Dunia Film yang Penuh Kejutan – Diskusi Buku Dokumenter (Kumpulan Tulisan)

Seorang pembuat film dokumenter, akan selalu dipertemukan dengan kejutan-kejutan dan hal tak terduga lainnya. Ia harus siap terombang-ambing di tengah ketidakpastian hasil, meski butuh proses yang lumayan menguras tenaga. Itulah penggalan pesan yang diungkapkan Tonny Trimarsanto kepada peserta, di tengah diskusi bukunya “Dokumenter (Kumpulan Tulisan)”. 

Acara yang digelar atas kerjasama Rumata’ Artspace, Makassar SEA Screen Academy bersama Rumah Dokumenter Klaten ini, dilaksanakan di Rumata’ Artspace, hari Sabtu, 3 Oktober 2025, mulai pukul 15.30 hingga 18.00 WITA. Acara yang dipandu oleh Della Arlinda Birawa, dari Komunitas SINERIA tersebut membahas berbagai problem, mulai dari kerja-kerja kreatif di balik penulisan buku, hingga kekerasan terhadap kelompok minor dan gender, yang merupakan tema besar dari film dokumenter Tonny. 

Diskusi dibuka dengan pertanyaan pembawa acara, mengenai cerita penulis soal proses di balik penulisan buku tersebut. Tonny mengaku, bahwa buku yang ia tulis ini, lahir dari proses yang “organik”, memakan waktu hampir lima tahun. Sebuah buku yang lahir tanpa tuntutan deadline dan ditulis dengan penuh kebahagiaan. 

Ia cukup resah dengan minimnya referensi terkait film di Indonesia. Ditambah lagi, para praktisi film juga enggan mendokumentasikan pengalamannya sebagai sineas ke dalam buku, untuk dibaca orang lain. Dari situlah, niatan Tonny untuk menulis dan melahirkan buku-buku soal film, lahir.

“Ketika membuat film dokumenter, kita harus punya banyak pengetahuan. Maka, membaca dan menulis menjadi hal penting bagi saya,” pungkas Tonny.

Dalam hal menulis, Tonny cukup produktif. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan satu sampai tiga lembar kertas. Seluruh pengalaman Tonny selama puluhan tahun di dunia film, sejak tahun 1990an, didokumentasikan ke dalam buku. Dimulai dari menulis  karya yang membahas Profil Garin Nugroho, ia kemudian terus melanjutkan kiprah sebagai penulis buku-buku tentang film, hingga saat ini.

Perihal proses produksi film dokumenter, Tonny mengungkap bahwa ada keunikan tersendiri di sana. Ada semacam kejutan-kejutan yang sulit diprediksi. Berbanding terbalik dengan film fiksi yang kaku, yang kerap terikat pada skenario. Semua kejutan tersebut, lalu direspons dengan kreativitas, sehingga menghasilkan karya yang menarik. Proses kreatif itu sendirilah, kata Tonny, yang menjadi pengetahuan penting, yang perlu dilestarikan, perlu dibagikan kepada generasi muda.

Saat membantu Garin Nugroho pada 1995 lalu, ia bercerita tentang pengalaman tak terduga, saat proses syuting sebuah film gagal. Padahal, semua persiapan kru telah disiapkan, namun anak-anak yang berperan sebagai subjek dalam film tersebut, tiba-tiba pergi meninggalkan lokasi. Alasan mereka adalah kelelahan dan rasa bosan saat proses pengambilan gambar berlangsung.

Di tempat lain, Tonny juga bercerita tentang pengalaman merekam sebuah upacara adat di Sumba pada 2017 lalu. Saat itu, upacara yang mulanya berjalan damai, tiba-tiba berubah menjadi medan konflik, karena salah paham antar oknum peserta. Akibatnya, konflik pun melibatkan aparat, sehingga mereka terpaksa melepas tembakan untuk melerai konflik. Aktivitas produksi pun terpaksa terhenti.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *