Selamat Kepada Peserta Terpilih SEAScreen Academy 2024

SEAScreen Academy baru saja mengeluarkan pengumuman daftar peserta terpilih pada rabu (1/5) melalui akun instagram resminya. Hasil seleksi tersebut menampilkan dua belas daftar peserta terpilih yang kali ini berasal dari tujuh daerah berbeda yaitu Maumere, Sumbawa, Jambi, Palu, Luwu Timur, Gowa dan Makassar. Kedua belas peserta ini akan didatangkan ke Makassar untuk mengikuti rangkaian program tahap satu yang digelar selama tiga hari. Berikut profil para peserta terpilih SEAScreen Academy 2024:

Dhanny Wijaya Setiawan (Jambi)
adalah seorang penulis naskah dari Jambi, dan telah menjalani petualangan dalam menulis kreatif selama sekitar dua tahun. Dia mengasah keterampilannya di “Tim Penulis Bahagia” dan “Turion Creative”. Sebelum menemukan passion-nya dalam menulis, ia tertarik pada bercerita melalui stand-up comedy.

Dibekali dengan rasa ingin tahu dan dedikasi, Dhanny mengikuti berbagai kelas dan pelatihan yang akhirnya membawanya ke “SCENE”, sebuah program inkubasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2022. Program tersebut membantunya menemukan jalannya dalam berkolaborasi dengan “Turion Creative”. Hasil kolaborasinya, “Langit Tak Berujung”, terpilih sebagai seleksi resmi di JAFF 2023 dan sudah dapat ditonton di Bioskop Online.

Saat ini Dhanny memiliki tiga film pendek dan sebuah mini-seri dalam keranjangnya. Selain film, Dhanny juga peduli pada masalah lingkungan, menunjukkan dukungannya dengan melakukan kampanye untuk mengurangi pemborosan dan kerugian makanan.

M. Alif Wijaya (Makassar)
“Al” Ridwan lahir di Makassar, pada tanggal 19 Agustus 2004, dari ayah Jeneponto dan ibu Gowa. Dia sering mengunjungi pedesaan meskipun sebagian besar hidupnya terjadi di kota. Dia diperkenalkan dengan film melalui DVD bajakan yang diproduksi massal di pasar atau toko sejak usia muda.

Saat ini dia sedang belajar Film dan Televisi di Institut Seni Yogyakarta, ia fokus pada produksi film, penulisan naskah, dan komposisi musik film. Selama studinya, dia telah memproduksi dan menjadi penulis bersama dua film pendek, The Boy Who Dreamed of Lightning dan Kontapati.

Dinul Yakin (Palu)
Seorang penulis dan sutradara, menemukan minatnya dalam dunia film pada tahun 2017 ketika ia mulai terlibat dalam kompetisi FLS2N.

Ketertarikannya dalam pembuatan film semakin meningkat setelah berhasil mengangkat nama-nama daerah ke ajang kompetisi Film Nasional 2P dan mendirikan komunitas pemutaran film yang berfokus pada Sigi yang dikenal dengan nama Todea Cinema.

Eka Putra Nggalu (Maumere)
Lulus dari Institut Filsafat Ledalero, Maumere. Dia adalah salah satu inisiator Komunitas KAHE dan seorang penulis yang juga aktif dalam memproduksi, mengkurasi, dan mengarahkan berbagai jenis media seni, festival, pameran, dan program seni.

Dia belajar menulis dan memproduksi film fiksi dan dokumenter mulai tahun 2019. Karya-karyanya yang telah diterbitkan adalah Miu Mai (sebagai sutradara dan penulis naskah. Diproduksi oleh Viu Short 2019), Seri Dokumenter Kampung Wuring (sebagai produser dan sutradara. Diproduksi oleh Komunitas KAHE & Teater Garasi/Institut Pertunjukan Garasi, didukung oleh VOICE 2021), dan Mimpi Lilian, sebuah web-series (sebagai penulis naskah. Diproduksi oleh Bakti Kominfo 2022).

Erika Rachma Aprilia (Makassar)
Seorang lulusan program studi Multimedia dan Jaringan di Politeknik Negeri Ujung Pandang. Selama masa kuliah, dia pernah membentuk sebuah studio independen bersama teman-temannya untuk belajar dan menciptakan karya-karya audio-visual (2017-2019).

Saat ini, dia aktif sebagai seorang pustakawan di Katakerja. Erika gemar membaca karya sastra klasik, terutama karya-karya dari penulis Rusia. Pengalamannya dalam belajar telah membuatnya tertarik pada isu-isu makanan, perempuan, dan perkotaan.

Feby Ardiatri Pasangka (Luwu Timur)
Lahir di Tadulako pada tahun 1998, adalah lulusan Program Studi Jurnalisme dan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin. Pada tahun 2019 dan 2022, ia menjadi alumni dari program Indika Foundation, sebuah yayasan yang berkomitmen untuk memupuk semangat toleransi dan menyebarkan pendidikan perdamaian di Indonesia.

Feby mulai terlibat di Tanahindie dan Biennale Makassar sejak tahun 2021 sebagai peneliti dan pembuat dokumenter. Ia juga melakukan penelitian dan menulis untuk buku “Riwayat Gunung dan Silsilah Laut” yang diterbitkan pada tahun 2023. Di pertengahan tahun 2021, Feby bersama saudara perempuannya, Fibri, menginisiasi sebuah ruang baca untuk anak-anak dan remaja di Tadulako, Luwu Timur.

Yohanes Framlus Hebin Maget (Maumere)
Lahir pada tanggal 13 Desember 1988, telah aktif sejak tahun 2010 dalam pengembangan Teater Vigilantia dengan menulis dan mengarahkan pertunjukan. Dia juga terlibat dalam serangkaian acara Maumerelogia oleh Komunitas KAHE Maumere.

Sejak tahun 2019, dia menjadi instruktur videografi di BLK Komunitas Seminari Bunda Segala Bangsa di Maumere, serta menulis dan mengarahkan film-film pendek seperti; Rindu Rumahmu (2019), Tanpa Kamu (2020), Untuk Mama (2021), Ada Cerita Apa Tahun Ini? (2021), Three Calls (2022), Sophia (2022), Kompesa (2022), dan Sendiri (2023). Film pendeknya yang berjudul “Untuk Mama” meraih Penghargaan Penghargaan dalam ACFFEST 2021 untuk “Cerita Terbaik” sementara film terbarunya, “Sendiri”, mendapatkan penghargaan khusus dalam Festival Film Flobamora 2023. Saat ini, dia menjalani kehidupannya sebagai guru di SMAK St. Maria Monte Carmelo dan mengembangkan Komunitas UGU, dengan fokus pada produksi film pendek.

Ika Mahardika (Makassar)
Lahir di Makassar, dan memulai karya fiksinya yang pertama melalui workshop pembuatan film “Makassar in Cinema” pada tahun 2017, di mana ia berperan sebagai penulis naskah, sutradara, dan editor. Pengalaman ini membawanya pada keyakinan bahwa pembuatan film adalah sesuatu yang ia cintai dalam hidupnya.

Sejak saat itu, Ika mulai bereksperimen dalam pembuatan film. Dia menyutradarai sebuah film dokumenter pendek untuk Festival Film Penulis Internasional Makassar pada tahun 2018 dan 2019, serta belajar membuat film dengan 16mm seluloid dalam Workshop Film “Her Notebook” yang diselenggarakan oleh Lablabalaba & Goethe Institute pada tahun 2019. Saat ini, Ika tinggal di Tomohon, Sulawesi Utara, dan memperluas cintanya yang baru ditemukan dalam hidup sebagai seorang ibu dan ibu rumah tangga.

Nilayanti (Makassar)
Seorang mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, memiliki minat dalam dunia film yang ia coba salurkan dengan berpartisipasi dalam berbagai acara, kompetisi, dan organisasi.

Selain itu, cintanya terhadap adat dan budaya yang ada di Indonesia bagian timur telah menjadi bentuk dari upayanya untuk terus belajar dan menjaga budaya melalui karyanya. Hal ini memungkinkannya untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya, peduli terhadap warisan yang ada, sehingga membuatnya sangat ingin mengambil bagian dalam acara SEAScreen 2024, untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru yang lebih mendalam dalam dunia film dan penulisan.


Harsa Perdana (Sumbawa)
Lahir pada tanggal 14 Januari 2001. Dia tumbuh dan tinggal di lingkungan nelayan, kemudian memulai karir pembuatan filmnya pada tahun 2021 ketika kuliah. Film pertamanya “Selembar Kertas”, terpilih dalam Festival Film Sumbawa ke-3 dan membawanya menjadi aktif dalam komunitas film Sumbawa.

Selama sekitar satu tahun, dia membuat film keduanya, “Sang Punggawa Laut Sumbawa” yang kemudian dianugerahi Penghargaan Elang 2022. Perjalanan film keduanya membawanya ke dunia luar, memperkenalkannya pada pemahaman yang lebih dalam di berbagai festival film, baik nasional maupun internasional.

Ummu Amalia Misbah (Gowa)
Setelah lulus dari Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2020 dengan jurusan menulis skenario, dia saat ini bekerja sebagai penulis skenario di salah satu ruang penulis di Jakarta.

Beberapa karyanya dapat dilihat di berbagai media seperti bioskop atau platform OTT. Seperti; Air Mata Di Ujung Sajadah (film) dan Santri Pilihan Bunda (seri). Tidak hanya itu, Ummu juga menulis sebuah novel berjudul Bukan Salah Hujan, diterbitkan oleh Grasindo dan telah menjadi best seller sejak tahun 2018. Hingga saat ini, Ummu tinggal di Jakarta dan kadang-kadang kembali ke Gowa, kampung halamannya.

Muhammad Sabiq (Makassar)
Lahir pada 27 Juni 1992, adalah seorang pelawak dan penulis dari Kabupaten Bone. Dia lulus dengan gelar sarjana dan magister dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Sebagai seorang penulis, Sabiq, seperti yang biasa dipanggil, telah menerbitkan beberapa karya tulis, termasuk Suara Kayu (2012), Malabar (2015), dan Merbabu (2017), serta sebuah kumpulan cerita pendek komedi gelap Begini Dosa Begitu Dosa (2023). Selain menulis, Sabiq juga terlibat dalam produksi film pendek, menggunakan platform seperti Instagram untuk bereksperimen dengan narasi visual. Keterlibatannya dalam dunia film menunjukkan perluasan bakatnya dari panggung komedi ke ranah film, seperti dalam seri Cek Toko Sebelah: Babak Baru (2022), Pulang Tak Harus Rumah (2024), dan Keluar Main1994 (2024).

SEAScreen Academy tahap satu akan segera dimulai pada pekan depan tanggal 22 Mei mendatang. Para peserta terpilih akan segera mengikuti rangkaian agenda yang dilaksanakan selama tiga hari. Salah satu program yang akan mengawali agenda SEAScreen Academy 2024 adalah MasterClass: South East Asian Film Now, yang merupakan rangkaian dari kegiatan kepenulisan film yang berfokus pada penceritaan nilai lokalitas. Kegiatan ini membincangkan pengalaman, refleksi dan berbagai sudut pandang dari para pelaku industri film Asia Tenggara mengenai bagaimana mereka membawa unsur budaya atau lokalitas dalam produksinya, tanpa melupakan relevansi dengan isu global saat ini.

Arsip Perjalanan MIWF Bersama Jokpin

“MIWF itu sangat keren dan membuat kangen. Lebih dari sekadar festival sastra. Ia sudah menjadi perayaan seni dan literasi. Saya terkesan dengan layanan panitia yang ramah dan selalu siap sedia; sajian bermacam-macam acara yang menarik dan inspiratif; pertunjukan seni yang bermutu dan menghibur; partisipasi dan gairah masyarakat (khususnya kaum muda) yang luar biasa; tempat yang lapang dan nyaman; kerja keras penyelenggara yang penuh dedikasi; dan tentu saja keseluruhan suasana yang hangat dan damai”

Joko Pinurbo, Sastrawan

Mungkin saja, MIWF yang sedemikian bertumbuh, akan terasa begitu biasa saja, atau bisa jadi datar dan dingin, jika saja entitas seorang Jokpin yang rendah hati dan sederhana itu tak pernah ada di daftar meja-meja diskusi atau mimbar-mimbar puisi MIWF. Mungkin saja, mereka yang beramai-ramai mendatangi MIWF, tidak akan menjadi seantusias kini, jika saja nama Joko Pinurbo tidak pernah muncul dalam deretan agenda tahun-tahun MIWF digelar. Atau mungkin, ekspektasi tentang MIWF tidak akan se-euforik ini jika penyair besar bernama lengkap Philipus Joko Pinurbo itu enggan menerbitkan karya-karyanya. Bahkan mungkin, panggung puisi Indonesia hari ini akan menjadi begitu menegangkan perihal membicarakan keseriusan hidup, jika saja Joko Pinurbo tidak pernah benar-benar menjadi sastrawan.

Ketika membaca sajak-sajak Jokpin, kita seperti menelan kegetiran yang demikian jenaka, yang dirangkai dengan apik, ciamik dan begitu menggelitik. Setelah kepergiannya, penyair Aan Mansyur bahkan berikrar akan menunaikan janjinya tujuh tahun lalu untuk menulis puisi berjudul ‘Joke Pinurbo’. Sastrawan satu ini memang benar-benar membuat orang-orang terkesan dengan karya-karyanya yang begitu fantastis menjungkirbalikkan realitas hidup melalui kerangka sajak.

Sajaknya yang berjudul ”Celana, 1”, ia tulis tahun 1996, Jokpin menjadikan celana untuk membicarakan kerinduan seorang anak pada sang ibu:

Ia ingin membeli celana baru

buat pergi ke pesta

supaya tampak lebih tampan

dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana

namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga

yang merubung dan membujuk-bujuknya

ia malah mencopot celananya sendiri

dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya

aku sedang mencari celana

yang paling pas dan pantas

buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir

tanpa celana

dan berkelana

mencari kubur ibunya

hanya untuk menanyakan:

”Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

Salah satu sajaknya yang pernah ia bacakan di panggung MIWF (2017), ‘Langkah-langkah Menulis Puisi’:

Langkah-langkah menulis puisi:

Langkah pertama, duduk

Langkah ke dua, duduklah dengan tenang

Langkah ke tiga, duduklah dengan tenang di atas batu

Langkah ketiga, duduklah dengan tenang di atas batu

Langkah ke empat, duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan jadi batu nisanmu

Langkah ke lima, duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan jadi batu nisanmu sambil membaca

Langkah ke enam, duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan jadi batu nisanmu sambil membaca Pramodya, ‘Hidup sungguh sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya’

Sebelum berpisah dengan MIWF, agenda terakhir Jokpin begitu menyenangkan dan meninggalkan kesan cukup dalam bagi penggemarnya. Memang kehadiran Jokpin di MIWF selalu membuat orang-orang bersemangat untuk datang dan menyimak tiap-tiap agendanya, sehingga ruangan atau tempat diskusi menjadi begitu ramai. Jokpin pertama kali diundang ke MIWF pada tahun 2013. Beberapa orang yang menghadiri MIWF di tahun-tahun Jokpin dihadirkan tentu mempunyai kemungkinan ingatan tentang bagaimana sosok beliau. Berikut arsip tahun-tahun perjalanan MIWF bersama Jokpin:

MIWF 2013 – Jokpin mulai terlibat di MIWF pada tahun 2013, yang diawali dengan hadir sebagai pembicara yang membuka percakapan seputar proses kepenyairannya.

“Diskusi puisi bersama Jokpin. Acara dipandu oleh M. Aan Mansyur dan ruangan dipenuhi oleh para peserta diskusi. Antusiasme peserta tampak sejak awal Aan membuka sesi tanya-jawab. Pada sesi tersebut, Jokpin berkisah tentang riwayat kepenyairannya. Bagaimana ia mulai belajar mengarang puisi, proses kreatif yang ia lakukan, dan hal-hal lain yang memberi banyak sekali pencerahan serta inspirasi bagi saya sendiri.” – Bernard Batubara dalam catatan perjalanannya di MIWF 2013 bersama Jokpin.

Jokpin makan malam bersama para penulis MIWF (Arsip MIWF 2013)
Jokpin bersama Aan Mansyur dalam percakapan menceritakan proses kepenyairannya


MIWF 2016 – Jokpin hadir dan mengisi tiga agenda berbeda selama tiga hari. Dua di antaranya agenda diskusi dan membacakan puisi.

Workshop: The Essential Things in Poetry bersama Marius Hulpe dan Alia Gabres
Peluncuran Buku “Sayembara Tebu” bersama Faisal Oddang dan Jamil Massa (Arsip MIWF 2016)
Jokpin (Arsip MIWF 2016)


MIWF 2017 – Selain hadir untuk membacakan puisinya di panggung Under Poetic Stars, Jokpin juga menemani Sapardi sebagai host dalam agenda In Conversation with Sapardi Djoko Damono.

Jokpin Membacakan Puisi di Under Poetic Stars (Arsip MIWF 2017)
Jokpin & Sapardi saat In Conversation with Sapardi Djoko Damono (Arsip twitter.com/shintafebrianys)


MIWF 2019 – Jokpin hadir mengisi dua agenda diskusi, ‘Dunia Sastra Tak Kenal Minoritas/Mayoritas’ dan peluncuran bukunya ‘Srimenanti’ bersama Aan Mansyur.

Jokpin membaca puisi ‘Baju Bulan’ di malam Under The Poetic Star (Arsip MIWF 2019)
Peluncuran Buku Srimenanti Joko Pinurbo, dimoderatori oleh Aan Mansyur (Arsip MIWF 2019)



MIWF 2023 – Di MIWF terakhirnya, Jokpin mengisi rangkaian agenda yang cukup padat. Di hari pertama kedatangan, paginya Jokpin sudah bertemu dengan 5 penggemarnya dalam ‘On the Table: Poem, Breakfast Bersama Joko Pinurbo’, kemudian dilanjutkan saat sore dengan ‘Launching Buku: Rukun Ranah’ bersama Mosyuki Borhan dan pemandu Shinta Febriany, dan tentu saja malamnya Beliau mengisi panggung Under Poetic Stars dengan puisi-puisinya. Kemudian besok, Jokpin hadir sebagai pembicara pada agenda diskusi ‘Interfaith: Solidaritas dan Keberagaman’ bersama Theoresia Rumthe, Mosyuki Borhan dan dipandu oleh Aan Mansyur. Sayangnya Jokpin harus kembali ke Jogja sebelum hari puncak MIWF tiba.

*’On the Table: Poem, Breakfast Bersama Joko Pinurbo’

*’Launching Buku: Rukun Ranah’

*’Under Poetic Stars’

*’Interfaith: Solidaritas dan Keberagaman’

Joko Pinurbo adalah salah satu sastrawan terbaik yang pernah dimiliki tanah air yang telah menjadi abadi dalam karya-karyanya, di antara mereka yang pernah hadir di MIWF dan pernah saling berbagi nilai. Kepada mereka yang telah berpulang: Alm. Ahmad Nirwan Asuka, Alm. Sapardi Djokodamono, Alm. Chalvin Papilaya (Emerging Writers MIWF 2016), Almh. Lily Yulianti Farid dan Alm. Joko Pinurbo, terima kasih.

‘Roots’: SEAScreen Academy 2024

Setelah jeda beberapa tahun, salah satu program unggulan dari Rumata’ ArtSpace, South East Asian Academy (SEAScreen Academy) kembali membentangkan layarnya di tahun ini. Melalui pengumuman Open Call yang dirilis pada tanggal 29 Maret lalu lewat akun Instagram resminya, SEAScreen Academy 2024 kembali dibuka.

SEAScreen Academy merupakan program pelatihan dan pengembangan film yang diprakarsai oleh sutradara film Riri Riza dan Rumata ’ArtSpace. Pertama kali digelar pada tahun 2012, SEAScreen menjadi agenda yang digelar tahunan sampai pada tahun 2018 dan satu edisi daring di tahun 2020. Program ini mencakup rangkaian agenda yang dikemas mulai dari pelatihan intensif tentang perfilman, seperti pertemuan kelas, lokakarya/workshop, pemutaran hingga produksi film. Diikuti oleh sineas-sineas muda dari Indonesia timur yang terpilih sebagai peserta dan didampingi oleh para praktisi film terbaik dari Asia Tenggara.

SEAScreen kali ini hadir dengan mengusung tema “Roots” atau ‘akar’ yang menggambarkan komitmen untuk menjelajahi dan merangkul akar budaya yang ada di Indonesia Timur, sekaligus mencakup semangat untuk menggali dan menghargai asal-usul, sejarah dan nilai-nilai yang melandasi cerita-cerita film. Selain mengangkat ‘akar’ sebagai tema, SEAScreen juga datang dengan konsep pelatihan yang diberi nama ‘Story Camp’, sebuah grup belajar di mana peserta akan didampingi oleh para mentor dari praktisi film terkemuka Asia Tenggara dengan rangkaian agenda diskursus tentang perfilman, mulai diskusi, lokakarya sampai masterclass dan lainnya, di mana grup belajar ini juga merupakan proyeksi sebuah forum yang berupaya membuka dialog seputar isu-isu terkini perfilman di Asia Tenggara.

Profil para mentor yang akan mendampingi peserta SEAScreen 2024 baru saja diumumkan. Mereka adalah Amanda Nell Eu (Director & Scriptwriter), Prima Rusdi (Scriptwriter), Chalida Uabumrungjit (Archivist), Yandy Laurens (Director & Scriptwriter), Andi Burhamzah (Director) dan Hannah Al Rashid (Actress).

Tentu saja kembalinya SEAScreen di tahun 2024 ini menjadi angin segar bagi sineas muda khususnya di wilayah Indonesia timur. Melihat di tengah derasnya ide-ide dan semangat berkarya yang terus bermunculan, SEAScreen menjadi wadah yang tepat bagi sineas muda untuk mengembangkan bakat perfilman mereka.

Peserta terpilih SEAScreen Academy 2024 akan diumumkan pada tanggal 1 Mei mendatang. Ikuti terus keberlanjutan SEAScreen Academy 2024 melalui akun Instagram SEAScreen Academy.

Kabar Residensi Dari Breeze: Makassar-Perth

Kabar baik baru saja datang dari Perth Institute of Contemporary Art (PICA). Andi Nur Azimah telah tiba di kota Perth, Australia Barat pada Selasa (17/4).

Azimah adalah seniman residensi pertama dari Makassar yang terpilih dalam program pertukaran seniman Breeze: Makassar-Perth. Selama berada di Perth, Azimah akan mengeksplorasi hubungan tentang musik dan penceritaan antara orang Makassar dan Aborigin, sebagai upaya merawat hubungan yang telah terjalin empat abad silam.

Breeze: Makassar-Perth adalah program pertukaran seniman yang dicanangkan oleh PICA, bekerja sama dengan Rumata’ ArtSpace dan Universitas Negeri Makassar, serta didukung oleh Project Eleven. Program residensi ini membuka kesempatan bagi seniman untuk menjelajahi petualangan artistik dan mengembangkan hubungan budaya antara Australia Barat dan Makassar.

Bagi kamu seniman Makassar yang tertarik mengikuti residensi lintas benua bersama PICA, kesempatan ini juga bisa kamu dapatkan melalui Open Call selanjutnya. Pantau terus informasi mengenai perkembangan program Breeze: Makassar-Perth melalui akun instagram dan website Rumata’ ArtSpace.

Berkenalan Dengan Emerging Writers MIWF 2024

Selamat kepada para penulis yang telah ditetapkan oleh tim kurator MIWF 2024 sebagai Emerging Writers tahun ini. Pengumuman penulis terpilih tahun ini cukup penuh dengan kejutan. Nama-nama terpilih sebagai Emerging Writers MIWF 2024, ternyata tidak hanya lima orang seperti yang diumumkan sebelumnya, tetapi tujuh!

Mari berkenalan dengan tujuh Emerging Writers yang akan meramaikan panggung MIWF 2024 di bulan Mei ini.

Julia F. Gerhani Arungan
(Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat)

Lahir di Lombok, 1982. Menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama. Sejumlah puisinya masuk dalam bunga rampai Seratus Penyair Perempuan (KPPI, 2014), Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (Komunitas Radja Ketjil, 2014), Taman Pitanggang (Akarpohon, 2015), dan Ibu (Antologi Kata, 2019). Menulis antologi puisi tunggal Ibuku Mengajari Bagaimana Mengisi Peluru (CV Halaman Indonesia dan Akarpohon, 2021). Sekarang bermukim di Sandik, Lombok Barat.

Nuraisah Maulida Adnani
(Mataram, Nusa Tenggara Barat)

Nuraisah Maulida Adnani lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media, baik online mau pun cetak. Saat ini bergiat di komunitas Akarpohon, juga mengelola perpustakaan Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Varla R. Dhewiyanti
(Kubu Raya, Kalimantan Barat)

Penulis asal Kalimantan Barat, karya-karyanya banyak berbicara tentang isu kesehatan mental. Mulai menulis sejak bangku SMP, cerpen pertamanya Awan Kelinci terbit di majalah Bobo. Salah satu artikelnya tentang pengalaman berkunjung ke Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu dimuat Majalah Femina. Cerpennya berjudul Timi Mengenakan Senyum masuk 10 besar pemenang Sayembara Cerita Kesehatan Mental “Nuraga” yang diadakan Penerbit Sekala Kecil dan Rumah dengan Telinga dimuat dalam Antologi Bersama “Rahasia Keluarga” Vol.2 – Okky Madasari dan Alumni OM Institute. Karyanya yang lain juga mengangkat tema sama berjudul Pernikahan, Pasta Gigi, dan Kalimat-Kalimat Panjang yang Memusingkan.

Yuan Jonta
(Manggarai, Nusa Tenggara Timur)

Yuan Jonta adalah alumni Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tinggal di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Dia juga seorang pegawai negeri sipil di Pemkab Manggarai sekaligus anggota Klub Buku Petra dan penulis novel Kereta Semar Lembu, Kereta Ingatan.

Dunstan Obe
(Kupang, Nusa Tenggara Timur)

Lahir di Dili, 19 Mei 1998. Menulis puisi, esai, dan kritik sastra. Karya-karyanya telah disiarkan di sejumlah media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang. Ia terpilih sebagai salah satu pemenang Sayembara Membaca Flores Writers Festival (2021). Alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira.

Novan Leany
(Samarinda, Kalimantan Timur)

Asal Samarinda, Kalimantan Timur. Pegiat seni dan pencinta kopi. Telah menerbitkan buku pertamanya “Eufolina” pada tahun 2019. Puisi-puisinya pernah tayang di berbagai media massa, antara lain Koran Tempo, Mata Puisi, Koran Sumbar dan Beritabaru.co. Kini bergiat di komunitas Macandahan. Dalam waktu terdekat pula sedang berproses untuk persiapan buku antologi puisi keduanya dan sekarang menetap di Yogyakarta melanjutkan pendidikan studi S2 psikologi.

Andi Batara Al Isra
(Makassar, Sulawesi Selatan)

Andi Batara Al Isra menyelesaikan program sarjana di bidang Antropologi, Universitas Hasanuddin dan melanjutkan studinya ke jenjang master di the University of Auckland, New Zealand dengan jurusan yang sama. Selain menulis artikel jurnal dan laporan penelitian, Batara juga menulis cerpen dan puisi. Cerpennya berjudul “Mengenang Padewakkang” diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Dalang Publishing, sebuah penerbit yang berbasis di Californa. Buku solo pertamanya adalah kumpulan puisi “Di Seberang Gelombang” (2019). Saat ini, dia aktif sebagai dosen di Departemen Antropologi Unhas dan sebagai peneliti juga editor di Yayasan Antropos Indonesia. Batara dan tim Antropos baru saja menerbitkan buku tentangRumata’ Dua Belas Tahun Membangun Kebudayaan.

Tim 7 Diskusi Soal Strategi dan Taktik di Rumata’ ArtSpace

Pada Selasa (5/3/2024), teman-teman kolektif Tim 7 mengadakan diskusi perihal Strategi dan Taktik di Rumata’ Art Space. Diskusi dengan judul “Jalan Setapak Tak Bertuan” ini dihantarkan oleh Ryan Akmal Suryadi yang merupakan salah satu anggota Tim 7.

Bermula di Kota Makassar pada 2022 lalu, Tim 7 berkomitmen untuk membuka ruang transformasi pengetahuan yang bisa diakses oleh siapa saja. Tim 7 sedang berupaya menapaki jalan setapak dalam rangka merawat cita-cita akan ‘gagasan hidup bersama’, sebuah imajinasi tentang hidup dengan prinsip kesetaraan bagi semua.

Melalui diskusi yang diikuti sekitar dua puluh peserta dari berbagai latar belakang ini, diharapkan mampu menjadi wadah untuk merancang strategi dan taktik yang sesuai dengan konteks masing-masing. Menurut Ryan, alasan diskusi ini diberi judul “Jalan Setapak Tak Bertuan” oleh Tim 7 karena isinya seumpama jalan setapak yang tidak bertuan, artinya tidak ada blueprint soal teknis strategis seperti apa.

“karena strategi dan taktik yang isinya sebenarnya itu ya, perumpama (seumpama) jalan setapak begitu, yang tidak bertuan karena tidak ada blueprint soal teknis strategis seperti apa, mesti disesuaikan dengan konteks masing-masing, makanya itu framing materinya (makanya) itu jadi perihal merancang strategi dan taktik. gerakan, (seperti itu),” kata Ryan saat diwawancarai (5/3/2024).

Kegiatan serupa diskusi seperti ini telah dilakukan Tim 7 di beberapa komunitas, kolektif di Kota Makassar, termasuk Rumata’ Art Space.

“Sebelum ke Rumata’ Art Space, Tim 7 juga sudah melaksanakan agenda diskusi juga sama beberapa kegiatan di beberapa komunitas, kolektif di Kota Makassar. Kata Kerja, Riwanua, Kampung Buku, Siku Ruang Terpadu, dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Bara Baraya. Ini titik keenam di Rumata’ Art Space sekaligus hari terakhir,” jawab Ryan.

Rumata’ Art Space menjadi salah satu pilihan untuk dijadikan lokasi berlangsungnya diskusi tidak luput dari komitmen yang dibawa bersama tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan karya, khususnya di bidang literasi. Selain itu, Rumata’ Art Space juga merupakan jaringan strategis sekaligus wadah penghubung bagi banyak komunitas dan masyarakat.

“Kenapa Rumata’ karena Rumata’ itu menurut Tim 7 salah satu jaringan strategis ya, menurutnya Tim 7 punya irisan pada frekuensi pengembangan ilmu pengetahuan dan karya, begitu, literasi khususnya (seperti itu),” tutup Ryan.

Merawat Bahasa Daerah, BASAsulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki Meluncurkan Kamus Digital Bahasa Makassar dan Banjar

Jakarta – Setelah 10 tahun mengembangkan kamus digital Bahasa Bali, di tahun 2024 BASAibu Wiki kembali meluncurkan 2 kamus sekaligus, yakni Bahasa Makassar dan Banjar, yang dikembangkan dan dikelola oleh BASAsulsel Wiki bersama mitra komunitas Rumata’ ArtSpace, dan BASAkalimantan yang berkolaborasi dengan Komunitas Akademi Bangku Panjang Minggu Raya (ABPM) dan Sanggar Belajar Mahabbatun Nabi Barambai di Kalimantan Selatan.

Kamus digital bahasa daerah Makassar dan Banjar tersebut resmi diluncurkan secara hybrid di @america Pacific Place Mall Lantai 3 #325 Jl. Jendral Sudirman, Jakarta, pada Kamis (8/03/2023).

Agenda peluncuran itu berjalan dengan rangkaian acara berupa diskusi tentang Bahasa Daerah yang diisi oleh narasumber Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum. (BASAibu Wiki), Putu Eka Gunayasa (BASAbali Wiki), Ita Ibnu (BASAsulsel Wiki), dan Hudan Nur (BASAkalimantan Wiki). Adapun lomba bagi para hadirin yang ada di Jakarta maupun di Makassar. Acara tersebut semakin meriah dengan diramaikan oleh performance dari rapper Jflow yang mengajak para hadirin untuk memberikan sepatah kata dalam Bahasa Daerah yang kemudian dijadikan sebagai materi di lirik lagu dan dimainkan pada saat itu juga.

Dilansir dari SHNet, Hudan Nur, pegiat literasi dari BASAkalimantan Wiki mengatakan, BASAkalimantan Wiki merupakan terobosan mutakhir, dan digitalisasi Bahasa Banjar berbasis wiki adalah upaya merawat Bahasa Daerah yang hampir punah.

“Bahasa Banjar secara nyata menjadi ‘lingua franca’, bahasa yang acap dipakai sebagai penghubung antara Banjar dengan Dayak (selaku penduduk asli Kalimantan),” pungkas Hudan, yang aktif berkegiatan literasi di Kalimantan Selatan.

Penjelasan juga datang dari Managing Director BASAbali Wiki, Putu Eka Guna Yasa soal alasan mengapa bahasa Makassar bisa terpilih. Menurutnya karena penuturnya relatif besar, sehingga langkah digitalisasi merupakan upaya yang tepat agar penutur asli dapat mendokumentasikan warisan bahasa mereka melalui platform digital kreatif.

Guna Yasa juga menjelaskan terkait bahasa Banjar, menurutnya BASAkalimantan Wiki merupakan langkah yang penting merujuk pada lokasinya yang akan berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara. “Kita tahu ada ibu kota negara Nusantara yang dibangun di Kalimantan. Oleh sebab itu, bahasa yang penting di Kalimantan adalah bahasa Banjar,” tuturnya.

Ita Ibnu, sebagai pengelola BASAsulsel Wiki mengungkapkan bagaimana kaum muda di Makassar merespons isu-isu sosial di masyarakat  dengan Bahasa daerah. “Kita kolaborasi dengan Balai Bahasa dan alhamdulillah sudah ada kamus digital,” pungkasnya.

Kekuatan Bahasa Daerah

Acara peluncuran itu juga dihadiri oleh sutradara dan penulis skenario kelahiran Makassar, Riri Riza, yang ikut berpatisipasi dalam upaya merawat bahasa daerah yang menurutnya sangat penting untuk dilestarikan.

‘Bahasa daerah bisa menjadi kekuatan ketika semua hal berkembang secara generik”

“Kota Makassar sangat dinamis baik dalam bidang seni, budaya, dan juga film. Ada sejumlah film lokal yang hanya diputar di sana,” tuturnya.

Selain peluncuran kamus digital, kabar baik juga datang bagi BASAsulsel Wiki dan mitra pengelolanya Rumata’ ArtSpace yang mendapatkan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui U.S Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP) yang akan berjalan hingga tahun 2025 mendatang untuk mengembangkan kamus digital Bahasa Makassar.

Kini, kamus digital Bahasa Makassar telah tersedia dan bisa kunjungi di website BASAsulsel Wiki basasulselwiki.org

Kunjungan Kedutaan dan Konsulat Jenderal Amerika ke Rumata’

Foto bersama usai agenda kunjungan: (tengah kiri) Abraham Y. Lee, (tengah kanan) Joshua Shen, (kanan) Christian N. Simanullang

Pada Senin pagi (5/2/24) Rumata’ ArtSpace kedatangan kunjungan dari perwakilan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Jakarta, Deputy Cultural Attace’ Abraham Y. Lee dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat dari Surabaya Joshua Shen bersama Information Resource Center Director Christian N. Simanullang di Makassar.

Kunjungan tersebut bertujuan membahas potensi kerja sama antara Rumata’ ArtSpace dan Kedutaan Besar Amerika Serikat perihal penyediaan wadah informasi berupa American Corner dan Education USA atau layanan konsultasi pendidikan Amerika Serikat di Rumata’ ArtSpace. Kedatangan itu disambut baik oleh Rachmat Mustamin, Itha Ibnu dan Ifdhal Ibnu selaku perwakilan Rumata’.

Pihak Kedutaan saat berkeliling di dalam area kantor dan galeri

American Corner merupakan program kerja sama antara Kedutaan Besar Amerika Serikat dengan Indonesia yang saat ini sedang berjalan di beberapa universitas yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dibentuk sebagai wadah informasi berupa pendidikan, politik, budaya, dan hal lainnya mengenai Amerika Serikat. Biasanya wadah tersebut dipenuhi oleh banyak jenis buku yang bisa dijadikan sebagai sumber untuk mengenal tentang Amerika Serikat atau agenda-agenda volunteering dan program-program yang beragam seperti bedah beasiswa, bedah budaya, diskusi, dan hal-hal lainnya.

Obrolan hangat bersama pihak Kedutaan di halaman belakang Rumata’

Rumata’ menjadi salah satu pilihan kerja sama sebab dinilai merupakan wadah penghubung bagi banyak komunitas dan masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi banyak hal dalam seni dan kebudayaan di Kota Makassar. Pertemuan itu berlangsung hangat di halaman belakang yang ditemani beragam obrolan dengan kopi dan kue-kue khas Makassar.

Peluncuran Kamus Digital BASAsulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki oleh BASAibu Wiki & The U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) – Kedutaan Besar Amerika di Jakarta

Hasil kajian kebahasaan yang dilakukan oleh Badan Bahasa setiap tahun menunjukkan adanya kekhawatiran besar yang melanda bangsa ini, yakni terdapat delapan bahasa dikategorikan punah, lima bahasa kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa mengalami kemunduran, 24 bahasa dalam kondisi rentan (stabil tetapi terancam punah), dan 21 bahasa berstatus aman. Punahnya bahasa daerah di era globalisasi ini merupakan permasalahan serius ini, agar warisan budaya tak benda ini tidak hilang perlahan ditelan masa diperlukan upaya kolaboratif untuk merawat bahasa daerah. 

BASAibu Wiki adalah organisasi yang mendorong kaum muda untuk menyuarakan pendapat mereka melalui platform digital dalam bahasa ibu atau bahasa lokal yang diinisiasi dan diorganisir oleh BASAbali. ​​BASAibu memperkuat peran kaum muda untuk mengatasi masalah-masalah kewarganegaraan dengan pemerintah melalui platform digital yang dikembangkan oleh masyarakat dalam bahasa daerah sekaligus memperkuat penggunaan bahasa-bahasa tersebut. Dengan dukungan dari berbagai pihak, inisiatif ini direplikasi di daerah lain. Salah satunya di Sulawesi Selatan, yang disebut BASAsulsel Wiki pada tahun 2020, berkolaborasi dengan mitra lokal Rumata’ Art Space. Satu lagi di Kalimantan, bernama BASAkalimantan Wiki berkolaborasi dengan Akademi Bangku Panjang Minggu Raya (ABPM) dan Sanggar Belajar Mahabbatun Nabi Barambai di Kalimantan Selatan. Replikasi pengembangan kamus digital BASAsulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki merupakan dukungan The U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta yang berjalan selama 2 tahun (2023-2025). Untuk mendapatkan informasi tentang BASAsulsel Wiki dan BASAbali Wiki dapat mengunjungi basasulselwiki.org dan basabaliwiki.org 

Aspek unik dari kamus ini adalah bahwa kamus ini diproduksi bersama oleh masyarakat. Masyarakat diundang untuk mengirimkan contoh kalimat dalam bentuk teks dan video yang menggunakan kata-kata dalam konteks, sehingga kamus ini menjadi hidup dengan penggunaan aktual yang digunakan oleh orang-orang yang sebenarnya seperti yang mereka ucapkan saat ini. Kompetisi berkala (“Wikithons”) mendorong generasi muda untuk berpartisipasi dalam mengembangkan sumber daya gratis ini untuk komunitas lokal dan dunia yang lebih luas.

Inisiatif ini mencoba mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah dengan mengembangkan kamus digital bahasa Makassar di BASAsulsel Wiki dan bahasa Banjar di BASAkalimantan Wiki. Program yang rencananya akan dilaksanakan dalam 2 tahun (2023-2025) ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat untuk menggunakan berbagai bahasa daerah di dunia digital modern. Platform ini membantu masyarakat untuk melindungi dan memperkuat bahasa mereka dengan cara-cara yang penting bagi mereka, dengan memanfaatkan teks-teks tradisional, literatur, media sosial, ritual, tradisi lisan, dan percakapan sehari-hari. Tutorial membuat akun di BASASulsel Wiki kunjungi tautan  …..

Untuk itu BASAibu Wiki akan melaksanakan Peluncuran Kamus Digital BASASulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki yang dilaksanakan secara luring pada: 


Hari/Tanggal : Kamis, 7 Maret 2024
Waktu : Pukul 16.00 – 18.00 WIB (Agenda terlampir)
Tempat : @america Pacific Place Mall 3rd floor #325 Jl. Jendral Sudirman, Kav.52-53 Kebayoran Baru, South Jakarta, 12190

Registrasi melalui tautan  

Panitia menyediakan penggantian transportasi dan E Sertifikat. 

Tujuan

  1. Memperkenalkan serta mempromosikan kamus digital BASASulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki kepada stakeholder di tingkat nasional. 
  2. Membangun kerja sama baru dan peluang kolaborasi dengan stakeholders di tingkat nasional dalam pemanfaatan kamus digital BASASulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki
  3. Melaksanakan Wikithon Kamus Digital BASAsulsel Wiki

Output

  1. Eksposur Kamus digital BASASulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki kepada stakeholder di tingkat nasional. 
  2. Kerja sama dan peluang kolaborasi dengan stakeholders di tingkat nasional dalam pemanfaatan kamus digital BASASulsel Wiki dan BASAkalimantan Wiki
  3. Wikithon Kamus Digital BASAsulsel Wiki

Narahubung: Aqram +62-831-3801-1402 (Teks Whatsapp)

Gorilla: Pecahan Tanah Penuh Luka

Oleh: Khomeiny Imam

Semua foto oleh Aziziah Diah Aprilya

Jika melihat masa lalu, jelas sejarah dunia penuh kekerasan. Jejak-jejaknya yang hadir di sekitar kita juga tidak luput dibangun di atas genangan darah dan tumpukan mayat. Beberapa di antaranya timbul menjadi narasi mayor, beberapa harus tetap tertimbun dalam-dalam, implisit dan mesti digali.

Sejarah kelam gerilya DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Sulawesi Selatan misalnya, yang menjadi salah satu sejarah pemberontakan terlama di Indonesia ternyata masih banyak menimbun deretan lubang eviden di antara rentetan catatannya yang kelam. Konon, beberapa daerah di Sulawesi Selatan yang pernah dijadikan kanton DI/TII, sebagian warganya masih menganggap bahwa Kahar Muzakkar sebagai sosok yang memimpin pemberontakan itu yang telah ditetapkan mati ditembak oleh militer Indonesia pada 3 Februari 1965 di Kecamatan Lasolo, Konawe Utara, masih dianggap hidup sampai saat ini. Wallahu alam bishawab.

Kian masa, wacana sejarah kerap menjadi kebutuhan utama dalam banyak praktik kesenian. Sebagai seorang seniman performans, kira-kira itu yang dilakukan oleh Rachmat Mustamin, menggali pecahan sejarah penuh luka atas tragedi Islamisasi DI/TII di kampungnya Bone, melalui sang nenek.

Di Desa Solo’, Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, adalah kampung di mana nenek Rachmat tinggal. Nama neneknya adalah Andi Manika. Dalam panggilan Bugis biasa disapa Puang Nika. Di desa itu, Puang Nika menyimpan rentetan memori kelam tentang agresi dan pemberontakan DI/TII, kendati beliau adalah salah satu perempuan yang tumbuh sebagai penyintas di masa itu, pada tahun 1950-1965.

Puang Nika adalah sosok yang gemar bercerita. Hal itu rupanya yang menemani masa kecil Rachmat tumbuh, dikelilingi oleh segudang kisah milik neneknya. Sehingga kisah tentang represi DI/TII rupanya masih cukup akrab di telinga Rachmat ketika dirinya telah beranjak dewasa. Pun hingga saat ini, setiap kali ditemui, Puang Nika masih saja mempunyai banyak penggalan kisah yang ia simpan untuk diceritakan lagi kepada Rachmat. Kisah-kisah seperti mayat yang ditemukan di sekitar kebun, di tepi sungai, orang-orang yang mati ditembak, atau rumah-rumah yang dibakar. Atau kisah tentang dirinya yang pernah melarikan diri dan kabur ke hutan selama beberapa pekan, akibat seluruh warga pada masa itu dipaksa untuk memeluk agama Islam, dan beliau tidak mau.

Puang Nika selalu menceritakan kisahnya menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-harinya. Beliau memilih untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia, bahkan tidak ingin mempelajarinya. Alasannya sederhana, kata beliau tidak penting.

Setiap kali Puang Nika bercerita tentang kisahnya, gesturnya begitu bersemangat. Peristiwa-peristiwa kelam yang ia gambarkan dari masa lalu terasa masih sangat begitu jelas di ingatannya. Tidak heran, sewaktu muda sang nenek adalah penghafal Al-Quran atau hafidzah. Ketika tulisan ini dibuat, usianya sudah melampaui seratus tahun.

Rachmat kemudian berkesempatan untuk mencatat dan merekam kisah-kisah neneknya melalui program Ephemera #3 “Museum Of Untranslatable Stories” yang dicanangkan IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Di mana memori sang nenek tentang tragedi di masa-masa itu – pemberontakan DI/TII – didefinisikan ulang sebagai arsip. Dikemas dan ditampilkan melalui presentasi publik dan performance lecturer di Rumata’ ArtSpace, yang berlangsung secara hybrid pada tanggal 29 Juli 2023 dengan judul “Gorilla: Pecahan Tanah Penuh Luka”. Kali ini kolaborator yang dilibatkan Rachmat adalah fotografer Aziziah Diah Aprilya dan Adin Amiruddin – seorang DJ dengan nama samaran Fictive Order.

Biasanya, menjelang satu hari sebelum acara pernikahan suku Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya di Bone, para perempuan yang mayoritas adalah ibu-ibu dari kampung setempat akan berkumpul di rumah pengantin laki-laki untuk bergotong royong mengiris daging sapi. Mereka datang dengan membawa pisau masing-masing, lalu duduk mengitari terpal tenda yang telah dibentangkan sebagai alas. Sebelum agenda mengiris dimulai, sambil menunggu potongan-potongan daging datang, para kerabat terlebih dahulu akan membagikan batang pisang yang telah dipenggal-penggal sebagai pengganti talenan. Di sisi lain, kerabat laki-laki dan perempuan sedang memisahkan potongan organ sapi yang akan segera dibagi untuk diiris lagi menjadi lebih kecil. Daging sapi yang telah diiris itu nantinya akan disiapkan menjadi varian menu santap di hari puncak pernikahan.

Di galeri Rumata’, di hadapan para pengunjung, Rachmat sudah mengambil posisi duduk dan sedang memulai ceritanya tentang masa kecil.

Sewaktu kecil, dia tumbuh di dalam keluarga yang cukup kental dengan tuntutan dan cara hidup Islam. Rachmat adalah anak ke-tiga dari enam bersaudara yang semuanya dimasukan ke dalam pesantren. Hanya saudara pertamanya yang tidak. Kedua orang tuanya adalah Muslim yang taat. Bapaknya adalah pensiunan pegawai negeri di pengadilan dan seorang khatib. Semasanya kecil,  Rachmat adalah anak yang paling suka diajak dari semua saudaranya untuk menemani bapaknya memberikan ceramah di mesjid-mesjid saat hari Jum’at. Di saat masih pesantren, katanya dia adalah anak yang paling sering mewakili pesantrennya untuk mengikuti fashion show busana muslim. Dia juga pernah dipaksa oleh bapaknya untuk mengikuti lomba adzan di mana bapaknya sendiri adalah jurinya.

Ketika sedang bercerita tentang lomba adzan di masa kecilnya, Rachmat tiba-tiba berdiri dan membalikan badannya membelakangi pengunjung. Kemudian menghadap ke arah kiblat dan tiba-tiba saja melakukan adzan. Suara adzannya dibuat terdengar merdu oleh Fictive Order seperti suara adzan yang sering muncul di televisi.

Saat ini Rachmat sedang tinggal bersama kedua orang tuanya. Di dalam rumahnya, tidak boleh ada suara musik. Jika ingin mendengar musik, dia harus memakai headset. Atau hal yang akan dilakukan untuk menikmati musik secara leluasa adalah dengan masuk ke dalam mobil di garasinya, lalu menghabiskan satu album di situ. Di rumahnya tidak boleh memiliki pajangan foto atau objek visual seperti kalender yang menampilkan makhluk hidup. Jika ada, bagian itu harus digunting atau dihilangkan, barulah kalendernya boleh dipajang. Termasuk buku-buku bergambar yang ada di rak, tampilannya harus dibalik.

Di lain sisi, dia telah memilih meniti karier sebagai seorang sutradara dan seniman performans. Kerja-kerja yang dilakoninya tentu saja kerap berjahitan dengan visual tentang makhluk hidup. Sehingga menurutnya, apa yang terjadi di dalam rumahnya seakan seperti kutukan. Lantas, dia selalu mempunyai ambisi, mungkin di suatu saat nanti, dia akan mengadakan semacam pameran foto di dalam rumahnya, walau hanya semenit.

Kembali ke posisi bersimpuh.

Sembari mengutak-atik proyektor yang sedang menampilkan potongan foto-foto tentang rumahnya, Rachmat kembali melanjutkan ceritanya.

Rachmat adalah lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 2014, yang kemudian melanjutkan gelar masternya di Program Penciptaan Film Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Ketika sedang melanjutkan studinya di ISI Surakarta, dia kerap didorong untuk sering-sering pulang ke kampung halamannya atau kembali ke akar. Di mana capaian-capaian artistik atau nilai-nilai estetika, sebenarnya tidak berada jauh dari tempat di mana dia berasal. Lantas, sebagai seorang yang lahir di dalam keluarga berdarah Bugis, ketika memutuskan kembali ke kampung halamannya, Rachmat kemudian menganggap bahwa capaian dan nilai yang dimaksud di atas mungkin bisa dia temukan di dalam manuskrip I La Galigo. Lantas, tesis karya seni yang dia kerjakan adalah sebuah film eksperimental yang diangkat dari salah satu episode di naskah Bugis I La Galigo yang berjudul ‘Waliala’ atau Alam Arwah. Kendati Wailala inilah yang menjadi pintu masuk petualangan artistik Rachmat untuk bertemu dengan kisah-kisah milik sang nenek di mana itu juga sekaligus menjadi muassal karya-karyanya tentang sejarah DI/TII di Bone.

Di hadapan pengunjung yang ada di dalam galeri, Rachmat kemudian membacakan beberapa penggalan naskah dari karyanya ‘Sketsa-Sketsa Di Kebun Warisan’ yang berbicara tentang bagaimana konflik tanah warisan dan sejarah kelam DI/TII di Bone, Sulawesi Selatan.

Narasi Hantu 1:

Dingin sekali sampai saya rasa itu angin meraba tulang pinggulku.

Saya lihat pohon mulai merendah. Di kejauhan sana, hanya ada gunung ditutupi kabut.

Udara berwarna biru. Bukan gelap seperti arang di dapur.

Di hutan ini tak ada perangkat masak. Saya tinggalkan semuanya untuk menyelamatkan nyawa.

Saya hanya bisa lari ketika gerombolan itu datang.

Mengatakan gerombolan saja, saya masih gemetar ini.

Tubuh saya seperti dimasuki kecoa dari ketiak, selangkangan, kuku dan jari-jari, pantat, telinga.

Saya dengar kami akan dipaksa mengaji dan salat. Tapi saya masih menghafal surah Al Fil. Surah Al Kautsar. Dan, syahadat.

Hampir dua minggu saya dengan enam orang lain memutuskan pulang ke kebun, sembunyi di sana beberapa waktu siapa tahu gerombolan itu sudah pergi dan kembali ke hutan.

Daeng Amma, orang tua yang saya temui di hutan itu bilang kalau ia melihat gerombolan itu sudah berarak pergi, dua orang membawa barang yang terbungkus sarung. Satu lagi menggandeng senjata.

Ketika kami mencoba keluar dari semak, seorang gerilyawan mengejar kami.

Narasi Hantu 5:

Saya juga tidak yakin berapa bulan sudah berada di hutan. Mungkin dua bulan. Saya bertemu dengan beberapa orang dan menjadi akrab di sana.

Ada seorang lelaki yang kami jadikan pemimpin, namanya Ambo Tang. Dia dari desa Lili Riattang, orang-orang mendengarkan dan ikut apa maunya.

Di malam-malam hari, ia kerap bercerita bagaimana desa-desa di Bone bisa terbentuk. Saya bertanya padanya, kapan situasi ini bisa membaik. Dia malah mengatakan hal lain. Engka pitu pappasengna tau ogi e / ada tujuh nasehat orang Bugis ;

1. Lettu ni uluwa’ lotongna bulu lompo battang ko watattana e (sudah sampai rambut hitamnya Gunung Lompo Battang ke jalanan);

2. Urane mancaji makkunrai, makkunrai mancaji urane (Lelaki jadi perempuan, perempuan jadi lelaki)

3. Luttuni pappasang e (Pesan-pesan beterbangan // manusia mengirim surat dengan menerbangkan suratnya)

Sebelum menyelesaikan empat pesan lagi, seorang lain tiba ngos-ngosan mengabarkan kalau ia melihat gorilla tidak jauh dari tempat kami tinggal. Meninggalkan tempat kami sekarang adalah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan.

Tiga hari kemudian, Ambo Tang meninggal, mungkin karena kelelahan. Tiga hari juga saya tidak berhenti menangis.

Naskah di atas seolah sedang mengajak kita untuk berhadapan langsung dengan sebuah gambaran peristiwa masa lalu, di mana ada banyak tersedia perasaan getir dan rasa takut untuk dimiliki oleh setiap orang. Suatu kehidupan yang diikelilingi oleh banyak senjata dan bentuk-bentuk pengawasan yang kadang kala berakhir malang.

Narasi Hantu itu bagaikan sekantong cerita yang dibawa datang Rachmat langsung dari tubuh-tubuh orang yang mati di hutan, di sawah, di kebun, di mana ada banyak kegetiran yang ditanam bersama mereka. Lantas ketika sudah mati pun, perasaan takut ketika dikelilingi banyak senjata masih terasa.

Dia seolah menyeret peristiwa-peristiwa itu ke dalam deretan bait yang kemudian memancing kita untuk bermain-main dengan perasaan dan imajinasi, di mana pertanyaan-pertanyaan sedang bersembunyi di antara gerombolan, nilai-nilai yang dipertahankan, dan adegan pembunuhan.

Kisah milik Puang Nika, secara tidak sengaja telah mengungkapkan secara gamblang betapa mengerikannya suatu rantai masa di mana perebutan bendera sebuah nilai harus berada di bawah bayang-bayang penaklukan pasukan bersenjata yang memaksa warga biasa untuk mengikuti apa yang tidak dikehendaki dan meninggalkan apa yang mereka yakini. Hal itu yang dirasakan oleh Puang Nika dan warga desa yang lain, tentang bagaimana upaya yang dilakukan gerilyawan DI/TII untuk menghilangkan bentuk keyakinan dan praktik-praktik tradisional, di mana tradisi masyarakat Bugis yang dianggap mistik dan menyimpang, dihabisi dengan cara-cara yang brutal.

Usianya telah melebihi seratus tahun, namun ingatan Puang Nika masih terlampau kuat. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana perawakan dan gelagat dari para gorilla – sebutan untuk gerilyawan DI/TII yang berarti guerilla – pada masa itu. Selain pasukan DI/TII, ada juga beberapa pasukan bersenjata yang tersebar di kampungnya. Di waktu yang sama, terdapat tentara nasional yang datang dari pulau Jawa, pasukan Jepang atau Nippon dan Somba Balo. Tetapi yang paling menyeramkan dan paling jahat menurut Puang Nika adalah gorilla. Mereka berpakaian serba hitam, mengenakan topi dan menenteng senjata. Ada di mana-mana, di kebun, di sawah, di lapangan, mereka tersebar di semua tempat.

Jika ada perempuan yang mereka dapati tidak mengenakan hijab, perempuan itu akan langsung ditembak. Orang yang didapati sedang berpacaran juga langsung ditembak.

Di suatu hari, Puang Nika pernah didapati memakai kalung dan anting di badannya, semua perhiasan lantas dirampas begitu saja. Kakak pertamanya mati ditembak karena melawan. Tetangganya juga ada yang mati ditembak karena tidak memakai hijab. Beliau pernah dikejar dan lari masuk bersembunyi ke dalam rakeang –  sebuah langit-langit pada rumah panggung suku Bugis yang menjadi tempat penyimpanan hasil panen atau loteng.

Kadang jika pergi bertani, beliau sering menemukan ada mayat di kebunnya yang mati karena ditembak. Atau ketika pergi ke sungai, beliau juga sering menemukan tubuh yang sudah terkapar mati ditembak. Mayat-mayat yang ditemukan itu biasanya dikumpul lalu di kubur di desa bernama Bulu’ Bue, Parigi.

Adegan Memotong Daging

Rachmat kembali bersimpuh. Usai menceritakan kisah tentang sang nenek, dia kemudian membagikan beberapa batang pisang yang telah dipenggal-penggal  ke atas alas terpal diikuti pisau dan beberapa potongan daging. Menyusul  teh panas dan piring berisi pisang goreng yang disediakan di atas loyang.

Rachmat adalah seniman performans yang kerap menggunakan pendekatan interaktif saat melakukan pertunjukannya. Bagi beberapa orang, hal itu telah diduga dan diketahui. Pengunjung yang duduk di depannya pun dengan spontan mulai meraih pisau dan batang pisang itu, kemudian ikut mengiris bersamanya. Adegan mengiris daging yang mereka lakukan persis seperti apa yang dilakukan ibu-ibu di Bone.

Sebagaimana Rachmat di setiap performansnya, kehadiran karya-karyanya selalu berpijak pada panggung yang penuh dengan tafsir, yang dengan sengaja dia bangun di mana pengkhidmat seolah-olah didorong untuk meraba-raba setiap kemungkinan dan macam-macam persoalan yang ada di dalamnya. Sehingga melalui cara itu, bisa dilihat bagaimana Rachmat sedang berupaya membuka kemungkinan akan pemicu lahirnya sebuah perspektif baru.

Tak lama kemudian, terdengar sesuatu dari mulut speaker semacam suara potongan kalimat ketika Rachmat sedang berbicara tadi. Suara itu muncul begitu saja seperti kalimat-kalimat acak yang tidak terprediksi. Suara-suara itu sedang direkayasa oleh Fictive Order melalui seperangkat alat DJnya. Suara ketika Rachmat sedang membacakan Narasi Hantunya tadi terdengar seperti bersahutan di antara suara orang-orang yang sedang mengaji atau barzanji, mengiringi mereka yang sedang mengiris-iris daging di dalam galeri Rumata’ ArtSpace.

Sebuah persepsi ruang liminal kali ini terasa hadir dalam bentuk tabrakan nilai (dibaca agama dan tradisi) yang cukup elusif. Rachmat seolah-olah sedang mengundang masa di mana nilai-nilai itu pernah bertentangan, kemudian direkonstruksi ulang ke dalam ritual-ritual dan bermain di antara batas-batas nilai itu. Mengutak-atik persepsi tentang agama dan tradisi leluhur yang hari ini telah melebur dan berdampingan, dari sisa-sisa goresan demarkasi yang ditinggalkan keduanya di dalam diri seorang nenek, yang hari ini sedang berdiri sebagai monumen, di atas pecahan tanah penuh luka di mana tragedi tertanam dan dilupakan.

Tak lama berselang, dia menancapkan pisau ke batang pisang dan mengambil mic. Perlahan berdiri dan berbalik arah kemudian melakukan iqamah. Di antara lantunan iqamahnya, muncul bunyi semacam efek scratch yang coba mendistraksi nada iqamahnya. Setelah iqamah selesai, terdengar kembali suara orang sedang mengaji. Tapi kali ini terdengar seperti lebih kelam. Rachmat lalu mengambil selembar kertas yang ada di sampingnya. Sementara masih terdengar suara orang yang sedang mengaji, dia membacakan semacam hikayat tentang sang nenek:

Puang Nika minum susu beruang sekarang karena HB-nya kurang.

Setengah diminum pagi, setengahnya malam.

Pagi sekali, Nenek mencret dan membuat tangga penuh eek.

Sebab ia tak mau dimarahi oleh anaknya, sarung dan baju yang ia kenakan, ia buang begitu saja.

Sekarang tingkahnya seperti anak kecil.

Nenek menyapu pakai sapu lidi di bawah rumah, untuk mengusir ayam.

Dia telah selesai membacakan naskah terakhirnya. Tetapi suara orang mengaji masih terdengar. Lantas suara mengaji itu perlahan bertransisi menjadi ketukan yang terdengar seperti irama dangdut, yang kemudian pelan-pelan menjadi lagu koplo dengan liriknya yang berbunyi gerri gerri gerri… ci’da…

Pertunjukan selesai. Kisah tentang sang nenek telah dikemas dan diceritakan oleh Rachmat dengan gamblang. Dia lalu mengajak pengunjung membagikan pandangan mereka terkait apa yang telah mereka simak dan alami.

Rekaman siaran presentasi publik Gorilla: Pecahan Tanah Penuh Luka juga bisa ditonton di kanal youtube Rumata’ ArtSpace.