Program Visiting Neighbors merupakan program film bersama beberapa komunitas dan kolektif yang berlangsung dari bulan November 2022 – Januari 2023 di Rumata’ ArtSpace. Program film ini dilakukan berdampingan dengan diskusi stelahnya untuk mengetahui lebih jauh tentang film-film dari tetangga, termasuk konteks sosial-politiknya. Dengan mendiskusikan film-film ini, ada praktik transnasional yang berlangsung sebab ada distribusi dan keterhubungan pemikiran, cerita maupun persoalan-persoalan yang dihadapi di negara-negara terkait.

S-Express Laos

Rangkaian pemutaran “Visiting Neighbors” dimulai pada jumat, 28 November 2022 jam 15:30 dengan memutarkan program film pendek S-Express Laos yang dikurasi oleh Xaisongkham Induangchanthy. Terdapat 5 film pendek di program ini yakni Loser Boy (oleh Thanva Kounlavong), Only Happiness Can Say (oleh Apple Suka), Daughter of a Saltmaker (oleh Bountern Saidara), The Blanket (oleh Mitpasa Sitthikhakpanya) dan A Friend Request (oleh Wravong Phrachanh). Terdapat 23 peserta yang melakukan registrasi untuk pemutaran ini. Kebanyakan dari penonton program ini adalah pembuat film yang berbasis di kota Makassar dan setelah menonton mereka menjadi penasaran dengan industri dan komunitas film di Laos. Namun semuanya terjawab berkat presentasi setelah pemutaran dari Ayu Kartika, seorang pembuat film asal Makassar dan lulusan Leeds University jurusan industri media. Beliau mengajak para penonton untuk menyelami lebih dalam mengenai Laos tidak hanya dari sisi industri filmnya namun juga kondisi politiknya dan bagaimana pengaruhnya terhadap khasanah perfilman Laos.

S-Express Indonesia

Lalu pada pukul 19:30, pemutaran dilanjutkan dengan memutarkan program film pendek S-Express yang dikurasi oleh Fransiska Prihadi. Terdapat 5 film pendek di program ini yaitu Lika Liku Laki (oleh Khozy Rizal), Pedhut (oleh Christian Banisrael), Jamal (oleh Muhammad Heri Padli), Laut Memanggilku (Tumpal Tampubolon) dan Nusa Antara (Azalia Muchransyah). Untuk pemutaran program film pendek ini disambut dengan penuh antusias oleh warga Makassar. Terdapat 93 orang yang registrasi untuk program ini dan menjadi sangat menarik karena terdapat diskusi setelah pemutaran yang dipandu oleh Rachmat Hidayat Mustamin. Ragam bentuk film pendek di program ini berhasil memantik banyak pertanyaan dan pernyataan dari penonton khususnya dari film Jamal dan Laut Memanggilku.

S-Express Malaysia

Pada Minggu, 11 Desember 2022, kami melanjutkan kembali rangkaian acara “Visiting Neighbors” dengan memutarkan pemutaran program film pendek S-Express Malaysia yang dikurasi oleh Chong Lee, Yow. Terdapat empat film pendek di program ini yakni Were The Sun and The Moon to Meet (oleh Nadira Ilana), Bagan (oleh Firdaus Balam), My Father, Dr. G (oleh Hidayah Hisham) dan Pulang (oleh Yam Kin Wai). Pemutaran dimulai pada jam 15:30, namun karena cuaca buruk, banyak penonton terlambat hadir dan hanya berhasil menonton 2-3 film pendek saja. Setelah pemutaran terdapat pula diskusi yang menarik bersama M. Rais dan Azzahra Damayanti. Mereka berdiskusi tentang pertemuan pertamanya dengan sinema Malaysia dan juga merespon film-film pendek yang ada di program ini. Ada satu momen yang cukup berkesan dari pemutaran film ini; ada satu penonton yang merespon salah satu film pendek berjudul “Pulang” dengan sebuah puisi dan membacakannya kepada kita semua.

S-Express Philippines

Pada pukul 19:30 kita kembali melanjutkan rangkaian acara dengan memutarkan program film pendek S-Express Philippines yang dikurasi oleh Oggs Cruz. Terdapat 4 film pendek di program ini yaitu It’s Raining Frogs Outside (oleh Maria Estella Paiso), I Get So Sad Sometimes (oleh Trishtan Perez), The Headhunter’s Daughter (oleh Don Josephus Raphael Eblahan) dan Days of The New (oleh Keith Deligero). Terdapat 36 orang yang mengikuti program ini dan kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa. Hadir juga sebuah diskusi setelah pemutaran mengenai skena film independen di Filipina bersama Zulkhair Burhan dari Universitas Bosowa dan Azzahra Damayanti. Menarik sekali diskusi yang terjadi antara narasumber dan peserta. Mereka terkesima dengan bentuk-bentuk baru dari film-film yang ada di program ini. Bagi mereka, walau beberapa film-film pendek narasinya begitu tipis dan beralur lambat tapi berhasil menyuguhkan banyak momen-momen dan lapisan-lapisan yang menarik.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *