AKADEMI EMERGING WRITERS MIWF: re–co–ordinate

Makassar 21-22 November 2025 – Rumata’ Artspace melalui Makassar International Writers Festival (MIWF) menyelenggarakan Akademi Emerging Writers yang kali ini berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dalam lingkup program MTN Lab. Pelaksanaan Akademi Emerging Writers dilaksanakan di Hotel W Tree, Jl. Andi Djemma, Makassar. Akademi Emerging Writersmerupakan program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para penulis muda terpilih dari Indonesia Timur. Kegiatan ini merupakan ruang inkubator bagi penulis terpilih Emerging Writers MIWF 2026 untuk menajamkan kembali cerita, gagasan maupun isu yang ingin diangkat dengan sistem mentorship oleh para mentor dan fasilitator dari MIWF.
Kehadiran MTN Lab di Akademi Emerging Writers semakin memperkuat peran MIWF sebagai festival yang konsisten mendorong pengembangan talenta sastra Indonesia Timur serta keterhubungannya dengan ekosistem sastra nasional. Sebagai program prioritas Kementerian Kebudayaan, Akademi Emerging Writers sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya untuk mengembangkan dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, sekaligus membuka akses bagi talenta sastra terhadap berbagai peluang peningkatan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.

Emerging Writers MIWF merupakan program unggulan dari Makassar International Writers Festival yang secara reguler dihadirkan untuk memperluas akses bagi para penulis sastra dari kawasan Indonesia Timur. Setiap tahun, setiap Emerging Writers terpilih akan diundang ke MIWF untuk bertemu dan berjejaring dengan para penulis, seniman dan penerbit terkemuka, sekaligus menampilkan karya-karya mereka di forum dan panggung utama MIWF. Proses pemilihan Emerging Writers MIWF dilaksanakan melalui open call yang dipublikasikan pada laman Instagram resmi MIWF dan diseleksi ketat oleh para kurator MIWF, tahun ini diantaranya; Putu Juli Sastrawan, Aziziah Diah Aprilya, dan Titah AW.
Kurator MIWF Aziziah Diah Aprilya menerangkan bahwa, “Membaca berbagai tulisan ini seperti melihat orang-orang di tengah tumpukan kerumitan dirinya; wilayahnya, relasi sosial-politiknya, cara pandangnya, dan terutama konflik-konfliknya. Kami memilih karya yang bukan hanya memberi tahu sesuatu, tapi juga yang bisa mengajak kita untuk ikut mempertanyakan bahkan menggugat lapis kekusutan itu. Para penulis tidak menghadirkannya dari lanskap yang megah. Mereka membiarkan kita melaluinya dari kebun, kuburan, sekolah, dapur, hingga tubuh sendiri. Tegas tapi pelan, personal, dan penuh perasaan. Kami percaya kekuatan itu ada bukan hanya karena kelincahan penulis merangkai kata, tapi mungkin juga karena titik-titik berbeda dari latar belakangnya yang saling terhubung. Saya berharap dari sana ada rasi baru yang terbentuk–entah di MIWF atau di lanskap setelahnya.”
Makassar International Writers Festival 2026 telah menetapkan tujuh orang sebagai Emerging Writers yang akan berpartisipasi pada pelaksanaan MIWF pada tahun mendatang. Nama-nama Emerging Writers yang dipilih diantaranya; Selina Aurora Rahayaan (Manokwari, Papua Barat), Petrus Nandi (Kupang, NTT), Diyah Prilly Upartini (Kotabaru, Kalsel), Silviana Yanti Mesak (Belu, NTT), Tara Febriani Khaerunnisa (Mataram, NTB), Runi Virnita Mamonto (Makassar, Sulsel), dan Achmad Rohani Renhoran (Makassar, Sulsel). Tujuh orang penulis ini akan mengikuti Akademi Emerging Writers dengan berbagai agenda seperti lokakarya yang diadakan secara daring dan luring, editing, mentoring one on one, dan mentoring final.
Kurator MIWF Putu Juli Sastrawan mengatakan, “Ketujuh penulis ini dinilai berdasarkan konsistensi tema dan penguasaan teknik bercerita mereka. Kekuatan karya mereka terletak pada orisinalitas sudut pandang yang kuat, terutama saat berani meninjau ulang isu tubuh dan norma sosial dengan cara yang spesifik dan provokatif, membedakannya dari cerita biasa. Selain itu, karya-karya ini juga memiliki kedalaman substansi pada isu-isu berat seperti konflik, sejarah, atau dinamika lingkungan yang rumit, yang menunjukkan kematangan dalam penceritaan. Dari sisi penulisan, mereka unggul dalam efisiensi naratif, dibuktikan dengan kemampuan beberapa penulis untuk langsung menarik perhatian dan menyampaikan cerita padat dengan dampak kuat sejak paragraf pertama. Secara keseluruhan, ketujuh penulis ini menampilkan potensi dan kekuatan yang sangat menjanjikan dalam karya-karya mereka.”

Emerging Writers yang terpilih memiliki karya sastra yang berbeda-beda, antara lain cerpen dan novel. Judul karya para Emerging Writers sebagai berikut; Ritual Makan Malam; Persembahan Untuk Paulus; Pemburu Nyamuk karya Petrus Nandi, Tanah yang Dipewarnai; Harga Seliter Solar, Anjing yang Menjilat-jilat yang dituli oleh Diyah Prilly Upartini, Jiku Ampa yang ditulis oleh Achmad Rohani Renhoran, Rumah Masa Kecil; Tanah Berdarah; Alfredo Sei Moris yang ditulis oleh Silviana Yanti Mesak, Pada Hari Aku Datang; Kos Putih Melawan; Kapur Terakhir di Morombuy yang ditulis oleh Selina Aurora Rahayaan, Bulu Ketiak; Mayat Perempuan; Tubuh yang ditulis oleh Tara Febriani Khaerunnisa, dan Banyak Bapak-Bapak di Rumah; Catatan Harian; Hunter yang ditulis oleh Runi Virnita Mamonto. Karya-karya mereka terpilih dari total 365 karya dari 233 pendaftar Emerging Writers MIWF 2026.
Kurator MIWF Titah AW mengungkapkan catatan dan harapannya bahwa “Ratusan karya yang diajukan tahun ini menunjukkan pada saya betapa prosa bisa jadi cermin jernih untuk merekam dunia yang nyaris pecah, sekaligus penuh celah. Dari muramnya mimpi yang terampas di kebun sawit, jimat yang membuat tentara kehabisan akal, kapur terakhir di ruang kelas, urusan bikin kopi untuk rapat demo, hingga pilihan untuk #KaburAjaDulu ke kota magis. Betapa krisis bisa mewujud segala rupa dan menghancurkan hidup si/apa saja. Kami memilah dan memilih dalam percakapan yang cukup sengit, sebab begitu banyak kompleksitas tema, latar budaya, skala konflik, kedalaman, dan cerita yang ditulis secara piawai. Cerita-cerita yang akhirnya terpilih kami anggap seperti koordinat di peta, yang kami pikir potensial sekaligus genting untuk saling dihubungkan. Segalanya saling dan silang, sekali lagi selamat dan sampai jumpa!.”

Pada pelaksanaan Akademi Emerging Writers, pihak MIWF juga melibatkan 2 mentor sebagai teman diskusi selama proses Akademi Emerging Writers berlangsung. kedua nama mentor tersebut yakni; Faisal Oddang, dan Cicilia Oday. Mereka adalah penulis yang telah lama berkecimpung di dunia sastra dan juga merupakan ‘alumni’ program Emerging Writers MIWF.
Makassar International Writers Festival di tahun 2026 mengangkat tema re–co–ordinate, ialah seruan untuk secara kolektif menentukan saling dan silang koordinat. Tema ini mengajak kita mempertanyakan koordinat sejarah, budaya, dan politik yang kita warisi, serta membaca ulang dan menggugat struktur-struktur dominan yang membentuk dan/atau merusaknya. Tema MIWF 2026 hendak mengajak kita untuk melihat multikrisis yang sedang kita hadapi saat ini bukan semata sebagai kegagalan kebijakan, melainkan juga sebagai kegagalan koordinasi. Bukan semata sebagai kegagalan rasional, namun juga sebagai kegagalan relasional. Tidak ada koordinat yang berdiri sendiri; setiap titik bertumpu pada relasinya dengan yang lain, sebagaimana komunitas, ekosistem, dan bangsa. Di tengah krisis iklim dan ekosida, genosida dan batas politik yang berubah, serta homogenisasi budaya yang mengancam keragaman, re–co–ordinate mengundang kita memetakan ulang posisi, titik tumpu, dan arah hadap.
Pada Akademi Emerging Writers yang dilaksanakan selama 2 hari yaitu tanggal 21-22 November 2025 beragendakan Masterclass Penulisan Kreatif, Klinik Karya serta Networking dan Kolaborasi: Forum jejaring antar-penulis, mentor, dan pegiat literasi yang bertujuan melakukan pemetaan kebutuhan dan dialog strategis: diskusi kebutuhan, tantangan, dan proyeksi ekosistem talenta sastra ke depan.. Harapannya pasca dari akademi ini akan menghasilkan antologi tulisan dari para peserta Akademi MIWF yang siap terbit dan akan dirilis di MIWF 2026 tahun depan. Selain itu, hadirnya komunitas emerging writers yang mumpuni untuk menghadiri serta mempresentasikan karyanya pada event literasi dalam skala internasional dan internasional. Serta rekomendasi program inkubasi yang relevan dan kontekstual bagi praktisi sastra (khususnya penulis) untuk pembinaan dan pengembangan diri bagi talenta sastra.

Sekilas tentang MIWF
MIWF adalah festival penulis yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak 2011. MIWF meraih penghargaan International Excellence Award sebagai festival sastra terbaik 2020 dari London Book Fair. MIWF adalah festival penulis internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur, yang dikerjakan secara independen, menjunjung HAM, bersifat anti-korupsi, inklusif, dijalankan sebagai kegiatan nir-sampah (zero waste) sejak 2019, dan mendeklarasikan diri sebagai festival yang menentang all-male panel sejak Maret 2020. Festival ini bertujuan menyebarkan dan merayakan sastra, meningkatkan minat baca, serta mendorong cara berpikir kritis. Lebih dari satu dekade MIWF, menjadi salah satu ajang sastra dan budaya terkemuka di Indonesia. Kami mengajak berbagai pihak bekerja sama untuk menciptakan ruang pertemuan dan diskusi di tengah berbagai keterbatasan. Info lengkap mengenai MIWF dapat diakses melalui www.makassarwriters.com




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!