Penulis: Cherelle Angeline

Seni membuahkan kepekaan rasa individu terhadap komunitasnya, melampaui batas-batas komunikasi antara manusia. Menghabiskan waktu untuk merefleksikan pengolahan perasaan melalui seni, saya mulai sadar bahwa ada pendewasaan dan pengertian mendalam terhadap kehidupan ketika perasaan yang tidak pernah digali akhirnya dirangkul dengan erat. Munculnya sebuah resolusi berangkat dari empati dan kasih sayang terhadap sendiri. Dari situlah saya percaya ada kekuatan kesenian dalam kehidupan bagi anak-anak Indonesia untuk berempati dengan satu sama lain, memajukan budaya, dan keberadaban negara.

Peran seni terhadap kondisi manusia sangat jelas ketika pandemi di mana koneksi kita dibatasi karena kurangnya kehadiran fisik. Seni melalui platform digital mengisi jiwa kita dalam kenyamanan rumah kita sendiri. Seni menjadi pusat kehidupan kita selama masa-masa sulit, yang menunjukkan bahwa kesehatan mental didukung oleh energi kreatif di sekitar kita. Maka itu, seni dalam segala bentuk seharusnya lebih dihargai oleh bangsa kita dengan memberdayakan dan menghidupkan kreativitas lokal. Hal ini tidak hanya mewarnai hidup, namun juga memformulasi arah kehidupan sekarang dan masa yang mendatang. Kita tidak bisa melupakan kekayaan seni dan budaya negeri untuk generasi-generasi berikutnya.

Bagaimana strategi dapat diimplementasikan oleh masing-masing penggerak kesenian dalam pandemi yang penuh ketidakpastian? Pertanyaan berikut akan dijawab dengan beberapa contoh peristiwa personal dan langkah selanjutnya yang dapat diambil.

Mendengar banyak suara dari luar yang menyatakan apa yang harus saya perbuat, saya mengalami permasalahan identitas yang memaksa saya untuk mempertanyakan siapa saya. Dalam keputusan sehari-hari, ekspektasi menjadi perempuan di lingkungan keluarga dan pertemanan menjadi keributan utama yang menimbulkan keraguan dan pertentangan di umur yang sangat muda. Saya terbelenggu dalam kebingungan, kemarahan dan kesedihan yang tidak dapat saya olah. Proses berkarya betul-betul menyembuhkan saya dengan cara mengenali diri lebih lagi, lalu menggenggam ketidaksempurnaan, merubah itu menjadi perspektif yang positif. Tanpa disadari sebelumnya, ada kekuatan dari kelemahan tersebut yaitu akhirnya mencari kebebasan. Melalui berkarya, komunitas saya mendapatkan dampak positif dari ide-ide yang dibagikan. Dengan berkarya saya juga dapat membagi tentang kehidupan saya untuk yang merasakan hal yang sama. 

Dominance adalah karya yang menjadi titik balik saya untuk mengendalikan keberanian untuk menyuarakan kefrustrasian terhadap aturan-aturan seragam di sekolah dengan cara merobek-robeknya lalu merekonstruksikan bentuk seragam yang terdistorsi. Awalnya, saya seringkali disalahkan karena rok yang menggantung di atas lutut. Saya mulai berpikir mengenai norma-norma dalam konteks sekolah. Ide untuk memodifikasi seragam menjadi provokatif datang dari keinginan untuk menyuarakan opini teman-teman perempuan saya yang pernah merasakan diskriminasi dari guru dan teman, sementara itu, suatu ketika seorang siswa laki-laki yang mengenakan celana olahraga yang sangat ketat lolos begitu saja. Saya menyusun pemotongan kain untuk menggambarkan suatu bentuk sensibilitas dalam kekuasaan yang dimiliki perempuan terhadap dirinya sendiri dalam budaya yang didominasi laki-laki. Saya memadukan gaya feminin dan tomboy untuk menanggapi aturan yang tidak adil.

Dominance | 18 March 2019 | 166 x44 x 98 cm | Deconstructed textile/clothing

Perjalanan mencari jati diri tidak mudah, lebih-lebih ketika kita didorong untuk keluar dari kebiasaan. Suatu harapan untuk para seniman yang berjalan dekat dengan pertumbuhan ilhami, batin, dan intelektual, yaitu tetap memiliki peranan dalam komunitas kalian untuk berinovasi dan mengubah paradigma. Tetap bersemangat menelusuri proses, meskipun dalam waktu dekat, dunia tidak dapat diprediksi. Percaya dengan intuisi karena kejujuran sangat penting untuk didengar oleh masyarakat.

Saya menyadari ada kejauhan berkesenian yang berakar pada tradisi. Terbawa arus globalisasi, mulailah kehilangan empati karena tidak menyatu dengan sarana budaya. Semua dikerjakan di gadget hingga sentuhan dan kecintaan membuat dengan tangan telah pudar sedikit demi sedikit. Dari kesadaran itu, saya bertanya apa peran edukasi seni yang saya lewati? Terekspos oleh kesenian di dalam sekolah dan keluarga, seni mendarah di hidup saya semenjak kecil dari pengenalan musik, menulis, dansa, dan menggambar. Berkomunikasi lewat seni ketika sendu, senang, semua perasaan mulai saya curahkan melalui itu.

Guru di sekolah dan rumah yaitu orang tua memiliki peran besar dalam memicu perkembangan anak muda di ruang yang aman. Terlebihnya untuk guru sekolah tahap dasar hingga menengah, potensi dan minat anak mulai didukung oleh mereka dalam akademik, ekstrakurikuler, dan kegiatan di rumah. Ketika anak diberikan rasa kemenangan untuk mengeksplorasi ekspresi batin mereka, mereka memiliki pembelajaran dan penciptaan mereka sendiri, lalu mempengaruhi apresiasi mereka terhadap berkreatifitas. Maka itu, meskipun adanya kejauhan dalam pembelajaran daring, kualitas pengajaran tetap ditingkatkan pengetahuan dan praktiknya. Pengajar-pengajar negeri dan swasta yang dapat diberdayakan dengan keinginan besar untuk mencapai visi memperbaiki ekosistem seni dalam jangka panjang sangatlah dibutuhkan.

Mengeksplorasi batik yang bertumpu pada sejarah, filsafat, dan budaya tradisional di Rumah Budaya Babaran Segaragunung Yogyakarta telah menyatukan saya dengan alam dalam proses berkreasi. Dengan kehangatan keterbukaan teman-teman, segala sarana pembelajaran informal terjadi seperti diskusi, latihan, pengamatan. Kita membutuhkan ruang pendidikan informal yang berbasis komunitas terbuka untuk membangun kebersamaan dengan orang-orang dengan berbeda latar belakang yang tersatukan karena ketertarikan terhadap kesenian. Tanpa memandang umur, kesuksesan, ataupun penghasilan, orang-orang di sekitar memiliki kemurnian kasih sayang, solidaritas, dan kejujuran. Hal ini memberikan kebebasan bertanya dan pernyataan pendapat yang melatih pemikiran kreatif.

Latihan Olah Rasa di Balai Bengong, Babaran Segaragunung

Organisasi yang berbasis komunitas seperti museum dan ruang budaya memberikan suara kepada para seniman yang terpinggirkan, tersubordinatkan, tak terwakili karena akses yang kurang untuk memperlihatkan dan mengembangkan karya melalui diskusi dialektis dan kolaborasi karya. Kerja kolektif antara lembaga publik, swasta, dan pemerintah yang harus terlibat secara kolaboratif untuk menyatukan seniman, kurator, kritikus, dan sejarawan. Hasil yang diimpikan adalah dukungan inklusivitas dari ranah manajemen seni.

Berkunjung ke Museum Tekstil Jakarta, saya merasakan tidak ada pembaharuan sisi pameran dan pembelajaran. Ketika seorang anak kecil di depan objek-objek budaya dan artefak, bagaimana mereka dapat belajar tradisi secara efektif? Menjembatani hubungan antara benda itu dengan diri kita adalah salah satu tugas kurator yang integral, bukan hanya mengumpulkan suatu koleksi, namun yang terpenting adalah menghasilkan sebuah proses pemaknaan dan dialog kontemporer antara kedua subjek.  Hubungan batin dapat tercipta diantara keduanya. Kedepannya, harmoni infrastruktur seni seperti studio, museum, dan rumah budaya diharapkan untuk dikembangkan supaya program publik menyadarkan rasa kebersamaan antara masyarakat publik dan seni.

Museum Tekstil, Jakarta Barat

Perubahan baik sudah waktunya dimulai dari sekarang melalui aksi yang berbeda-beda sesuai kapasitas masing-masing. Tentunya, jangan pernah menyerah karena satu gerakan akan menggema. Saya undang para pembaca yang tergerak untuk menghidupkan seni budaya Indonesia supaya seluruh potensi tangan dan pikiran kreatif akan membangun masa depan negara kami tercinta.

__

Biodata

Cherelle Angeline menggunakan ekspresi artistik untuk mengatasi masalah yang penting bagi dirinya dan masyarakat. Ia baru saja lulus SMA di Sekolah Pelita Harapan dan akan memulai kuliah jurusan Seni Rupa di Goldsmiths. Praktik seninya berakar pada identitas perempuan dengan campuran elemen tekstil, tubuh dan ruang.

Ekspresi visual, vokal, dan pertunjukan adalah platformnya untuk masalah atau situasi yang lebih baik yang signifikan bagi dirinya secara pribadi dan masyarakat. Ia ingin belajar tentang seni dalam konteks filsafat, sejarah, dan pendidikan sebagai alat untuk memajukan pendidikan dan pemikiran ke depan di Indonesia, dengan tetap memegang warisan seni dan budayanya.

Website: https://toilediaryofcher.wixsite.com/cherelleangeline

___

– Cheryl Angelina

Art produces a sensitivity of individuals towards their community, beyond the boundaries of communication between humans. Spending time reflecting on the processing of feelings through art, I began to realize that there is maturity and a deep understanding of life when feelings that have never been explored are finally embraced passionately. The emergence of a resolution departs from empathy and compassion for oneself. From there, I believe that there is a potential for art to help Indonesian children to empathize with one another, promote culture, and civilize the country.

The role of art in the human condition is especially clear during a pandemic where our connections are limited due to a lack of physical presence. Art through digital platforms fills our souls in the comfort of our own homes. Art is at the centre of our lives during difficult times, which shows that mental health is supported by the creative energy around us. Therefore, art in all its forms should be more appreciated by our nation by empowering and animating local creativity. This art not only colours our lives, but also forms the direction of life now and in the future. We cannot forget the country’s rich arts and culture for future generations.

How can this strategy be implemented by each of the arts activists in a pandemic full of uncertainty? The following questions will be answered below, with some examples of personal events and the next steps that can be taken.

Hearing many external voices telling me what to do, I experienced identity problems that forced me to question who I was. In everyday decisions, expectations of what a woman ‘should’ be in family and friendship circles became a constant preoccupation that caused doubt and conflict at a very young age. I was shackled in confusion, anger and sadness that I couldn’t process. The process of working really heals me by letting me know myself better, then grasping my imperfections and looking at them from a positive perspective. Without realizing it, there was a strength in this ‘weakness’ which was finally being able to seek freedom. Through my work, my community receives a positive impact from the ideas that we share. By working, I can also share feelings about my life with those who feel the same way.

Dominance is a work that became a turning point for me to control the courage to voice my frustration with the uniform rules at school by tearing the school uniform up and reconstructing it as a distorted uniform shape. Initially, I was often criticised for wearing a skirt hanging above the knee. I began to think about norms in the school context. The idea to modify the uniform to be provocative came from wanting to voice the opinion of my female friends who had experienced discrimination from teachers and friends, when, in contrast, a male student wearing very tight sweatpants had once got away with it. I devised the cutting of cloth to illustrate a form of sensibility in the power that women have over themselves in male-dominated cultures. I mixed feminine and tomboyish styles to respond to unfair rules.

The journey of self-discovery is not easy, especially when we are pushed to get out of your comfort zone. A hope for artists who are walking close to inspiring, spiritual and intellectual growth, is to continue to have a role in your community to innovate and change paradigms. Stay passionate about the process, even if in the near future, the world is unpredictable. Trust intuition because honesty is very important for people to hear.

I realized that there is a distance in art that is rooted in tradition. Carried by the current of globalization, artists begin to lose empathy because they are not integrated with cultures. Everything is done on gadgets to the extent that the touch and love of making art by hand has faded little by little. From that awareness, I asked myself what role did art education play in my journey? Being exposed to art in school and in my family, art has been ingrained in my life since childhood from the introduction of music, writing, dancing, and drawing. I communicate through art when I’m sad or happy. All feelings start to pour out through it.

Teachers at school and at home, namely parents, have a big role in triggering the development of young people in a safe space. Especially for elementary school to middle school teachers, who support children’s potential and interests in academics, extracurricular activities, and activities at home. When children feel they are making progress in exploring their inner expression, they enjoy their own learning and creation, which influences their appreciation of creativity. Therefore, despite the distance in online learning, the quality of teaching is still improved in terms of knowledge and practice. Public and private educators who feel empowered by a great desire to achieve the vision of improving the arts ecosystem in the long term are urgently needed.

Exploring batik based on history, philosophy, and traditional culture at the Babaran Segaragunung Culture House in Yogyakarta has united me with nature in the creative process. With the warmth of the openness of friends, all means of informal learning occur such as discussions, exercises and observations. We need an open, community-based informal education space to build togetherness with people from different backgrounds who are united by an interest in the arts. Regardless of age, success or income, the people around you should have pure compassion, solidarity and honesty. This provides freedom of questioning and expression of opinion that trains creative thinking.

Community-based organizations such as museums and cultural spaces give a voice to artists who are marginalized, subordinated, or underrepresented due to lack of access to show and develop works through discussion of and collaboration in works. Collective work between public, private, and government institutions must engage collaboratively to bring together artists, curators, critics, and historians. The desired result is supporting being inclusive in art management.

Visiting the Jakarta Textile Museum, I felt that there was no renewal in terms of exhibitions and learning. When a child is in front of cultural objects and artifacts, how can they learn traditions effectively? Bridging the relationship between the object and ourselves is one of the integral tasks of the curator, not only collecting a collection, but also producing a contemporary process of meaning and dialogue between the two subjects. An inner connection can be created between the two. In the future, it’s hoped a harmony of art infrastructure such as studios, museums, and cultural houses will be developed so that public programs awaken a sense of togetherness between the public and the arts.

It’s time for good changes to start from now on through different actions according to their respective capacities. Of course, never give up because one movement will always echo. I invite readers who are moved by this mission to bring Indonesian arts and culture to life so that all the potential of creative hands and minds will build the future of our beloved country.

Cherelle Angeline uses artistic expression to address issues that are important to both herself and society. She has just graduated high school at the Pelita Harapan School and is about to start studying Fine Arts at Goldsmiths. Her artistic practice is rooted in female identity with a mix of textile, body and spatial elements.

Visual expression, vocals, and performances are her platform for creating a better future regarding situations that are significant to her personally and to society. She wants to learn about art in the context of philosophy, history, and education as a tool to advance education and future thinking in Indonesia, while maintaining its artistic and cultural heritage.

Website: https://toilediaryofcher.wixsite.com/cherelleangeline

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *