Tidak dapat dimungkiri bahwa pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Apalagi, saat ini Indonesia tengah mengalami masa bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif  (15-64 tahun) lebih besar daripada jumlah penduduk non produktif.

Berdasarkan Data Statistik Pemuda Tahun 2020 (BPS, 2020), jumlah pemuda yang berusia 16-30 tahun sebanyak 64,50 juta jiwa, atau 1 dari 4 Penduduk Indonesia adalah pemuda. Karena itu, pembangunan pemuda sangat menentukan kesuksesan pembangunan SDM yang unggul dan berdaya saing dengan indikator Indeks Pembangunan Pemuda (IPP).

Mengacu pada data ini, pemuda harusnya memegang peran penting dalam perumusan kebijakan publik. Kontribusi kaum muda dalam kebijakan dapat menjadi salah satu ujung tombak keberhasilan cita-cita bersama, baik di tataran daerah/lokal maupun tingkat nasional. Sayangnya, ruang partisipasi itu masih belum optimal di Indonesia. Padahal, sejumlah isu nasional relevan dengan kebutuhan dan situasi kaum muda saat ini seperti pendidikan literasi, perubahan iklim dan sejumlah isu penting lainnya.

Menjadi semakin kompleks ketika berhadapan pada beberapa dinamika pembangunan. Dalam konteks kota Makassar misalnya, sebagai ibu kota Sulawesi Selatan, merupakan kota metropolitan terbesar yang terletak di Indonesia Timur. Makassar merupakan tempat peleburan dari beragam latar belakang etnis dan budaya, namun sebagian besar penduduknya adalah Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan warga etnis Tionghoa. Dengan demikian, bahasa yang umum digunakan tergantung dari latar belakang kelompoknya. Dalam kehidupan keseharian misalnya di sekolah, siswa biasanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dengan dialek Makassar yang memiliki ciri tertentu, terutama melalui imbuhan kata, seperti ‘ki’, ‘ji’, ‘mi’ di akhir kalimat dan/atau kata bahasa Indonesia (Baseline Survey SMERU, 2021)

Makassar juga berkembang dengan berbagai macam komunitas atau organisasi lokal. Pada umumnya pemuda merupakan aktor utama yang menggerakkan masyarakat atau organisasi lokal, seperti dalam melakukan advokasi dan kegiatan sosial. Belakangan ini banyak bermunculan komunitas baru yang berbasis hobi. Di sisi lain, sebagian besar komunitas atau gerakan masih berbasis isu. Selain itu, beberapa festival digunakan sebagai wadah kolaborasi komunitas dari berbagai latar belakang.

Dalam beberapa studi literatur, keterkaitan partisipasi masyarakat khususnya pemuda dan bahasa daerah dapat dilihat melalui hubungan antara budaya dan pembangunan. Kebudayaan dibina sebagai bagian dari keseluruhan manusia dan lingkungannya. Di sisi lain, budaya juga dapat menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan lain, sehingga budaya berfungsi untuk kebutuhan lain. Yang terakhir adalah pendekatan fungsionalisme budaya dan pembangunan yang dapat digunakan sebagai kerangka umum untuk melihat potensi hubungan partisipasi masyarakat dan bahasa daerah. Oleh karena itu, meskipun bahasa daerah dibina oleh penggunaannya di ruang publik (ekosistem/struktural), bahasa daerah dalam konteks ini juga dapat menjadi instrumen untuk menjawab isu/masalah publik (fungsional).

Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam arti ikut serta dalam isu-isu publik menuju peningkatan kesejahteraan juga menjalankan fungsi tersebut. Dikombinasikan dengan penggunaan bahasa daerah, budaya dalam konteks ini kemudian dipersepsikan sebagai bagian dari instrumen pembangunan sebagaimana dikemukakan oleh para fungsionalis. Dengan kata lain, karya umum yang digunakan di sini tidak hanya tentang pengembangan budaya (menggunakan/membina bahasa daerah), tetapi terutama budaya untuk pembangunan.

Untuk merespons isu ini, BASAbali Wiki, bekerja sama dengan Rumata’ Artspace-Makassar International Writers Festival di Makassar menjalankan sebuah Inisiatif bertajuk “Meningkatkan Partisipasi Kaum Milenial di Makassar dan Kabupaten Gowa terhadap Isu-Isu Publik” hadir di tahun 2021 dan akan berlangsung selama tiga tahun ke depan. Inisiatif ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan aktif anak muda terhadap isu-isu sipil di kota-kota besar seperti di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa melalui Wiki BASAibu. Keterlibatan anak muda pada isu sipil sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan livability kota tempat tinggal kaum milenial.

Wiki BASAibu, sebuah platform yang dibuat secara kolaboratif yang berfungsi sebagai alun-alun kota virtual, menyediakan cara bagi kaum muda untuk terlibat dalam urusan sipil. Wiki terbuka untuk semua orang.  Peran BASAibu dalam mencapai tujuan ini seiring dengan matangnya demokrasi negara dan perbaikan sistem pendidikan adalah untuk: 1) menarik minat pemuda dalam keterlibatan sipil, 2) memberdayakan pemuda untuk memahami bagaimana menggunakan internet secara efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan komunitas mereka (di luar menggunakan internet hanya sebagai sarana komunikasi dan hiburan pribadi), dan 3) memotivasi kaum muda untuk benar-benar berpartisipasi.

Sejumlah program dan aktivitas tengah dijalankan inisiatif ini mencapai tujuan dan memberi dampak. Aktivitas utama inisiatif ini adalah pelaksanaan lomba wikithon (kompetisi digital marathon) yang mengajak dan mendorong partisipasi pemuda untuk meningkatkan berpartisipasi public dalam isu-isu sipil. Sejak dimulainya inisiatif ini Maret 2021 lalu, BASAibu Makassar telah melaksanakan tiga Wikithon. Wikithon pertama dilaksanakan Juni kemarin mengangkat tema lomba video TikTok bertajuk “Apakah kita Masih Daring” di mana peserta diminta menyuarakan aspirasi dan pendapat mereka terhadap pembelajaran daring yang selama ini mereka jalani sejak pandemic melanda. Wikithon kedua adalah lomba foto dan caption karena bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan RI di bulan Agustus kemarin, mengangkat tema “Jika kamu menjadi pemimpin di kotamu, apa yang akan kamu lakukan”. Dari kedua Wikithon ini, mendapatkan respons dan antusias peserta yang berasal dari berbagai kalangan yang didominasi pelajar SLTP, SLTA dan mahasiswa di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Selain pelaksanaan Wikithon, sejumlah diskusi public dan kelas Komunitas BASAibu digelar untuk membuka ruang diskusi, saling belajar, berbagi gagasan, pengalaman dan pengetahuan yang memantik semangat peserta untuk berpartisipasi lebih aktif inisiatif ini.

Di pertengahan Oktober ini, BASAibu Makassar menggelar Wikithon #3 Lomba Video Pemanfaatan Lingkungan, Manfaat Mengolah Sampah “Appakmatu-matu Loro (Manfaat Mengelola Sampah)” tingkatan SMP, SMA /SMK, Mahasiswa, dan Komunitas Se-Sulawesi Selatan, dengan periode lomba tanggal 11—24 Oktober 2021. Tema ini diangkat secara khusus untuk merespons fakta Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah Tiongkok. Ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk, berakhir di TPA tanpa diolah mencemari lingkungan. Maka penting melibatkan generasi milenial untuk berani mengemukakan ide dan pendapatnya tentang bagaimana langkah yang tepat untuk memecahkan permasalahan lingkungan dan mampu meneruskannya ke para pembuat kebijakan.

Dalam Lomba Wikithon #3 ini, para kelompok peserta berkompetisi membuat dan mengimplementasikan rencana aksi (action plan) yang dapat berdampak nyata pada pengurangan dan pengolahan sampah baik itu di sekolah, kampus, rumah, atau di lingkungan sekitar. Info lengkap dapat mengunjung laman Instagram @basaibu, peserta dapat mengirimkan karya dalam bentuk video berdurasi maksimal tiga (3) menit, foto kegiatan, disertai pengisian formulir pada rak Inisiatif Lingkungan (Environmental Initiatives) di Perpustakaan Virtual BASAibu (basaibuwiki.org).

Harapan baik dari sejumlah aktivitas yang digagas melalui inisiatif ini, tak lain untuk mencapai tujuan utama mendorong partisipasi public pemuda untuk isu-isu sipil yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semoga harapan ini dapat tercapai.

___

Encouraging the participation of millennials through Wikithon

It cannot be denied that the youth have a very important role in national development. Moreover, at the moment, Indonesia is experiencing a time of ‘demographic dividend’, in which the working age population (15-64 years old) is greater than the non-working population.

Based on the Youth Statistics for 2020 (BPS, 2020), the number of youths aged 16-30 is over 64 million, that’s to say 1 in 4 Indonesians is a ‘youth’. Therefore, youth development is a strong determinant of success in building a strong competitive human resource sector according to the Youth Development Index.

In reference to this data, the youth hold an important role in the formulation of public policy. The contribution of youth to policy can become a yardstick for the success of shared goals, both locally and at the national level. Unfortunately, the room for youth participation in Indonesia is not yet optimal. Despite the fact that a number of national issues are relevant to the needs and situations of youths, like literacy education, climate change and several other important issues.

This becomes more complex when faced with several development dynamics. In the urban context of Makassar, for example, as the capital city of South Sulawesi, is the largest metropolitan city in Eastern Indonesia. Makassar is a melting pot of various ethnic and cultural backgrounds, but most of the population is Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Javanese, and ethnic Chinese. Thus, the language commonly used depends on the background of the group. In everyday life, for example at school, students usually use Indonesian, but with Makassar dialect which has certain characteristics, especially through word affixes, such as ‘ki’, ‘ji’, ‘mi’ at the end of sentences and/or Indonesian words (Baseline SMERU Survey, 2021)

Makassar is also growing with various kinds of local communities or organizations. In general, youth are the main actors who mobilize local communities or organizations, such as in conducting advocacy and social activities. Recently, many new hobby-based communities have sprung up. On the other hand, most communities or movements are still issue-based. In addition, several festivals are used as a forum for community collaboration from various backgrounds.

In several literature studies, the relationship between community participation, especially in relation to youth and local languages, can be seen through the relationship between culture and development. Culture is fostered as part of a whole of humans and their environment. On the other hand, culture can also be an instrument to fulfill other needs, so that culture functions for other needs. The latter is the cultural and development functionalism approach that can be used as a general framework to see the potential relationship between community participation and local languages. Therefore, although regional languages ​​are fostered by their use in public spaces (ecosystem/structural), regional languages ​​in this context can also be an instrument to answer public issues/problems (functional).

Thus, community participation in the sense of participating in public issues towards improving welfare also carries out this function. Combined with the use of local languages, culture in this context is then perceived as part of a development instrument as proposed by functionalists. In other words, the general work used here is not only about developing culture (using/cultivating local languages), but especially a culture of development.

To respond to this issue, BASAbali (Balinese) Wiki, in collaboration with the Rumata’ Artspace-Makassar International Writers Festival in Makassar, is running an initiative entitled “Increasing the Participation of Millennials in Public Issues in Makassar and Gowa Regency”.  This program will be present in 2021 and will last for three years. This initiative aims to encourage the active involvement of young people on civic issues in big cities such as Makassar City and Gowa Regency through the BASAibu (Mother Language) Wiki. The involvement of young people on civic issues is very important to improve the welfare and livability of the city where they live.

The BASAibu Wiki, a collaboratively created platform that functions as a virtual town square, provides a way for young people to engage in civic affairs. The Wiki is open to everyone. BASAibu’s role in achieving this goal as the country’s democracy matures and the education system improves is to: 1) engage youth in civic engagement, 2) empower youth to understand how to use the internet effectively to improve the health and well-being of their communities (beyond using the internet only as a means of personal communication and entertainment), and 3) motivating young people to actually participate.

A number of programs and activities are being carried out by this initiative to achieve its goals and have an impact. The main activity of this initiative is the implementation of a wikithon competition (digital marathon competition) which invites and encourages youth participation to increase public participation in civic issues. Since the start of this initiative last March 2021, BASAibu Makassar has implemented three Wikithons. The first Wikithon was held last June with a TikTok video competition titled “Are we still online?” where participants were asked to give voice to their aspirations and opinions on online learning that they have been doing since the pandemic hit. The second Wikithon was a photo and caption competition because it coincided with the Indonesian Independence Day commemoration last August, with the theme “If you were a leader in your city, what would you do?”. From these two Wikithons, the participants received responses and enthusiasm from various groups, mainly from junior high school students, senior high school students and students in Makassar City and Gowa Regency. In addition to the Wikithons, a number of public discussions and BASAibu Community classes were held to open up space for discussion, learn from each other, share ideas, experiences and knowledge that ignited the enthusiasm of participants to participate more actively in this initiative.

In mid-October, BASAibu Makassar held the Wikithon #3 Environmental Video Competition, Benefits of Processing Waste “Appakmatu-matu Loro (Benefits of Managing Waste)” for Junior High School, Senior High School and Vocational High School Students, as well as Communities throughout South Sulawesi, with the competition open from 11—24 October 2021. This theme was raised specifically to respond to the fact that Indonesia is the second largest plastic waste contributor after China. There are about 185,753 tons of waste produced by 270 million people every day, ending up in landfill without being processed and polluting the environment. So it is important to involve the millennial generation to dare to express their ideas and opinions on how to take the right steps to solve environmental problems and be able to pass them on to policy makers.

In this Wikithon #3 Competition, groups of participants compete to create and implement an action plan that can have a real impact on waste reduction and processing, be it at schools, campuses, homes, or in the surrounding environment. For complete information, visit the Instagram @basaibu page. Participants can submit works in the form of videos with a maximum duration of three (3) minutes, photos of activities, accompanied by filling out the forms on the Environmental Initiatives collection in the BASAibu Virtual Library (basaibuwiki.org). The great hope from a number of activities initiated through this initiative is none other than to achieve the main goal of encouraging youth public participation for civic issues that lead to improving the welfare of the community. Hopefully this goal can be achieved.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *