Pemutaran Film Dokumenter ‘Under The Moonlight’: Memotret Kehidupan Komunitas Transgender

Film dokumenter berjudul “Under The Moonlight” garapan Tonny Trimarsanto diputar pada jum’at malam, 3 oktober 2025 di Rumata’ ArtSpace. Pemutaran film ini adalah rangkaian kegiatan dari program bertajuk ‘Merekam Realita, Merangkai Sinema’ yang diselenggarakan oleh Rumata’ ArtSpace dan Makassar SEA Screen bekerja sama dengan Rumah Dokumenter Klaten yang berlangusng salama dua hari di Makassar.

Film Under the Moonlight berdurasi sekitar 1 jam 25 menit itu ditulis sekaligus disutradarai oleh Tonny Trimarsanto, dan diproduseri oleh Tonny Trimarsanto bersama Es Damayanti dan John Badalu. Film ini mengangkat tema minoritas dan gender dengan memotret realita hidup komunitas transgender di pondok pesantren Al-Fatah di Yogyakarta, yang semua murid dewasa di pesantren ini adalah transgender. 

Pada tahun 2024, film Under the Moonlight (Nur) menyabet penghargaan sebagai film dokumenter panjang terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI). Dokumenter ini adalah film ke lima Tonny Trimarsanto yang bercerita tentang transpuan, setelah film pertamanya Renita Renita (2005), lalu Mangga Golek Matang di Pohon (The Mangoes, 2012), Bulu Mata (2016), dan Pada Suatu Hari Nanti (Someday, 2021).

Tonny menuturkan eksplorasi tema minoritas gender khususnya transpuan, ia geluti karena persoalan kekerasan, diskriminasi, dan pengucilan komunitas transpuan di masyarakat tidak pernah selesai. “ketika saya membuat film Renita Renita tahun 2006, film ini saya kerjakan 20 tahun yang lalu, dan hari ini tidak selesai persoalannya” kata Tonny dalam acara diskusi setelah penayangan film Under the Moonlight, di ruang galeri Rumata’ ArtSpace, Makassar.

Dalam diskusi, Tonny bercerita bahwa awal film ini dikerjakan bersamaan dengan film Bulu Mata yang pengambilan syutingnya di Bireuen, Aceh. Namun karena beberapa pertimbangan, pengerjaan film diprioritaskan hanya yang di Bireuen. Tapi Tonny telah terlanjur melakukan riset di Yogya, Lokasi syuting film Under the Moonlight, ia merasa sayang dengan kedekatan hubungan yang telah ia bangun, jadi proses pengerjaan film ini tetap dilanjutkan.

“Ketika saya kenal dengan teman-teman transpuan di pondok pesantren itu hubungannya sudah baik, jadi saya sayang kalau putus. Bahwa dokumer itu selalu berangkat dari akses, ketika sudah ada akses, saya harus menggunakannya sebaik mungkin.” Kata pria asal Klaten itu.

Membuat film bertema transpuan, menurut Tonny, memiliki serangkaian pola-pola atau strategi yang harus digunakan agar dapat memahami dan merasakan kompleksitas hidup komunitas transpuan. Tonny senantiasa untuk mencoba memahami, belajar bagaimana berada di antara transpuan, tidak menjadi orang yang asing tapi menjadi bagian dari teman-teman transpuan. 

Eman Memay Harundja, dari Kerukunan Waria Bissu Sulawesi Selatan (KWRSS), menyatakan apresiasinya terhadap film karya sineas documenter Tonny Trimarsanto.

Menurut Eman, gambaran kehidupan yang ditampilkan dalam isi film itu adalah realitas yang dialami waria dalam hidup dan di dunia kerja sehari-hari. Eman menceritakan kisah hidupnya yang mengharuskannya hidup dengan penuh stigma, stereotipe, pelabelan negatif, dan anggapan-anggapan yang memarjinalkan kehidupan para transpuan di masyarakat.

“Bukan karena ketidakmampuan kami bekerja, tapi memang ada faktor struktural yang kemudian menyerang di tengah-tengah pencarian identitas kami. Bahwa stigma yang dilekatkan kepada kami di masyarakat, itu mempangaruhi kepercayaan diri kami. Belum lagi aturan negara yang hanya melihat gender antara laki-laki dan Perempuan.” Terang Eman.

Dia berharap agar kisah-kisah minoritas gender, khususnya kisah tentang Bissu di Sulawesi Selatan dapat diangkat melalui film serupa dan dapat diperbincangkan melalui ruang dialog.

Selama ini, kata Tonny, perlakuan tidak adil yang diterima oleh para komunitas minoritas gender adalah hasil ciptaan masyarakat. Masyarakatlah yang menjadi penyebab minoritas gender mengalami ketidakadilan dan diskriminasi. Kita, lanjut Tonny, tidak pernah memahmi mereka secara utuh pada ruang personal, kondisi kertebatasan dan terhimpitnya kehidupan sosial ekonomi para komunitas-komunitas gender ini. 

Di akhir diskusi, Tonny dengan jujur mengatakan bahwa ada hal-hal yang tidak pernah bisa diungkapkan lewat film dokumenter, meskipun begitu ia mengingatkan untuk memberikan dan membuka seluas-luasnya ruang percakapan bagi isu-isu minoritas serta isu-isu serupa.

“Saya kira menjadi penting untuk memberikan ruang percakapan bagi isu-isu minopritas. Isu yang memang tidak pernah punya ruang cakap, ruang dialog yang bebas dalam bentuk media film seperti ini.” tutupnya dengan wajah sumringah.

Dunia Film yang Penuh Kejutan – Diskusi Buku Dokumenter (Kumpulan Tulisan)

Seorang pembuat film dokumenter, akan selalu dipertemukan dengan kejutan-kejutan dan hal tak terduga lainnya. Ia harus siap terombang-ambing di tengah ketidakpastian hasil, meski butuh proses yang lumayan menguras tenaga. Itulah penggalan pesan yang diungkapkan Tonny Trimarsanto kepada peserta, di tengah diskusi bukunya “Dokumenter (Kumpulan Tulisan)”. 

Acara yang digelar atas kerjasama Rumata’ Artspace, Makassar SEA Screen Academy bersama Rumah Dokumenter Klaten ini, dilaksanakan di Rumata’ Artspace, hari Sabtu, 3 Oktober 2025, mulai pukul 15.30 hingga 18.00 WITA. Acara yang dipandu oleh Della Arlinda Birawa, dari Komunitas SINERIA tersebut membahas berbagai problem, mulai dari kerja-kerja kreatif di balik penulisan buku, hingga kekerasan terhadap kelompok minor dan gender, yang merupakan tema besar dari film dokumenter Tonny. 

Diskusi dibuka dengan pertanyaan pembawa acara, mengenai cerita penulis soal proses di balik penulisan buku tersebut. Tonny mengaku, bahwa buku yang ia tulis ini, lahir dari proses yang “organik”, memakan waktu hampir lima tahun. Sebuah buku yang lahir tanpa tuntutan deadline dan ditulis dengan penuh kebahagiaan. 

Ia cukup resah dengan minimnya referensi terkait film di Indonesia. Ditambah lagi, para praktisi film juga enggan mendokumentasikan pengalamannya sebagai sineas ke dalam buku, untuk dibaca orang lain. Dari situlah, niatan Tonny untuk menulis dan melahirkan buku-buku soal film, lahir.

“Ketika membuat film dokumenter, kita harus punya banyak pengetahuan. Maka, membaca dan menulis menjadi hal penting bagi saya,” pungkas Tonny.

Dalam hal menulis, Tonny cukup produktif. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan satu sampai tiga lembar kertas. Seluruh pengalaman Tonny selama puluhan tahun di dunia film, sejak tahun 1990an, didokumentasikan ke dalam buku. Dimulai dari menulis  karya yang membahas Profil Garin Nugroho, ia kemudian terus melanjutkan kiprah sebagai penulis buku-buku tentang film, hingga saat ini.

Perihal proses produksi film dokumenter, Tonny mengungkap bahwa ada keunikan tersendiri di sana. Ada semacam kejutan-kejutan yang sulit diprediksi. Berbanding terbalik dengan film fiksi yang kaku, yang kerap terikat pada skenario. Semua kejutan tersebut, lalu direspons dengan kreativitas, sehingga menghasilkan karya yang menarik. Proses kreatif itu sendirilah, kata Tonny, yang menjadi pengetahuan penting, yang perlu dilestarikan, perlu dibagikan kepada generasi muda.

Saat membantu Garin Nugroho pada 1995 lalu, ia bercerita tentang pengalaman tak terduga, saat proses syuting sebuah film gagal. Padahal, semua persiapan kru telah disiapkan, namun anak-anak yang berperan sebagai subjek dalam film tersebut, tiba-tiba pergi meninggalkan lokasi. Alasan mereka adalah kelelahan dan rasa bosan saat proses pengambilan gambar berlangsung.

Di tempat lain, Tonny juga bercerita tentang pengalaman merekam sebuah upacara adat di Sumba pada 2017 lalu. Saat itu, upacara yang mulanya berjalan damai, tiba-tiba berubah menjadi medan konflik, karena salah paham antar oknum peserta. Akibatnya, konflik pun melibatkan aparat, sehingga mereka terpaksa melepas tembakan untuk melerai konflik. Aktivitas produksi pun terpaksa terhenti.

Rumata’ ArtSpace, United Screen dan Forum Sirkulasi Film di Think Well Empat: “Kelindan dalam Sedulur”

Jakarta, 6 Oktober 2023 – Rumata’ ArtSpace ikut terlibat dalam acara penting dalam dunia perfilman dengan menyelenggarakan simposium “KELINDAN DALAM SEDULUR: THINK WELL EMPAT.” Simposium ini adalah edisi keempat dari rangkaian acara yang bertujuan untuk merevolusi ekosistem distribusi dan sirkulasi film.

Simposium yang digelar di Jakarta ini menarik perhatian praktisi sinema, kolektif, ahli teknologi, dan pemikir sistem dari berbagai belahan dunia. Dengan menyediakan ruang untuk sekitar 60 peserta, acara ini bertujuan untuk membuka jalur komunikasi dan berkolaborasi dalam merenungkan dan mengubah cara film disebarkan di era digital.

Salah satu aspek menarik dari simposium ini adalah semangat nongkrong dan sedulur yang disajikan oleh Savvy Contemporary (Berlin) dan Forum Lenteng (Jakarta). Ini menciptakan ruang yang nyaman dan kolaboratif bagi peserta untuk berkumpul, bermain bersama, dan merenungkan konsep-konsep baru tentang sirkulasi filem. Pendekatan ini mencoba menghapus batasan konvensional dalam institusi dan sistematis, seperti yang diilustrasikan oleh konsep “ruang-ruang anarkis” untuk meredefinisikan alur sirkulasi film dari perspektif komunitas.

Simposium ini juga mencakup eksplorasi teknologi-teknologi terdesentralisasi yang dapat membantu membumikan praktik-praktik sirkulasi komunitas. Para peserta akan mempertimbangkan infrastruktur yang diperlukan untuk membangun jaringan sirkulasi sinema yang lebih terdesentralisasi. Kata “sedulur,” yang berarti persaudaraan atau kekerabatan dalam bahasa Jawa dan Sunda, menjadi tema utama simposium ini. Ini mencerminkan semangat kolaboratif dan persaudaraan antara peserta dalam merenungkan dan merevolusi ekosistem distribusi film.

Selama empat hari, simposium ini mencatat perkembangan dan pemikiran dalam produksi kolektif zine, yang merupakan cara kreatif untuk mengabadikan ide-ide dan pandangan yang muncul selama acara ini. Ini memungkinkan peserta untuk berbagi hasil pemikiran mereka dengan masyarakat lebih luas.

Simposium “KELINDAN DALAM SEDULUR: THINK WELL EMPAT” adalah contoh nyata bagaimana Rumata’ ArtSpace mendukung dan terlibat dalam pertukaran gagasan dan kolaborasi lintas budaya dalam rangka merevolusi dunia distribusi film, yang berpotensi membawa perubahan signifikan dalam cara filem disebarkan dan diapresiasi oleh masyarakat lokal-global.