Oleh: Khomeiny Imam

Berbicara tentang ‘harapan’ adalah berbicara tentang bagaimana manusia ditempa untuk bangkit dan terus tumbuh bertransformasi, ke dalam suatu masa yang membaik. Meskipun pada akhirnya harapan dan kenyataan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Saling mengiris dan menjahit satu sama lain. Lantas, siapa yang mengundang harapan ke dalam hidup sudah semestinya mendada ibarat menulis huruf di atas air. Sebab ia harapan tidak seperti memahat nama di atas batu. Siapa yang mengundang harapan ke dalam hidup adalah dia yang bernazar dengan berani melampaui segala ketidakmungkinan.

Sebagai seorang street artist, karya-karya Hanim banyak berbicara tentang potret perempuan yang banyak menyimpan kontinum harapan dalam gudang imajinasinya. Melakoni dunia grafiti, Hanim banyak terlibat dalam proyek-proyek jalanan bersama teman-teman yang selakon. Warna yang berani dan mencolok, seperti pink, ungu dan kuning, menjadi karakter Hanim yang menjadikan jalanan sebagai galeri utamanya.

Selain sebagai karya tugas akhir seorang mahasiswi S1, “Hope” adalah sebuah manifesto tentang bagaimana Hanim mengolah harapan ke dalam bait-bait warna dan kegelisahan yang ia goreskan dengan tubuh, sebagai perempuan yang memilih menghempaskan diri ke dalam jalan pedang seni rupa.

Melalui performance art-nya yang digelar pada tanggal 15 Desember 2022 di Rumata’ ArtSpace, pertunjukan yang dibawa Hanim menjadi yang terakhir dari rentetan jadwal berkegiatan di situ. Rumata’ ArtSpace menutup tahun dengan sebuah bertunjukan bertajuk “Hope”.

Panggung telah siap. Orang-orang mulai berdatangan. Rumata’ ArtSpace sudah ramai  sejak pukul empat sore waktu Indonesia bagian tengah, . Tetapi pertunjukan baru dimulai sekitar jam delapan malam.

Mc membuka acara. Memberi sambutan kepada para perwakilan kampus yang telah hadir untuk berikan penilaian. Salah satunya dipersilahkan untuk memberi kata sambutan sekaligus mengamini “Hope” sebagai karya tugas akhir yang akan dilakukan oleh Hanim. Perwakilan kampus berjumlah tiga orang. Dua dari mereka sudah berada di lokasi pertunjukan sedari sore. Satunya baru bisa datang di pukul sekitar enam menit saat pertunjukan sedang berjalan.

Memakai gaun serba putih dari atas hingga bawah, Hanim berjalan dari belakang area penonton menuju area panggung. Tanda pertunjukan telah dimulai. Di atas bentangan triplek putih berukuran sekitar tujuh meter dan lebar sekitar empat meter, Hanim berdiri sambil menutup mata. Di depan hanim terlihat seonggok ember dan kaleng semprot berisi cat warna-warni. Hijau, kuning, ungu, merah jambu, biru dan hitam.

Di belakang Hanim sehelai kain putih sedang digantung seperti utas tirai yang  menyentuh lantai. Dengan mata yang melihat ke bawah, Hanim memutar kakinya, menciptakan gerakan seperti menari. Tanpa latar musik. Bergerak kesana kemari. Kain yang digantung tadi secara tiba-tiba ditarik paksa, direbut dari gantungannya.  Seperti ada emosi yang menguap. Kain itu menjadi bagian dari tubuh Hanim bergerak kesana-kemari . Cat mulai diraih satu persatu. Warnanya terhambur kemana-mana. Penampakan panggung yang tadinya hanya putih, perlahan melahirkan corak abstrak berwarna-warni, bercerai dimana-mana. Hanim merayap, berguling, membasuh setiap apa yang disentuhnya dengan warna.

Di tengah-tengah pertunjukan dengan total durasi sembilan menit empat puluh detik, awalnya hanya hening. Suara yang terdengar hanya dari gerakan yang dilakukan Hanim. Musik berlatar piano tiba-tiba muncul. Membuat Hanim tampak lebih bergairah. Gerakannya semakin intens mengikuti tempo musik. Teriakan amuk terdengar keluar dari mulut Hanim yang suara nafasnya kadang seperti sedang digerogoti kegelisahan. “AHHH!!!”. Membuat semua yang ada di ruangan itu makin merasakan emosi yang sedang ia bangun. Lalu semuanya melambat. Musik berhenti. Dan selesai.

Hanim telah melalui proses panjang perenungan. Ketika apa yang ia gores dengan warna-warna itu adalah semesta yang ia bangun dalam dirinya.  Dari setiap gejolak hidup yang telah ia tempuh, Hanim memilih warna yang ia gores tadi sebagai representasi dari “harapan” yang akan menuntunnya melewati gelapnya zaman.

Semua orang tepuk tangan. Pertunjukan selesai.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *