oleh Ilda Karwayu

Komunitas Babasal Mombasa, salah satu penerima dana bergulir Program #BakuBantu, masih menanti kepastian International Standard Book Number (ISBN) untuk buku antologi debut Akademi Sastra Banggai 2022. Andaikata nomor seri tersebut tak kunjung selesai prosesnya hingga menjelang pelaksanaan Festival Sastra Banggai (FSB) 2022, maka dapat dipastikan buku ini akan terbit tanpanya.

Toh, menerbitkan buku tanpa cantuman ISBN pun sebenarnya tak memengaruhi legalitas buku tersebut untuk didistribusikan. Oleh karenanya, Penerbit Babasal Mombasa tetap bisa menerbitkan antolongi debut ini di festival yang akan diselenggarakan pada 24 – 27 November mendatang. Meski demikian, tetaplah kita berharap pengurusan ISBN ini dapat segera selesai dengan mulus sesuai harapan; sehingga, setelahnya, distribusi buku ini dapat menjangkau ruang yang lebih luas.

Buku antologi debut Akademi Sastra Banggai 2022 ternyata tak sendiri menjadi yang diluncurkan di FSB, akan ada dua buku lainnya, yaitu: To Bui (Orang Pesisir) karya Neni Muhidin dan Lagu Tidur karya Ama Achmad.

Selanjutnya, melompat ke pengisi panel FSB 2022, acara yang akan digelar selama empat hari ini telah meluncurkan sejumlah profil para penulis di akun media sosialnya. Mereka—di antaranya—adalah Ahmad Arif, Ama Achmad, AS Rosyid, Aya Canina ex Amigdala, Deasy Tirayoh, Eko Saputra Poceratu, Fatris MF, Genta Kiswara, JS Khairen, Neni Muhidin, Reza Nufa, Theoresia Rumthe, dan Weslly Johannes. Dengan pelaksanaannya yang hybrid, tentu akan lebih banyak penulis yang hadir selain sejumlah tersebut. Kita tunggu nama-nama lainnya,  ya!

Lalu, akan ada pula panel yang bakal fokus pada uraian tema dan subtema FSB—Mengungkai Acak, Menyimpul Padu dan Montolutusan. Panel tersebut akan diramaikan oleh sejumlah akademisi; dua di antaranya ialah Dr. Zaedar dan Hendra Saadjad. Bicara soal subtema, Montolutusan sendiri merupakan kata lain dari persaudaraan untuk tiga wilayah di Banggai—yakni Banggai, Bangkep, dan Balut—yang berpusat pada topik ketahanan pangan. Dengan mengusung subtema tersebut, FSB ingin mengembalikan memori kolektif masyarakat wilayah Banggai perihal budaya mengonsumsi panganan asli Banggai. Menyambut itu lebih dalam, hadirlah program Dari Ladang Hingga Dandang; semacam praktik pengolahan pangan lokal, dari penyaji: Nafsiah Lawenga.

Tidak hanya diskusi, FSB pun akan diisi dengan sejumlah pertunjukan dari berbagai nama ataupun kelompok. Dua di antaranya adalah Kapal Udara dan Teater Paseban. Apakah pertunjukan ini nantinya disiarkan secara langsung juga oleh tim FSB? Mari menanti informasi selanjutnya melalui akun Instagram mereka di @babasalmombasa dan @fsbanggai.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *