Makassar, 11 Februari 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali memperkuat kemitraan strategis dengan Organisasi Yayasan Rumah Budaya Rumata’ melalui penandatanganan Implementation of Arrangement (IA) yang dirangkaikan dengan Workshop “Advanced Critical Thinking, Problem Solving and Persuasive Writing”, Rabu (11/2/2026), di Ballroom D Phinisi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Wikiton Partisipasi Publik BASAsulsel Wiki 2026, yang melibatkan sekitar 200 peserta dari mahasiswa Program Studi Sosiologi, Pendidikan Sosiologi, dan Pendidikan Antropologi FIS-H UNM. Workshop dirancang untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam berpikir kritis, menyusun argumen, serta menulis secara persuasif dan berbasis solusi.
“Masalah perempuan yang sering ditemui adalah pelecehan tapi ini adalah masalah yang tidak kelihatan. Kalau datang ke desa, mengobrol dengan ibu-ibu, banyak masalah yang tidak muncul ke publik,” Muhammad Fathul Fauzy, Bupati Bantaeng memulai uraiannya pada Lokalatih Jurnalisme Warga dan Suara Perempuan: Membangun Narasi Melalui Jurnalisme Kritis di Rumata’ Artspace pada 29 Januari 2026
Memberi Kesempatan, Tak Hanya Mengakui
Olehnya itu, setelah memenangkan pilkada, pada tahun pertama, bupati yang akrab disapa dengan Uji Nurdin ini mendukung pendirian YPA (Yayasan Perempuan dan Anak) Bangkit. YPA Bangkit adalah tempat pengaduan bagi perempuan dan anak, membuka ruang atau konsultasi atau mengadu ke aparat penegak hukum secara gratis.
“Setelah terbentuknya forum ini, ternyata banyak pengaduan baik verbal maupun nonverbal.
Jadi perempuan berat karena banyak tuntutan, di sisi lain jadi obyek pelecehan,” ujarnya lagi.
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Image-2026-02-02-at-16.40.15.jpeg9001600rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2026-02-02 08:40:592026-02-02 08:41:00Menyoal Kepedulian Lelaki dalam Menyikapi Isu Perempuan di Rumata’ Artspace
We are thrilled to announce a Delegation of ASEAN superconnectors will be attending the Australian Performing Arts Market in Perth from Feb 23-27, 2026.
The Australian Performing Arts Market (APAM) is Australia’s leading international industry event showcasing the best contemporary performing arts from Australia and Aotearoa/New Zealand.
An initiative of Creative Australia and managed by PAC Australia, APAM 2026 brings together artists, producers, presenters, and cultural leaders from across the region and the world. Rachmat Mustamin, as the Program and Partnership Director of Rumata’ Artspace will be attend to open for collaboration and opportunity.
Earlier this year, Turning World was awarded an ASEAN-Australia Centre grant for a strategy connecting the Southeast Asian and Australian creative industries at APAM.
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2026/01/Screenshot2025-12-17at5.12.36pm.171256.png698932rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2026-01-09 11:39:282026-01-09 11:39:28Rumata’ Artspace Will be Part of ASEAN Delegation at 2026 APAM, Perth
Makassar 21-22 November 2025 – Rumata’ Artspace melalui Makassar International Writers Festival (MIWF) menyelenggarakan Akademi Emerging Writers yang kali ini berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dalam lingkup program MTN Lab. Pelaksanaan Akademi Emerging Writers dilaksanakan di Hotel W Tree, Jl. Andi Djemma, Makassar. Akademi Emerging Writersmerupakan program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas para penulis muda terpilih dari Indonesia Timur. Kegiatan ini merupakan ruang inkubator bagi penulis terpilih Emerging Writers MIWF 2026 untuk menajamkan kembali cerita, gagasan maupun isu yang ingin diangkat dengan sistem mentorship oleh para mentor dan fasilitator dari MIWF.
Kehadiran MTN Lab di Akademi Emerging Writers semakin memperkuat peran MIWF sebagai festival yang konsisten mendorong pengembangan talenta sastra Indonesia Timur serta keterhubungannya dengan ekosistem sastra nasional. Sebagai program prioritas Kementerian Kebudayaan, Akademi Emerging Writers sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya untuk mengembangkan dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, sekaligus membuka akses bagi talenta sastra terhadap berbagai peluang peningkatan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.
Emerging Writers MIWF merupakan program unggulan dari Makassar International Writers Festival yang secara reguler dihadirkan untuk memperluas akses bagi para penulis sastra dari kawasan Indonesia Timur. Setiap tahun, setiap Emerging Writers terpilih akan diundang ke MIWF untuk bertemu dan berjejaring dengan para penulis, seniman dan penerbit terkemuka, sekaligus menampilkan karya-karya mereka di forum dan panggung utama MIWF. Proses pemilihan Emerging Writers MIWF dilaksanakan melalui open call yang dipublikasikan pada laman Instagram resmi MIWF dan diseleksi ketat oleh para kurator MIWF, tahun ini diantaranya; Putu Juli Sastrawan, Aziziah Diah Aprilya, dan Titah AW.
Kurator MIWF Aziziah Diah Aprilya menerangkan bahwa, “Membaca berbagai tulisan ini seperti melihat orang-orang di tengah tumpukan kerumitan dirinya; wilayahnya, relasi sosial-politiknya, cara pandangnya, dan terutama konflik-konfliknya. Kami memilih karya yang bukan hanya memberi tahu sesuatu, tapi juga yang bisa mengajak kita untuk ikut mempertanyakan bahkan menggugat lapis kekusutan itu. Para penulis tidak menghadirkannya dari lanskap yang megah. Mereka membiarkan kita melaluinya dari kebun, kuburan, sekolah, dapur, hingga tubuh sendiri. Tegas tapi pelan, personal, dan penuh perasaan. Kami percaya kekuatan itu ada bukan hanya karena kelincahan penulis merangkai kata, tapi mungkin juga karena titik-titik berbeda dari latar belakangnya yang saling terhubung. Saya berharap dari sana ada rasi baru yang terbentuk–entah di MIWF atau di lanskap setelahnya.”
Makassar International Writers Festival 2026 telah menetapkan tujuh orang sebagai Emerging Writers yang akan berpartisipasi pada pelaksanaan MIWF pada tahun mendatang. Nama-nama Emerging Writers yang dipilih diantaranya; Selina Aurora Rahayaan (Manokwari, Papua Barat), Petrus Nandi (Kupang, NTT), Diyah Prilly Upartini (Kotabaru, Kalsel), Silviana Yanti Mesak (Belu, NTT), Tara Febriani Khaerunnisa (Mataram, NTB), Runi Virnita Mamonto (Makassar, Sulsel), dan Achmad Rohani Renhoran (Makassar, Sulsel). Tujuh orang penulis ini akan mengikuti Akademi Emerging Writersdengan berbagai agenda seperti lokakarya yang diadakan secara daring dan luring, editing, mentoring one on one, dan mentoring final.
Kurator MIWF Putu Juli Sastrawan mengatakan, “Ketujuh penulis ini dinilai berdasarkan konsistensi tema dan penguasaan teknik bercerita mereka. Kekuatan karya mereka terletak pada orisinalitas sudut pandang yang kuat, terutama saat berani meninjau ulang isu tubuh dan norma sosial dengan cara yang spesifik dan provokatif, membedakannya dari cerita biasa. Selain itu, karya-karya ini juga memiliki kedalaman substansi pada isu-isu berat seperti konflik, sejarah, atau dinamika lingkungan yang rumit, yang menunjukkan kematangan dalam penceritaan. Dari sisi penulisan, mereka unggul dalam efisiensi naratif, dibuktikan dengan kemampuan beberapa penulis untuk langsung menarik perhatian dan menyampaikan cerita padat dengan dampak kuat sejak paragraf pertama. Secara keseluruhan, ketujuh penulis ini menampilkan potensi dan kekuatan yang sangat menjanjikan dalam karya-karya mereka.”
Emerging Writers yang terpilih memiliki karya sastra yang berbeda-beda, antara lain cerpen dan novel. Judul karya para Emerging Writers sebagai berikut; Ritual Makan Malam; Persembahan Untuk Paulus; Pemburu Nyamuk karya Petrus Nandi, Tanah yang Dipewarnai; Harga Seliter Solar, Anjing yang Menjilat-jilat yang dituli oleh Diyah Prilly Upartini, Jiku Ampa yang ditulis oleh Achmad Rohani Renhoran, Rumah Masa Kecil; Tanah Berdarah; Alfredo Sei Moris yang ditulis oleh Silviana Yanti Mesak, Pada Hari Aku Datang; Kos Putih Melawan; Kapur Terakhir di Morombuy yang ditulis oleh Selina Aurora Rahayaan, Bulu Ketiak; Mayat Perempuan; Tubuh yang ditulis oleh Tara Febriani Khaerunnisa, dan Banyak Bapak-Bapak di Rumah; Catatan Harian; Hunter yang ditulis oleh Runi Virnita Mamonto. Karya-karya mereka terpilih dari total 365 karya dari 233 pendaftar Emerging Writers MIWF 2026.
Kurator MIWF Titah AW mengungkapkan catatan dan harapannya bahwa “Ratusan karya yang diajukan tahun ini menunjukkan pada saya betapa prosa bisa jadi cermin jernih untuk merekam dunia yang nyaris pecah, sekaligus penuh celah. Dari muramnya mimpi yang terampas di kebun sawit, jimat yang membuat tentara kehabisan akal, kapur terakhir di ruang kelas, urusan bikin kopi untuk rapat demo, hingga pilihan untuk #KaburAjaDulu ke kota magis. Betapa krisis bisa mewujud segala rupa dan menghancurkan hidup si/apa saja. Kami memilah dan memilih dalam percakapan yang cukup sengit, sebab begitu banyak kompleksitas tema, latar budaya, skala konflik, kedalaman, dan cerita yang ditulis secara piawai. Cerita-cerita yang akhirnya terpilih kami anggap seperti koordinat di peta, yang kami pikir potensial sekaligus genting untuk saling dihubungkan. Segalanya saling dan silang, sekali lagi selamat dan sampai jumpa!.”
Pada pelaksanaan Akademi Emerging Writers, pihak MIWF juga melibatkan 2 mentor sebagai teman diskusi selama proses Akademi Emerging Writers berlangsung. kedua nama mentor tersebut yakni; Faisal Oddang, dan Cicilia Oday. Mereka adalah penulis yang telah lama berkecimpung di dunia sastra dan juga merupakan ‘alumni’ program Emerging Writers MIWF.
Makassar International Writers Festival di tahun 2026 mengangkat tema re–co–ordinate, ialah seruan untuk secara kolektif menentukan saling dan silang koordinat. Tema ini mengajak kita mempertanyakan koordinat sejarah, budaya, dan politik yang kita warisi, serta membaca ulang dan menggugat struktur-struktur dominan yang membentuk dan/atau merusaknya. Tema MIWF 2026 hendak mengajak kita untuk melihat multikrisis yang sedang kita hadapi saat ini bukan semata sebagai kegagalan kebijakan, melainkan juga sebagai kegagalan koordinasi. Bukan semata sebagai kegagalan rasional, namun juga sebagai kegagalan relasional. Tidak ada koordinat yang berdiri sendiri; setiap titik bertumpu pada relasinya dengan yang lain, sebagaimana komunitas, ekosistem, dan bangsa. Di tengah krisis iklim dan ekosida, genosida dan batas politik yang berubah, serta homogenisasi budaya yang mengancam keragaman, re–co–ordinate mengundang kita memetakan ulang posisi, titik tumpu, dan arah hadap.
Pada Akademi Emerging Writers yang dilaksanakan selama 2 hari yaitu tanggal 21-22 November 2025 beragendakan Masterclass Penulisan Kreatif, Klinik Karya serta Networking dan Kolaborasi: Forum jejaring antar-penulis, mentor, dan pegiat literasi yang bertujuan melakukan pemetaan kebutuhan dan dialog strategis: diskusi kebutuhan, tantangan, dan proyeksi ekosistem talenta sastra ke depan.. Harapannya pasca dari akademi ini akan menghasilkan antologi tulisan dari para peserta Akademi MIWF yang siap terbit dan akan dirilis di MIWF 2026 tahun depan. Selain itu, hadirnya komunitas emerging writers yang mumpuni untuk menghadiri serta mempresentasikan karyanya pada event literasi dalam skala internasional dan internasional. Serta rekomendasi program inkubasi yang relevan dan kontekstual bagi praktisi sastra (khususnya penulis) untuk pembinaan dan pengembangan diri bagi talenta sastra.
Sekilas tentang MIWF
MIWF adalah festival penulis yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak 2011. MIWF meraih penghargaan International Excellence Award sebagai festival sastra terbaik 2020 dari London Book Fair. MIWF adalah festival penulis internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur, yang dikerjakan secara independen, menjunjung HAM, bersifat anti-korupsi, inklusif, dijalankan sebagai kegiatan nir-sampah (zero waste) sejak 2019, dan mendeklarasikan diri sebagai festival yang menentang all-male panel sejak Maret 2020. Festival ini bertujuan menyebarkan dan merayakan sastra, meningkatkan minat baca, serta mendorong cara berpikir kritis. Lebih dari satu dekade MIWF, menjadi salah satu ajang sastra dan budaya terkemuka di Indonesia. Kami mengajak berbagai pihak bekerja sama untuk menciptakan ruang pertemuan dan diskusi di tengah berbagai keterbatasan. Info lengkap mengenai MIWF dapat diakses melalui www.makassarwriters.com
Makassar, 27 November 2025 – Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 resmi ditutup pada Kamis (27/11/2025) sore kemarin dengan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan yang mengikat komitmen multi-sektor. Kongres yang berlangsung selama sejak Rabu (27/11/2025) di Aula Siporio BBPMP (Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan), Jl. Andi Pangerang Pettarani, Makassar ini mengusung tema “Suara Pemuda dalam Partisipasi Publik: Melampaui dari Sekadar Didengar”.
Tema ini diangkat karena mencerminkan bahwa setiap suara pemuda memiliki arti dan kekuatan untuk menjadi aksi nyata dalam menyelesaikan berbagai tantangan. Melalui Kongres ini, suara pemuda tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan dalam aksi-aksi yang berdampak nyata untuk masa depan bangsa. Selain itu, tema ini memaknai “Melampaui dari Sekadar Didengar” sebagai seruan agar suara pemuda, berbagai ide, dan karya mereka diberi ruang untuk menjadi inspirasi, penggerak perubahan, serta pondasi kebijakan publik yang responsif, inklusif, dan kolaboratif.
Hasil utama yang disepakati oleh seluruh peserta Kongres (termasuk perwakilan Pemerintah Provinsi dan Kota Makassar, Komunitas, pelajar, dan lembaga legislatif) adalah penetapan tiga isu prioritas pembangunan. Berita Acara Kesepakatan Kongres Pemuda yang ditandatangani oleh berbagai pihak menyepakati tiga isu utama, yaitu Transformasi dan Literasi Digital, Lingkungan, dan Pendidikan.
Selain penetapan isu prioritas, seluruh pihak yang hadir juga menandatangani komitmen bersama untuk :
Menyepakati hasil diskusi tentang implementasi aksi.
Berkomitmen untuk terus terhubung, menjalin komunikasi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dalam upaya implementasi melalui Wikithon Partisipasi Publik 2026.
Berkomitmen untuk berpartisipasi secara aktif dan bermakna dalam melaksanakan rencana aksi yang tertuang dalam Kongres.
Hasil rekomendasi Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 ini mendapat sambutan positif dan komitmen tindak lanjut dari jajaran pemerintah. Dukungan kuat juga datang dari legislatif. Anggota DPRD Sulsel Komisi E, Yenni Rahman, yang menekankan pentingnya ide-ide yang lahir dari forum ini. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi rekomendasi dengan rencana pembangunan serta kepastian anggaran.”Acara ini ‘mahal’ karena inspiratif, ide-ide original lahir dari pikiran anak-anak muda kita. Ini bukan sekedar kegiatan seremonial yang selesai begitu saja, ini mahal karena ide para generasi muda sebagai para peserta itu dituangkan dalam sebuah rekomendasi,” kata Yenni saat diwawancarai setelah memberi closing remaks.
“Indonesia siapa amunisinya? Anak muda. Jadi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tidak boleh menutup mata untuk itu dan serta anggarannya juga ada, sehingga harus dipastikan bahwa itulah bentuk kepedulian,” imbuhnya.
Tiga isu krusial yang terpilih melalui proses voting partisipatif pemuda selama Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 akan menjadi agenda utama Wikithon 2026. Hasil rumusan ini juga disiapkan untuk diserahkan kepada Pemerintah Provinsi sebagai masukan substansial bagi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Kami tentunya berusaha, dengan adanya rekomendasi yang nanti dikirimkan ke kami, akan kami upayakan tindak lanjuti ke pimpinan karena ini tahun pertama sosialisasi dengan melibatkan Dispora. Kami mengapresiasi karena ini memang wujud dari Perpres 43 yang mana Perpres ini adalah bagaimana koordinasi lintas sektor. Jadi pemberdayaan kepemudaan itu bukan hanya di Dispora saja tapi semua OPD yang terkait,” ungkap Sitti Harlina dari Bidang Kepemudaan Dispora Sulsel.
Format Kongres yang inklusif dan interaktif mendapat tanggapan positif dari para peserta. Khusnul Awalia Widyawati (Widya) dan Syuura Annisa Faizin (Syuura) dari komunitas Dialog Mindset Indonesia, mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan ini.
“Kesan selama mengikuti Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 selama dua hari ini adalah sangat luar biasa, di mana dari awal saya datang itu sudah disambut dengan panitia yang super aktif dan peduli. Rangkaian kegiatan juga sangat banyak dan tidak membuat kita membosankan, malah dapat ilmu baru, teman baru, dan pengalaman baru,” tutur Widya.
Pendapat senada juga disampaikan rekannya. “Ternyata seseru itu berdiskusi, tidak ada yang diabaikan suaranya. Kita semua diberikan ruang untuk bersuara dan tidak disepelekan. Itu menurutku bagus sekali,” timpal Syuura.
Syuura menambahkan bahwa isu yang diangkat serta menjadi tiga isu prioritas yakni Transformasi dan Literasi Digital, Lingkungan, dan Pendidikan memang patut untuk dibahas dan bahkan mendapat perhatian lebih. Widya menambahkan bahwa isu-isu tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi sekarang dan berhasil meningkatkan rasa kepedulian (awareness) peserta terhadap isu yang mungkin awalnya luput dari fokus.
Ita Ibnu selaku Koordinator Program BASAsulsel Wiki, menyatakan rasa senangnya atas antusiasme dan komitmen kolaboratif yang terjalin selama Kongres. Menurutnya, keberhasilan Kongres ini semakin meneguhkan kepercayaan bahwa tema Suara Pemuda dalam Partisipasi Publik: Melampaui dari Sekadar Didengar, hanya dapat terwujud dengan Kolaborasi Multipihak. Ia berharap lebih banyak lagi ruang kolaborasi bagi partisipasi bermakna yang tercipta dan digerakkan oleh pemuda pada tahun-tahun mendatang.
“BASAsulsel Wiki sangat senang melihat antusias peserta yang mulai dari pemuda siswa/siswi pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga pemerintah saling berdialog yang setara dan menjalin komitmen untuk berkolaborasi menindaklanjuti hasil Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025,” jelas Ita Ibnu.
Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 terselenggara berkat dukungan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Botnar Foundation, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar, Balai Bahasa, BASAibu Wiki, Think Policy, Makassar Creative Hub, ICT Watch, Nipah Mall, BillArt Department serta para narasumber plenary dan lokakarya, fasilitator, harvester, Komunitas yang senantiasa membersamai yaitu, Antropos Indonesia, Duta Pemuda Kota Makassar, Forum Duta Pemuda Kota Makassar.
Sekilas Tentang BASAibu Wiki
BASAibu Wiki adalah organisasi yang mendorong anak muda untuk menyuarakan pendapat mereka terhadap isu-isu publik dan menjadi bagian penting dari perumusan kebijakan bersama pemerintah melalui platform digital lewat bahasa lokal. Organisasi ini menggunakan tiga bahasa: Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. BASAibu Wiki sendiri diinisiasi dan diorganisir oleh BASAbali. Dengan dukungan dari berbagai pihak, inisiatif ini telah direplikasi di daerah lain, termasuk Sulawesi Selatan dengan BASAsulsel Wiki yang dikelola oleh mitra lokal, Rumata’ ArtSpace, sejak tahun 2020.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai BASAsulsel Wiki, kunjungi basasulselwiki.org dan akun media sosial Instagram @basasulsel. Untuk memanfaatkan fitur BASAsulsel Wiki, ikuti tutorial membuat akun di BASASulsel Wiki melalui tautan berikut: https://youtu.be/KivMxNg3TkM.
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2025/12/YOG_0042-scaled.jpg17082560rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2025-12-11 08:59:342025-12-11 09:27:01Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2025 Buktikan Suara Mereka Tidak Sekadar Didengar
Makassar, 7 Oktober 2025 – Rumata’ bersama BASAsulsel Wiki, BASAibu Wiki, serta Makassar Creative Hub menyelenggarakan Dialog Kebijakan #2 dengan tema “Siap Kerja?” di Makassar Creative Hub, Anjungan Pantai Losari.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Dialog Kebijakan pertama yang membahas keterampilan digital dan public speaking. Dialog kedua dibuka oleh pihak Rumata’ dan dihadiri oleh Kalla, Forum Duta Pemuda, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pariwisata, komunitas pemuda, serta organisasi perempuan.
Tujuan kegiatan ini adalah menyepakati agar seluruh gagasan menjadi satu kesatuan agenda aksi. Pembahasan teknis meliputi monitoring, evaluasi, serta durasi program.
Perwakilan Kalla, Andi Pradhitya Ramadhan (Didit), menyampaikan bahwa pihaknya memiliki program Unlock Youth di Bikin Bikin. Program ini berfokus pada pengembangan pemuda melalui pembuatan CV dan personal branding.
“Kami punya Unlock Youth di Pengembangan bisnis Kalla untuk pengembangan pemuda di Bikin Bikin, untuk membuat CV dan personal branding. Kami bisa memberikan Narasumber dari Kalla untuk digital dan skill public speaking dari Kalla Group, kami punya Kalla Learning, workspace internal Kalla untuk pengembangan internal,” kata Didit.
Ia juga menambahkan adanya coaching clinic finansial dan HR bersama praktisi, dengan dukungan tambahan dari Disnaker. Pemuda sendiri akan menjadi pemantau dan implementor aksi.
Peserta memberikan masukan mengenai jumlah peserta yang diusulkan sekitar 30 orang, termasuk dari Unhas dan SMA 17. Hal ini perlu dipastikan formatnya lebih jelas.
F. Mapellawa dari Dinas Tenaga Kerja menegaskan, “Standar BLK adalah 15 orang, dimana kami dapat memberikan bantuan untuk booth dan sosialisasi.” Ia juga mengingatkan agar administrasi dilaksanakan minimal H-7 agar mobil booth pembuatan AK-1 bisa digunakan.
Selain itu, Mapellawa menekankan ketersediaan internet dan komputer agar peserta dapat berlatih Google Workspace.
Salah satu peserta, Fahmi, mengatakan, “Beberapa peserta lain juga mengatakan aksi-aksi lain bisa memberikan Disnaker dan pemuda sebagai pemateri.”
Koko Firmansyah dari Dinas Pariwisata juga menyampaikan, “Kebutuhan, pelaksanaan kapan, harus jelas agar kami bisa memberikan berbagai bantuan seperti Narasumber secara maksimal beserta bantuan lainnya.”
Forum Duta Pemuda yang diwakili Fikal menambahkan, “Materi untuk siswa dan mahasiswa harus direncanakan.”
Isu anggaran turut disorot. Dr. Rizal dari Dinas Provinsi Sulsel menyampaikan, “Ini soal anggaran, tidak bisa ditentukan sebelum tahu berapa anggaran serta pelatihan ini berbayar atau tidak. Mobil K-3 untuk keselamatan kerja juga bisa kami persiapkan.”
Pandangan berbasis gender juga disampaikan oleh Dian Aditya Ning Lestari (Diku). Ia menegaskan, “Jangan lupa ada keseimbangan gender dalam pemilihan narasumber dan peserta, karena saat ini diskriminasi bagi pencari kerja perempuan masih banyak.”
Hal ini sejalan dengan pernyataan Irma dari Ruang Kolaborasi Perempuan yang mengatakan, “Kita perlu mengetahui apakah perangkatnya sesuai spesifikasi dan ini bisa dimasukkan di Gdocs, dengan target 60% perempuan dan 40% laki-laki, kami bisa membantu menyasar para peserta perempuan utamanya yang ingin berwirausaha.”
Untuk mengukur keberhasilan, akan dilakukan pre-test dan post-test bagi peserta. Selain itu, Mini-Expo juga akan dilaksanakan dan memberi manfaat untuk masyarakat umum. Peserta diwajibkan membawa laptop masing-masing.
Diku juga menekankan pentingnya mentoring dan pendampingan pasca-program dengan indikator dari instansi terkait.
Target tindak lanjut acara ditetapkan pada Kamis, 6 November 2025 dengan lokasi tentatif. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan selama sekitar tiga bulan.
Dinas Tenaga Kerja menyebutkan akan melibatkan pihak ketiga seperti Lembaga Pelatihan Kerja atau BPK dalam pelaporan. Dinas Pariwisata menambahkan jumlah peserta dapat dijadikan indikator keberhasilan.
Salah satu peserta mengusulkan agar monitoring dilakukan melalui pengamatan langsung. Peserta lain mendorong agar program dapat diperluas hingga ke Takalar dan kabupaten lain karena keterampilan ini sangat dibutuhkan.
Dengan semangat kolaborasi lintas sektor, Dialog Kebijakan #2 menegaskan komitmen bahwa pemuda tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga pemantau dan implementor aksi menuju kesiapan kerja.
Magang Di Rumata’ adalah sebuah program pembelajaran yang bertujuan menyediakan kesempatan bagi para pelaku lintas-disiplin, seni & budaya di Indonesia untuk memperdalam pengetahuan dan mengembangkan keahlian dalam bidang manajemen seni dan literasi, dengan cara ikut terlibat di berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan dari Rumata’ ArtSpace.
Rumata’ ArtSpace adalah sebuah rumah budaya yang resmi berdiri 18 Februari 2011 dan dijalankan secara independen dengan pendanaan yang sebagian besar berasal dari sumbangan publik. Selain menawarkan fasilitas yang bisa diakses secara luas khususnya bagi seniman dan komunitas di Makassar, Rumata’ juga dikenal dengan program-program unggulan yang telah menjadi bagian penting pengembangan kebudayaan dan kesenian, antara lain Makassar International Writers Festival (MIWF) dan SEAscreen Academy.
Manfaat Program Magang Di Rumata’
Melalui program ini, pemagang memperoleh kesempatan untuk berada dalam suatu lingkungan kerja yang baru, bersentuhan langsung dengan kegiatan dan berkesempatan berkolaborasi dengan praktisi seni dan budaya. Selain bisa mengenal dan mempelajari pola kerja yang berbeda, pemagang juga bisa membentuk jejaring kerja seni lewat kesempatan pertemuan dengan banyak pelaku maupun organisasi seni lain di Rumata’ ArtSpace. Program ini merupakan salah satu upaya Rumata’ untuk belajar bersama melalui distribusi pengetahuan mengenai pengelolaan kegiatan, program serta melahirkan praktisi seni-budaya, khususnya Indonesia Timur.
Syarat Pelamar
Berusia minimal 18 tahun.
Memiliki minat dan dari latar belakang seni, literasi dan lintas disiplin.
Pendidikan minimal SLTA/sederajat serta memiliki minat di bidang seni dan literasi.
Memiliki motivasi tinggi untuk belajar, bekerja sama dan mengembangkan jejaring.
Dapat mengikuti kegiatan magang selama tiga bulan penuh sesuai jadwal yang ditetapkan.
Posisi Magang yang Ditawarkan
Kontributor Desain, Komunikasi & Visual
Kontributor Program Seni Budaya
Kontributor Jurnalis Newsletter Rumata’
Periode Magang
Kegiatan magang dilaksanakan tiga bulan pada kisaran Oktober – Desember 2025.
Dukungan dan Fasilitas
Pemagang dapat menggunakan fasilitas-fasilitas tertentu selama magang di Rumata’ dan berkesempatan untuk menjadi mitra kreatif di Rumata’ dan seluruh program utama Rumata’.
Tugas Pemagang
Tugas pemagang dapat meliputi:
Menyiapkan materi desain dan visual untuk keperluan Public Relation
Riset
Berkorespondensi dengan mitra Rumata’ dari berbagai kota dari dalam dan luar negara
Mempersiapkan materi teks dan gambar untuk aset komunikasi Rumata’, yang meliputi Website, Instagram, X dan Facebook.
Di samping itu, pemagang juga akan menjadi bagian dari tim program Rumata’. Hal ini mencakup kegiatan:
Ikut serta dalam meeting rutin program
Membantu rekan kerja dalam menyiapkan program-program Rumata’
Kecakapan non teknis yang diperlukan:
Setidaknya memiliki proyeksi diri untuk bekerja di bidang kesenian dan literasi pada masa-masa mendatang.
Tertarik pada eksperimentasi terhadap lintas disiplin seni, budaya dan literasi.
Disiplin dan tekun.
Memberikan perhatian pada detail dan struktur.
Terbuka terhadap segala kemungkinan kolaborasi.
Komunikatif serta mampu bekerja di dalam tim.
Turut memberi masukan, usulan, kritik dan saran untuk Rumata’ ArtSpace.
Kecakapan teknis:
Mampu dan bersedia belajar mengoperasikan beragam aplikasi media sosial, seperti Instagram, X dan Facebook. Kemampuan mengelola website, sangat dianjurkan.
Mampu dan bersedia belajar mengoperasikan software editing untuk foto dan desain dan atau keahlian ekstra (tidak harus) berupa editing video.
Mampu mengoperasikan software office (Words, Excel, Power Point) dan atau aplikasi lainnya.
Cara mengajukan lamaran
Pengajuan lamaran Magang Di Rumata’ 2025 dapat dilakukan dengan metode sebagai berikut:
Mengisi Formulir via E-mail:
Unduh / download Pedoman dan Formulir Magang Di Rumata’ 2025.
Batas akhir penerimaan formulir serta pengiriman berkas lamaran tanggal 30 September 2025.
Kontak Person
Untuk informasi lebih lanjut dan terperinci, silakan menghubungi Rumata’ melalui Whatsapp: +62 853-4557-1748 (Cito) atau +62 821-9757-8987 (Ifdhal), atau e-mail: infor@rumata.or.id
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2025/09/Panggilan-Terbuka-Rumata-ArtSpace-membuka-kesempatan-magang-untuk-mahasiswa-dan-umum.📅-Pendaf.jpg13501080rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2025-09-18 17:02:462025-09-21 17:05:58MAGANG DI RUMATA’ 2025
Makassar, 2 September 2025 – Rumata’ Artspace kembali menghadirkan pengalaman sinematik istimewa bagi para penikmat film. Kali ini film terbaru sutradara muda berbakat Khozy Rizal berjudul Little Rebels Cinema Club yang tayang perdana dalam program spesial screening di Galeri Rumata’ ArtSpace.
Film ini bercerita tentang sebuah potret nostalgia Doddy, seorang remaja 14 tahun yang berambisi membuat ulang adegan ikonik dari sebuah film zombi bersama tiga sahabatnya dengan hanya berbekal handycam pinjaman milik kakaknya yang seorang emo, mereka memulai petualangan sinematik yang penuh semangat dan kekacauan masa muda.
Selain pemutaran film, acara juga diisi dengan sesi diskusi bersama sutradara. Menurut sang sutradara, film ini memiliki makna yang sangat personal karena berangkat dari pengalaman masa kecilnya yang gemar menonton film. “Saya mengerjakan sesuatu yang sudah saya impikan sejak kecil. Sejak usia lima tahun, saya sudah tahu bahwa saya ingin menjadi sutradara,” ungkap Khozy Rizal, sutradara Little Rebels Cinema Club seusai pemutaran. Penayangan ini juga mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati ruang pemutaran di Rumata’ Artspace.
“Senang sekali karena kita punya kesempatan untuk menonton film dari sutradara muda Makassar Bernama Khozy Rizal dan kesempatan ini juga adalah situasi dan momentum untuk melihat ulang kenyataan atas betapa cintanya kita dengan film dan momentum menonton ‘Litle Rebels Cinema Club’ ini juga menjadi dorongan bagi para pembuat film muda untuk membuat film dengan isu-isu yang personal tapi tidak terlepas dari isu komunal atau isu kolektif dan isu sosial yang sedang berlansung hari ini,” Ucap Rachmat Mustamin selaku Director Rumata’ ArtSpace.
“Film ini sangat dekat dengan saya, ini mengingatkan saya waktu kecil dengan banyaknya klu-klu yang saya lihat difilm ini, saya jujur hampir menangis tadi apalagi di bagian akhir filmnya karena itu seperti cermin yang di mana saya juga mencintai film sejak kecil sama seperti film tadi,” ucap seorang penonton Film Little Rebels Cinema Club seusai pemutaran.
Penulis: Ahmad Muhadir
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2025/09/Screen-Shot-2025-09-22-at-01.11.53.png691920rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2025-09-11 16:53:532025-09-21 17:12:20Tayang Perdana di Makassar, Film ‘Little Rebels Cinema Club’ Karya Khozy Rizal Diputar di Rumata’ ArtSpace
Rumata’ Artspace berkolaborasi dengan Jakarta Film week 2025 dengan menggelar pemutaran film selama 2 hari, Sabtu dan minggu, 6-7 September 2025. Sebanyak sembilan film pilihan ditayangkan langsung di Galeri Rumata’ Art Space untuk publik Makassar sebagai bagian dari rangkaian Road to Jakarta Film Week.
Program ini menghadirkan karya-karya sineas muda indonesia mulai dari drama personal, kisah sosial budaya, hingga eksperimen sinematik. Selama dua hari, penonton disuguhkan sepuluh film yang mewakili keragaman perspektif dan gaya bercerita dalam perfilman Indonesia.
“Kami senang sekali karena dimasa-masa krisis seperti ini menonton film dan bersama sama berdiskusi tentang fim juga upaya untuk membangun masa yang kritis dan kami senang sekali karena menonton kurasi Jakarta Film Week ini juga pada saat yang sama meberikan cerminan atas kenyataan sosial yang juga kita alami di Indonesia dibagian yang lain, meskipun tidak secara spesifik isunya sama tapi ada hal-hal yang Menurut saya yang relevan untk dibuka dan ditingkatkan lagi percakapannya khususnya isu-isu sosial, urban, plural dan bagimana melihat kemajuan kota dalam konteks yang lebih kritis,” ucap Rachmat Mustamin selaku Direktur Program dan Kemitraan Rumata’ ArtSpace
Penayangan ini juga mendapat sambutan hangat bagi para penonton yang memadati ruang pemutaran di rumata’ ArtSpace
“Sebenarnya sangat kompleks ya emosi sangat campur aduk tentunya, berbagai isu tentunya jadi konflik utama dari berbagai film itu, kegiatan-kegiatan ini harus dibiasakan di berbagai tempat karena kita harus membiasakan bahwa film itu bisa jadi media bersuara yang tepat untuk menyuarakan aspirasinya kita,” ucap salah satu penonton.
Dok: Rumata’ Artspace/2025
https://rumata.or.id/wp-content/uploads/2025/09/IMG_3311.heic00rumatahttps://rumata.or.id/wp-content/uploads/2018/10/logo.pngrumata2025-09-11 16:45:552025-09-21 16:52:49Rumata’ ArtSpace Gelar Pemutaran Film Berkolaborasi dengan Jakarta Film Week
Perth Institute of Contemporary Arts (PICA), Rumata’ Artspace, Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Marege Institut dengan bangga mengumumkan Breeze: Perth-Makassar Artist Exchange, sebuah program pertukaran seniman yang didukung oleh Project11.
Breeze: Perth-Makassar Artist Exchange berfokus pada pertukaran ide dan praktik artistik yang dapat membawa perspektif segar, berfokus di Perth (Australia) dan Makassar (Indonesia). Kedua negara ini telah lama dihubungkan oleh ikatan sejarah dan budaya antara penduduk asli Australia dan pelaut dari Makassar yang telah terjalin setidaknya sejak abad ke-17. Program berbasis residensi ini menyediakan platform pertukaran ide, pengumpulan pengetahuan, kesempatan untuk bekerja di lingkungan budaya baru, kolaborasi berkelanjutan, serta eksplorasi jejaring untuk saling bertukar pengalaman-pemaknaan antar budaya antara Perth (Australia) dan Makassar (Indonesia).
Dalam program ini, seniman Makassar diundang untuk mengajukan permohonan residensi selama empat minggu di Perth, Australia. Diberikan kepada satu (1) praktisi setiap tahun, program residensi ini mencakup ruang studio, akomodasi, dan tiket pesawat pulang-pergi bagi seniman untuk menghabiskan waktu di Perth, menjalin hubungan dengan para praktisi lokal, melakukan riset, mengembangkan praktik seni mereka, serta membangun koneksi profesional.
Daftar sekarang : s.id/breezeexchange2026 Daftar sebelum: Senin, 15 September 2025 | Pukul: 23.59 WITA