Oleh: Irwan AR

MAKASSAR — Sirine dari mobil ambulance berhenti di depan Rumata’ Artspace, sontak menarik perhatian warga sekitar dan pengunjung yang diminta menunggu di depan pagar Rumata’ Artspace. Keluar pula 5 orang berjas hitam, kemeja putih dan celana hitam dilengkapi dengan sepatu pantofel hitam mengkilat dan kacamata hitam pula.

Aktor-aktor ini memasuki Rumata’ ArtSpace langsung menuju ke bagian halaman rumah yang menjadi peninggalan orang tua sineas Riri Riza ini. Pengunjung mengikuti para aktor tersebut yang langsung mengamati daging ayam utuh di atas meja bundar, lalu satu per satu menikamkan pisau-pisau yang mereka bawa dalam tas dan menandai daging-daging ayam di hadapan mereka. Beberapa aktor lainnya yang berjubah merah dengan topeng dari film Money Heist berkeliaran di antara batang pohon sambil mengamati konferensi meja ayam tersebut.

Pertunjukan Sombala Art tersebut menjadi pembuka bagi kegiatan Pameran Seni Rupa Revolusi Esok Pagi (REP) #3, Jumat 28 Oktober 2022 di rumata’ Artspace, sebuah ruang budaya di kota Makassar.

Orang-orang berjas hitam dan berpakain perlente itu datang mengisyaratkan kedaruratan sesuatu yang rupanya tengah mengadakan semacam meeting dengan segumpal dagin ayam di atas meja bundar. Kita mungkin menduga mereka sekelompok mafia yang hendak bertransaksi dengan pembagian ayam itu dengan penyelenggara pameran (manager pameran, Ashabul Kahfi turut dalam lingkaran meja tersebut) atau mereka adalah investor hitam yang bersiap membagi jatah untuk pemilu yang aromanya sudah mengambang pekat menjelang akhir tahun yang sebentar lagi akan beralih ini.

Situasi luar display pameran dari para perupa se-Sulselbar itu mungkin lebih terasa Rebel, lebih terasa ‘jalanan’ yang keras dan kasar. Apalagi ada 2 instalasi seni rupa dipajang. Yang satu dipajang di koridor depan yang menghubungkan saat masuk pagar Rumata’ langsung ke halaman belakang. Beberapa lembar seng tua yang berkarat dan bertuliskan dipasang repetitif secara zig zag dilengkapi dengan tumpukan botol-botol minuman keras. Dan bagian akhir instalasi yang diberi judul “Public Enemy” karya Yaya’ dari Outistik itu, ada tumpukan batu-batu dan tonggak besi berdiri di tengah tumpukan batu itu yang menggantung dua anak panah rakitan dari besi runcing dan rumbai tali rafia.  Anak panah ini kerap menjadi alat untuk perang kelompok remaja yang sering terjadi di kota Makassar. Menurut Yaya, ia tengah bercerita tentang situasi lorong di rumahnya di area kecamatan Rappocini, yang sempit dan penuh dengan aktivitas yang dianggap kriminalitas khas masyarakat sub urban.

Seng-seng tua tersebut ditulisi dengan berbagai tulisan bernada satire juga ironi dan sinisme. Seperti kalimat “siapa yang engkau panggil jika polisi adalah pelaku?” Atau “Oh Jalan, tunjukan aku Tuhan yang Benar” dan atau ini ” miskin cari tuhan, kaya jadi tuhan”

Yaya’ yang mengatur sedemikian rupa instalasinya ini mengungkapkan pajangan anak panah yang digantung di tengah tumpukan batu adalah bentuk keprihatinannya terhadap fenomena perang kelompok yang telah banyak memakan korban sia-sia.

Sementara pengunjung yang melewati jalur instalasi ini harus sedikit berhati-hati bila tak ingin terkena sisi tajam seng, intalasi ini memaksa tubuh merasakan kesumpekan dan sempitnya lorong serta keangkerannya. Mungkin, mengangkat realitas lorong ke area pameran butuh sedikit stilistik atau unsur dekoratif. Unsur sentuhan tersebut bukan mendistorsi realisme lorong tersebut tapi untuk menguatkan kesan itu sendiri. Menempatkannya di tempat koridor bangunan yang juga kurang terawat itu membuat kesan instalasi ini bukan sesuatu yang ‘disengaja’ dan diatur sedemikian rupa. Sebagaimana seharusnya sesuatu dianggap sebagai karya seni. Atau meminjam pengertian dunia panggung teater, realitas ditafsirkan berkali-kali, ditafsir dalam teks naskah, ditasir diatas panggung hingga ditafsir oleh penonton. Toh, teks-teks yang ditulis tadi di seng-seng sesuatu yang sudah stilistik. Kalimat yang lebih real tentu lebih kasar dari itu.

Lalu instalasi terakhir dibuat oleh Baba’ yang juga bagian dari Outistik sendiri. Diletakkan paling belakang di halaman rumata’  berjudul “Political Party”. Instalasi ini secara cerdik memanfaatkan framenya di antara 3 Batang pohon besar yang tumbuh di halaman belakang. Seperti instalasi yang dibuat Yaya, pesan-pesan yang ingin disampaikan ditampilkan secara verbal. Ada Bendera partai yang masih aktif dan wara-wiri sebagai pemain utama pemilu. Poster-poster caleg dan hal lainnya. Yang menarik di tengah frame, di antara tiga Batang pohon ini, sebuah meja kayu dan dua kursi kayu yang berhadapan serta ada papan catur dengan situasi permainan dalam keadaan posisi skak match!  Selain unsur papan catur yang simbolik tersebut, lainnya tentu ditampilkan secara verbal. Untungnya selain berada diantara tiga batang pohon sebagai frame juga ada pembatas yang dipasang sekeliling karya instalasi sebagai bingkai.

Dua buah karya instalasi tersebut dibuat dengan gaya street art. Gaya yang lebih mementingkan pesan yang lebih cepat ‘nyampai’ dari pada harus berkelok-kelok dalam simbolisme yang abstrak untuk memaksa pengunjung berkerut dahinya untuk menebak maknanya. Berbeda dengan performance “konferensi meja ayam” yang memberikan banyak kemungkinan tafsir yang sangat lebar dengan simbol-simbol yang berserakan. Suara bayi, keranda, ambulance, sirene, pisau, manusia-manusia bertopeng hingga jas hitam dan tas-tasnya.

Bagi instalasi yang dibuat Outistik sebenarnya dengan sendirinya menyatakan apa yang saya duga dari nama kelompoknya, keluar dari pakem artistik sebagai tak patuh dalam pengertian estetika yang jadi dogma. Sebagai gerakan street art, Outistik ini tengah menawarkan konsep estetika artistik di luar yang biasa kita kenali.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *