini adalah duduk bersama-sama antara teman-teman Sipakatuo yaitu Chris Cochrane-Friedrich dan Wahyu Al Mardhani selaku Creative Director,  Sam Hewison dan Afifah Tasya Amaliah selaku Researcher dengan para partisipan. Sipakatuo adalah inisiatif untuk menghubungkan praktisi gambar dan suara antara Sulawesi dan Australia dengan membuat karya kolaboratif dan membangun hubungan kreatif lintas budaya yang berkelanjutan. Sipakatuo sendiri, telah melakukan residensi secara daring di Tahun 2021 oleh keempat residen. Sam dan Afifah berperan menjadi peneliti dan mendiskusikan topik terkait transmisi budaya masyarakat adat dan bentuk-bentuk preservasinya bersama dengan berbagai ekspert , baik itu arsiparis, akademisi, filmmaker dan beragam cultural stakeholder. Sedangkan Chris dan Wahyu berperan mentransformasi hasil wawancara dari proses kerja Sam dan Afifah yang juga beririsan dengan visi Sipakatuo dalam bentuk audio visual sehingga  melahirkan sebuah karya All Circles the Moon and Dirt Shines in the Sun dengan format 4 layar imersif nan interaktif dengan footage yang dikumpulkan selama 15 tahun oleh mitra kerja DSTV Sangalla dari Tana Toraja. Karya tersebut kemudian dikonversi menjadi expanded cinema di Alice Spring selama 2-23 Oktober 2021 dan ditayangkan di Melbourne 11-12 Desember 2021.

Setelah menjelaskan Sipakatuo secara historis dan secara konseptual serta semangat yang diusung kepada partisipan, kemudian teman-teman Sipakatuo mengenalkan gagasan residensi yang dicanangkan, yaitu membawa salah satu seniman baik dari Makassar ke Australia maupun sebaliknya. Seniman yang terpilih kemudian diberikan lokakarya untuk berbagi ilmu dan meningkatkan keterampilan serta diskusi bersama sesama seniman, filmmaker dan budayawan di penjuru Australia dan Indonesia. Selain itu, menyampaikan struktur residensi ke depannya untuk mendapatkan feedback oleh para partisipan terkait formulasi yang tepat, sehingga program residensi yang diproyeksikan berlangsung di Tahun 2023 ini dapat mencerminkan keinginan dan kebutuhan komunitas-komunitas yang terlibat agar bisa diaktualisasikan ke tempat asalnya setelah menyelesaikan program residensi.

Di penghujung acara, Dogmilk menampilkan Spatial Sound Performance oleh Josh Peters selaku Sound Designer dari Melbourne, Australia. Performans yang menyajikan sederetan karya audio elektroakustik melalui konsep surround-system nan imersif yang sekaligus dipraktikkan secara Diffusion menggunakan sonic arts dengan 6 speakers di sekeliling audience ini bertujuan memberikan pengalaman baru dalam menikmati sebuah alunan instrumen. Melalui penampilan diffusion diatas digital mixer, Josh Peters menampilkan komposisi suara dengan mengatur serangkain fader untuk menciptakan bentuk-bentuk suara 3D yang melintasi ruang pertunjukan. 

Wahyu Al Mardhani, selaku member Dogmilk Films menjelaskan bahwa kegiatan Dogmilk Presents Sipakatuo ini dapat terlaksana berkat kerja kolaboratif dan dukungan penuh oleh Rumata’ Artspace, Prolog Studio, Siku Terpadu serta media partner, seperti All About Stereo, Hibernasi Zine, Siaran Pmancar dan Durasi.id.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *